Tinggalkan komentar

Sejarah Iklan dari Iklan Bersejarah

Kita sering membaca sejarah tentang tokoh-tokoh masa lalu. Tentang organisasi pergerakan nasional Boedi Oetomo misalnya, atau sejarah tentang kehidupan para pahlawan nasional di jaman pra kemerdekaan. Tapi tahukan Anda, di jaman Boedi Otomo itu orang-orang menggunakan batterey merk apa ? mandi dengan sabun merk apa?, kalau mereka pusing obat apa yang diminum ? Kalau perut kembung digosok pake balsem merk apa ? Listrik belum banyak dipasang didaerah-daerah jaman itu, lalu mereka pake lampu penerangan merk apa ?

Ha, tentu saja para ahli sejarah tidak sempat mencatat fenomena kehidupan pribadi saat itu. Tetapi sebagai gambaran keadaan tempo doeloe kita bisa membayangkan kehidupan orang-orang yang hidup diatas 50 tahun yang lalu dengan melihat iklan-iklan yang dipasang pada media-media cetak saat itu.

Tahukah Anda bintang iklan sabun Lux tahun 50an ?. Ternyata salah satunya adalah Mak Nyak, alias Aminah Tjendrakasih. Kebayang nggak bagaimana tampilan model iklan itu ? Ya pake kebaya dan berkonde, kan waktu itu kita masih Indonesia banget.

Tahukah Anda, siapakah orang Indonesia paling berhasil di tahun 50 an ? Namanya Giman. Ya Giman selalu berhasil, karena ia selalu makan roti berlapis Blue Band. “Giman selalu berhasil” adalah kata-kata iklan yang paling populer selama tahun 1956 hingga 1960, sama seperti kata-kata “Wes ewes ewes..bablas angine…” di tahun 2000 an.

Disisi lain, bagi para pengamat sosial, marketing dan terlebih para peminat grafis, ini adalah referensi yang sangat berharga tentang bagaimanakah pergeseran dibidang tehnologi pembuatan grafis dari dasawarsa ke dasa warsa.

Buku ini menampilkan koleksi iklan-iklan yang dimuat pada media cetak yang terbit pada tahun 1926an, 30an 40an, 50an hingga awal 80an. Ternyata banyak yang dapat kita ungkap dari iklan-iklan tersebut, mengingat iklan sebenarnya adalah suatu bentuk gambaran terhadap tingkat kebutuhan masyarakat, gaya hidup, cara pandang dan tentu saja pola konsumsi.

Tahun 50an hingga 60an obat-obatan yang diiklankan meliputi obat pusing sejenis Aspirin, balsem serta bedak talk. Disamping itu para konsumen masih sangat kental mengkonsumsi jamu tradisional semacam Jamu cap Jago, Jamu Ibu dsb. Bergeser ke dasawarsa 60an kita mulai mendapati konsumsi obat atau makanan supplement seperti vitamin dan sirup penambah darah alias tonikum. Apakah saat itu orang belum butuh obat pembangkit energi (alias obat kuat ?) sejenis Hemaviton Jreng atau Irex misalnya. Padahal rata-rata saat itu kebanyakan orang Indonesia tubuhnya masing kurus-kurus, jadi masih kurang darah barangkali sehingga belum butuh obat kuat. Apakah saat itu konsumen belum terpikir untuk menambah stamina ? Bisa jadi, karena yang penting seger waras (tidak sakit) itu sudah nikmat. Obat sampingan yang ditawarkan mulai tahun 50an adalah Pil Kita (jadi ini cikal bakalnya obat pembangkit energi), Obat Kuat Lelaki dan Anggur Kolesom untuk Pria, Anggur Beranak (untuk wanita). Istilah beranak rupanya saat itu belum dianggap terlalu kasar hingga pada suatu periode istilah itu berganti menjadi bersalin. Yang beranak itu kucing dan anjing.

Sejak dasawarsa 30an konsumsi kemewahan yang ditawarkan untuk kalangan intelek menengah ke atas adalah rokok Davros (rokok non kretek produk Eropa), bubuk coklat merek Dresco, Tepung Maizena merk Duryea, Biskuit merk Empat Sinyo, Cornet Beef. Produk tekstil diawali dengan tekstil keluaran Tootal (dari produsen tekstil asal Inggris) yang mengiklankan dasi, sapu tangan, bahan pakaian dengan corak tenun maupun corak printing. Saat itu produk pakaian jadi belum populer. Paling dipasar desa, konsumen dapat membeli celana kolor siap pakai, sarung (kadang-kadang sarungnya juga belum dijahit), udheng (ikat kepala), dhestar (semacam topi dari kain), jarit, selendang, setagen, entrok (kutang lebar yang belakangan dipakai Madona tanpa baju luar lagi).

Memasuki dasawarsa 40an sabun Lux mulai di iklankan dengan iming-iming kulit pemakainya akan se lembut bintang film Hollywood Ginger Roger. Tapal gigi Gibbs juga mulai diiklankan di akhir 40an, baru menjelang tertengahan 50an tapal gigi dalam bentuk tube bermerk Pepsodent iklannya muncul.

Waktu masih bermerk Gibbs tapal gigi ini dikemas dalam kaleng mirip kaleng semir sepatu. Iklannya gencar sekali, bahkan ada komiknya dengan tokoh Kapten Gibbs. Penulis tidak menemukan iklan tapal gigi merk Odol yang sudah ada sejak tahun 20an sehingga membuat semua tapal gigi selanjutnya disebut Odol. Mestinya waktu itu Odol yang menjadi market leader. Bisa jadi suatu produk populer dikalangan konsumen karena dominasi produk (belum memiliki pesaing atau substitusinya) sehingga belum merasa perlu membuat iklan.

Margarin lebih dulu diiklankan sebelum Mentega. Awal tahun 50an Margarin merk Palmboom gencar diiklankan, baru pertengahan tahun 50an Mentega merk Blue Band muncul iklannya. Tidak ada penjelasan apa bedanya Margarin dan Mentega, kedua-duanya untuk mengoles roti, menumis, menggoreng dan bikin roti. Minyak goreng (dari kelapa sawit) belum populer dijual di toko-toko atau pasar, karena orang lebih percaya membuat sendiri minyak kelapa.

Hingga tahun 60an belum nampak iklan dari jenis minuman ringan seperti limun, air soda apa lagi iklan tentang beer. Nama minuman Coca Cola mulai muncul melalui cerita detektif Naga Mas tulisan Grady yang banyak dibaca orang. Karena minuman ini diminum tokoh detektif yang heroik, maka image bahwa itu adalah jenis minuman yang enak dan wah mulai merasuki benar khayal pembaca. Tapi banyak yang kecewa bahwa ternyata Coca Cola itu rasanya mirip jamu, bukan seperti limun kebanyakan yang dikenal masyarakat saat itu. Limun merek Java atau lebih dikenal lagi Bir temulawak. Limun Belanda yang dikenal sejak tahun 50an adalah Oranyekrus dan Sarsaparila bikinan F&N (dibacanya EF-EN). Tidak ada iklannya di media massa saat itu. Iklannya hanya berupa poster yang ditempel di restoran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: