Tinggalkan komentar

Test Keterbacaan dan Kejelasan suatu font

Legibility biasanya diuji lewat kecepatan dan ketepatan membaca, dengan skor pemahaman atas apa yang dibacanya secara efektif, bukan membaca sambil lalu yang tanpa disertai pemahaman. Sebagai contoh, Miles Tinker seorang ahli yang telah mempublikasikan beberapa studi yang dilakukan antara tahun 1930an hingga 1960an. Ia menggunakan test membaca cepat yang memerlukan sejumlah partisipan untuk membaca beberapa kata-kata yang jarang dipakai (tidak populer) sebagai filter yang efektif.

Sementara pengujian readability dilakukan pada unit cetak di Royal College of Art Inggris, yang dilakukan oleh Professor Herbert Spencer, Brian Cole dan Linda Reynold telah menghasilkan kesimpulan sebagai berikut.

Ketika para partisipan (para relawan yang di test) membaca serangkaian teks, maka para ahli melakukan pengamatan terhadap perubahan wajah dan gerakan kornea mata (menggunakan ilmu physiognomy, yaitu ilmu tentang wajah).

Disini ditemukan suatu hubungan yang nyata antara beban mata ketika membaca teks dengan keterbacaan yang tinggi (dibaca dengan lancar) dan keterbacaan yang rendah (dibaca agak kurang lancar). Pada saat membaca, mata para pembaca dengan irama gerakan kornea mata mampu menangkap (dan memahami artinya) 3 kata sekaligus dalam suatu baris yang sedang dibaca.  

Jika sapuan pandangan mata telah melebar mencapai 3 hingga 4 baris sekaligus, maka artinya konsentrasi mata dalam membaca telah terpecah (istilah dalam ilmu kedokteran saccadic jump) yang berarti mata telah lelah mengikuti baris yang dibaca. Hal ini menyebabkan materi teks yang dibaca tidak sepenuhnya benar diterima otak, bahkan bisa salah penangkapannya. Dari hasil itulah para ahli menemukan range nilai readability suatu typeface yang di uji cobakan. Selain itu diperoleh kesimpulan pada saat membaca teks yang readabilitynya rendah, kornea mata menunjukkan tingkat ketegangan (secara ekstrim dikatakan melotot) yang lebih tinggi sehingga cepat lelah. Jika mata telah lelah maka efektifitas terserapnya isi teks ke dalam otak akan menurun, jadi membaca teks berlembar-lembar halaman namun pemahaman yang tertangkap rendah.

Dapat Anda bayangkan jika sebuah buku teks atau buku pelajaran ditulis menggunakan pilihan aksara yang readabilitynya rendah, maka ilmu yang dibacanya akan lebih sulit dicerna otak karena kwalitas keterbacaannya yang rendah.

Dewasa ini riset yang dilakukan untuk menguji tingkat legibility hanya dilakukan terbatas pada hal-hal yang dianggap sangat penting saja. Mengingat riset semacam ini memerlukan biaya yang cukup besar.  Sebagai contoh pengujian khusus pada desain typeface baru yang dipergunakan pada kegunaan tertentu, misalnya aksara untuk orang yang memiliki keterbatasan dalam penglihatan (orang berkaca mata minus maupun plus) atau pengujian pada typeface yang digunakan pada sign board di jalan raya.  Termasuk ketika memilih typeface untuk mencetak buku bagi anak-anak yang baru dalam tahap belajar membaca.

Untuk memahami bagaimana suatu type-face memiliki sifat keterbacaan yang baik  ada beberapa hal yang harus kita perhatikan.

Isi lebih lanjut dari artikel ini dapat anda baca pada buku saya yang berjudul:

“Pengantar Tipografi untuk pemakai CorelDRAW, InDesign, Illustrator dan Photoshop, dll” – Adi Kusrianto – Elex Media Komputindo, 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: