8 Komentar

Suwun yo sowane

suwun sowane

Keganjilan yang menggelitik mana kala di Surabaya maupun Sidoarjo kita mendengar cara berbahasa Jawa yang salah kaprah. Kesalahkaprahan ini sudah berjalan bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun tanpa ada yang mengoreksi, dan bukan tidak mungkin kesalah kaprahan ini akan menjadi baku ketika media sudah ikut menggunakan dan mendukung kesalahkaprahan ini.
Strata dalam berbahasa
Sebagaimana kita diketahui bahwa dalam bahasa Jawa terdapat tiga strata (tingkatan dalam penggunaan), yaitu Bahasa Jawa ngoko yang dipergunakan untuk masyarakat umum dalam percakapan sehari-hari atau digunakan berkomunikasi kepada sesama orang yang sudah akrab tanpa memandang tingkatan. Selain itu ada Bahasa Jawa kromo (madyo = menengah), yang biasa dipergunakan antar orang yang saling menghormat, atau seorang anak kepada orang tua (bapak, ibu, paman, bulik, pak de, bu de, kakek nenek dsb), kepada orang yang dihormati seperti pada orang lain yang lebih tua, guru, pejabat, orang yang baru dikenal dsb. Strata yang dianggap lebih tinggi dalam Bahasa Jawa adalah kromo inggil. Dahulu bahasa ini dipergunakan di kalangan bangsawan baik di kraton maupun di luar kraton, tetapi ketika tradisi feodal sudah dihilangkan, kromo inggil menjadi bahasa dikalangan orang “berpendidikan” sebagai tatanan yang dianggap lebih santun.
Penggunaan bahasa kromo madyo dan kromo inggil tidak melulu terpakai dalam suatu percakapan atau dalam kalimat utuh, tetapi juga penggunaan kosa kata tertentu yang ditujukan kepada lawan bicara kita. Misal, untuk menyebut kata rumah, bahasa Jawa ngoko adalah omah, kromo madyo griyo, kromo inggil dalem. Didalam praktek penggunaan, saya (bentuk orang pertama) akan menyebut menggunakan strata yang lebih rendah bila dibanding lawan bicara kita yang kita hormati. Jadi contohnya begini: “Mbak Yati, arisane mari nang dalem sampeyan wulan ngarep ganti nang omahku yo” (Mbak Yati, arisannya setelah dari rumah sampeyan bulan depan ganti di rumahku ya). Jika disampaikan dalam ungkapan kromo madyo ala Suroboyoan bentuknya: “Mbak Yati, arisane mantun teng nggen (kependekan dari dateng panggenan) sampeyan wulan ngajeng teng nggen kulo nggih”.Sedangkan bila dalam bahasa kromo inggil “Mbak Yati, arisanipun sak sampunipun dateng dalem panjenengan wulan ngajeng dateng griyo kulo nggih”. Kosa kata panggenan untuk menggantikan kata omah, griyo atau dalem, merupakan bentuk “istilah” yang dianggap netral diluar strata yang ada. Tetapi istilah ini hanya layak digunakan dalam berbicara diantara orang yang dalam strata yang sama. Kata strata jangan di tangkap sebagai tingkatan yang mirip dengan istilah kasta dalam bangsa India atau agama Hindu, tetapi sekedar tingkatan bersopan santun antar tua, muda, rasa segan atau hormat kepada lawan bicara.
Kepleset, bukan Plesetan
Nah disinilah pokok permasalahannya. Ketika urbanisasi menyerbu Surabaya dan meluber hingga Sidoarjo, maka usaha orang Surabaya “asli” dan Sidoarjo “asli” untuk menyesuaikan diri dengan kaum urban yang berasal dari daerah Mentaraman (Kediri, Madiun, Tulungagung, Blitar, Ponorogo, Pacitan, Tuban, Bojonegoro dan terus kebarat) muncullah penggunaan bahasa Jawa kromo yang salah penempatan. Misalnya kata mandi dalam bahasa Jawa ngoko (bahasa biasa) adalah adus, sedang bahasa kromo nya adalah siram. Seharusnya penggunaan untuk diri sendiri, selalu menggunakan bahasa yang merendah, yaitu menggunakan kata adus, bukan siram. Sedangkan siram layak digunakan untuk lawan bicara atau bentuk orang ketiga yang dihormati. Sehingga muncullah ungkapan olok-olok : Bapak sare, kulo siram. Yang artinya menjadi Bapak sedang tidur (lalu) saya guyur air. Wah-wah, sungguh ter..la..lu.. kalau begitu.
Demikian juga kata sowan yang berarti datang berkunjung untuk Bahasa Jawa kromo (madyo) maupun kromo inggil. Sedang dalam Bahasa Jawa ngoko sowan adalah dolan, nekani, marani. Contoh penggunaan: “Sesuk aku dolan nang omah sampeya yo” (Besok saya berkunjung ke rumahmu ya). Atau contoh lain : “Mas, matur nuwun yo wis kerso dolan/ nekani/ rawuh nang omahku” (Mas, terima kasih ya telah sudi berkunjung ke rumahku). Bukan menggunakan bahasa kromo dari berkunjung yaitu sowan. Karena sowan adalah berkunjung bagi cucu kepada kakek, murid kepada guru/ ustadz, warga masyarakat kepada gubernur. Jadi bukan “Kapan sampeyan sowan nang omahku”, “Suwun yo sowane”. Please deh,.. ini benar-benar bukan plesetan, tetapi ini yang namanya kepleset. Masih banyak ungkapan yang digunakan salah kaprah dikalangan masyarakat metropolis Surabaya. Bagi orang yang mengerti penggunaan Bahasa Jawa, sayangnya hanya sekedar tersenyum saja. Ini sikap toleransi yang sebenarnya justru menyesatkan, karena yang salah akan semakin salah karena sejak dulu dia menggunakan kosa kata itu tidak ada yang membetulkan (mengkoreksi). Jadi ya dianggap seperti itu yang betul. Bagi masyarakat Mentaraman, atau yang paham penggunaan Bahasa Jawa sikap diamnya itu karena kawatir jika ia mengoreksi penggunaan kosa kata yang tidak pada tempatnya justru akan membuat malu lawan bicaranya.
Sayang memang. Untuk urusan berbahasa daerah, kita tidak memiliki ajang atau media yang tepat untuk melakukan sosialisasi. Para ahli bahasa menganggap fenomena berbahasa di kota metropolis ini adalah sekedar suatu keniscayaan, dan tidak perlu di urusi secara serius. Cobalah memperhatikan bahasa yang umum digunakan pada acara temu warga maupun pengajian di kampung-kampung pinggiran Surabaya dan Sidoarjo. Kebanyakan para tokoh masyarakat dan da’i yang memberikan ceramah, mereka adalah pengguna aktif bahasa Surabaya yang mencoba menggunakan kromo madyo ala Suroboyoan. Karena ketidak mampuannya dalam berbahasa kromo madyo secara lengkap, maka mereka dengan sengaja (atau tidak sengaja) mencampurkan dengan bahasa Indonesia. Akankah fenomena berbahasa ini mampu membentuk bahasa urban Suroboyo pinggiran yang unik.
Jadi jika saya harus menyampaikan kepada Cak Dullah, saya akan menggunakan kalimat seperti ini: “Cak Dul, suwun yo wis dolan nang omahku, mene-mene aku arep sowan nang embah sampeyan yo cak…”.
***
Adi Kusrianto
Urbanis yang telah 43 tahun menjadi warga kota Suroboyo, tinggal di kecamatan Rungkut

8 comments on “Suwun yo sowane

  1. Pak Assalamualaikum. Kalau semisal kata “peno” yang artinya kamu, “aran” artinya aku, “nedho nrimo” artinya terima kasih padahal kalau diartikan dari bahasa mentaraman kalau saya pilah pilah nih pak (Nedho = Makan, Nrimo = terima) jadinya terima makan donk pak. Jelasin donk Pak ke anak muda ini yang selalu ingin belajar, hehehe. Terima Kasih

    • “aran” artinya nama bukan aku. Kata-kata “nedo-nrimo” = matur nuwun, “sepurane” = mohon maaf, “jange”= akan, “mene” = besok, “ngleset” = tiduran, “diberseni” = dibersihkan dll adalah bahasa asli suroboyoan dan tidak perlu di urai kata demi kata, apa lagi dibanding dengan bahasa mentaraman.

  2. makasih infonya Pak Adi. Pak Adi besok rencana ke kampus kah ?

  3. Insyaallah, selasa saya ada urusan di IBM

  4. pak…maaf mau tanya
    ada situs resmi untuk belajar bahasa jawa
    mohon infonya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: