Tinggalkan komentar

Personal Branding Pada Produk Kuliner

Adi Kusrianto

Dalam dunia seni kuliner, sudah sejak dahulu kala kita mengenali bahwa kepandaian seseorang dalam memasak merupakan “branding” yang seringkali melekat pada diri seseorang. Sehingga kalau kita menyebutkan nama suatu masakan tradisional, maka diantara kita pasti akan menyebut nama seseorang (atau nama merk/ nama tempat) untuk mengidentifikasi nama favorit untuk masakan tersebut.
Bicara kuliner di Surabaya, kalau saya menjejerkan nama-nama berikut ini:
Bu Kus
Pak Sadi
Bu Rudy
Wawan
Bu Kris
Pak Jayus
Cak Mat
Pak Seger
Pak Pendek
Suharti
Mbok Berek
Mbok Rah
Mbah Darmo
Nama-nama diatas adalah nama orang. Nama pemilik usaha. Nama mereka sadar atau tidak, telah menjadi Brand bagi produknya. Sebagian dari Anda yang akrab dengan Surabaya, pastilah akan dapat menyebutkan diskipsi lebih lanjut dari nama-nama tadi.
Misalnya:
Pecel Madiun Bu Kus.
Soto Ayam Pak Sadi.
Sambal Bu Rudy atau nasi Udang Bu Rudy.
Soto Madura Wawan.
Penyetan Bu Kris
Soto Ayam Pak Jayus
Sate Ayam Madura Cak Mat
Sate Ayam Ponorogo Pak Seger
Nasi Goreng Khas Kediri Pak Pendek
Ayam Goreng Ny. Suharti
Ayam Goreng Prambanan Mbok Berek.
Nasi Pecel Mbok Rah.
Pecel Tumpang Mbah Darmo
dan masih segudang lagi nama-nama yang telah menjadi “Product Branding”.
Branding tersebut belum tentu merupakan gambaran kwalitas tertinggi di kelas mereka, tetapi orang bisa membayangkan dan mengukur masing-masing brand tersebut. Misalnya, jika Anda ditawari mau makan Soto Ayam Pak Sadi atau Soto Ayam Pak Jayus. Atau makan sate Madura Cak Mat atau sate Ponorogo Pak Seger.

Yang membedakan posisi rangking mereka adalah positioningnya. Misalnya Soto Ayam Pak Sadi dengan rasa khas Soto Ayam Lamongan dengan daging ayam kampung yang gurih, ditambah poya, sambal dan jeruk nipis. Harganya lebih mahal dibanding Soto Ayam Pak Jayus. Walaupun porsinya sedikit lebih besar, soto Pak Jayus yang juga akar menunya dari Lamongan ini menggunakan dagingnya ayam negeri. Harganya cukup terpaut dibanding harga Soto Pak Sadi.
Anda bisa mengambil gambaran lain, misalnya Pecel Bu Kus yang berselera Madium gabungan antara pedas dan manis. Sajian ala resto, sekalipun disajikan diatas pincuk, ditata dengan rapi dengan sayur dan bumbu pecel yang berlimpah, peyek yang juga sampai nasinya habis tetapi peyeknya masih ada. Pokoknya selera penggemar nasi pecel dibuat puas…puass…puasss.
Bagi selera Suroboyo asli (non urban), nasi Pecel Mbok Rah yang awalnya hanya buka di daerah Tugu Pahlawan, konon penjualnya suka jutek terhadap pembeli, tapi punya segment penggemar pecel yang berbeda. Nasi pecelnya cenderung pedes, dikombinasikan dengan sayur lodeh, tempe, tahu, jerohan. Secara default peyeknya tidak terlalu banyak. Tetapi Anda dapat memesan secara personal satu piring. Mbok pecel yang bagi beberapa pembeli dimerki sebagai penjual yang jutek ini membuka cabang di beberapa lokasi.
Dapatkah Anda membayangkan jika karena gagal berjualan soto ayam, Pak Jayus banting stir membuka “Bakwan Malang Pak Jayus”?

Atau Pak Sadi melakukan deversifikasi usaha sehingga warungnya bernama “Soto Ayam dan Pecel Tumpang Pak Sadi”?
Hei, itulah Branding Bro. Personal Branding. Branding yang melekat pada nama seseorang. Seperti nama yang melekat pada teman saya yang sama-sama bernama Sukarso, dan nama panggilannya Pak Karso. Yang satu di juluki Pak Karso Lamongan karena rumahnya di Lamongan, dan yang lain Pak Karso Kaca mata, karena kaca matanya yang khas berwarna hitam tebal. Jika menyebut Pak Karso Lamongan orang tidak akan salah membayangkan yang berkaca mata hitam dan tebal. Nah. itu juga branding. Branding memang bukan selalu merek dagang lho.
***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: