Tinggalkan komentar

Manajemen Seorang Kernet Bus

Dr. Yusak Anshori

LEBARAN berarti pula mudik, pulang kampung. Bagi yang tak memiliki kendaraan untuk transportasi mudik, Lebaran berarti pula perjuangan untuk berebut kursi bus atau kereta api dengan yang lain.

Ngomong-ngomong, bagi Anda yang harus berebut kursi bus dengan calon penumpang lain untuk mudik Lebaran, tahukah bahwa bus yang Anda naiki saat itu melakukan diskriminasi terhadap para penumpangnya? Rasanya tak banyak yang mengetahuinya.
Misal, sebuah bus umum kelas ekonomi melayani trayek Yogya –Surabaya-Banyuwangi pp, dan berangkat dari Terminal Bus Umbulharjo, Yogya. Kepada setiap calon penumpangnya, sang kernet bus akan bertanya: “Mau kemana, Pak?” Jika calon penumpang menyatakan ingin ke Solo, sang kernet dengan cepat akan menolaknya, dan melarang calon penumpang naik bus. “Maaf, bus sudah penuh. Pakai bus yang sebelah saja”. Atau “Tunggu bus lainnya”. Tapi jika calon penumpang mengatakan hendak ke Probolinggo, kernet bus dengan tangkas membantu calon penumpang naik ke bus. Bila perlu membantu mengangkat barang bawaan calon penumpang.
Calon penumpang yang sudah mengetahui taktik sang kernet pasti akan menjawab: “Ke Surabaya”, meski mungkin hanya sampai Solo atau Madiun, atau malah hanya sampai Klaten. Yang seperti ini biasanya berbuntut dengan pertengkaran mulut di dalam bus, saat sang kondektur menarik bayaran dari penumpang. Biasanya sang kondektur mengalah. Toh bus sudah terlanjur melaju. Kondektur yang keterlaluan mungkin akan menurunkannya di Prambanan.
Untuk mengantisipasi agar tidak terjadi seperti itu, kondektur bus biasanya menarik karcis sebelum bus berangkat. Penumpang yang terlanjur duduk dan tujuannya relatif dekat, biasanya dimintanya turun dari bus. “Pak, ini bus jurusan Surabaya. Kalau mau ke Klaten, naik saja bus jurusan Solo, “kata sang kondektur sambil mempersilahkan penumpang turun.
Peristiwa seperti itu sangat jarang terjadi di luar waktu-waktu ramai menjelang dan sesudah Lebaran. Kernet dan kondektur bus akan mempersilahkan setiap calon penumpang untuk masuk ke dalam bus, kemana pun tujuannya, sepanjang masih sejalur Yogya-Surabaya-Banyuwangi, meski hanya ke Klaten atau Prambanan sekalipun. Daripada busnya kosong, penumpang jarak dekat pun jadilah.
Cara-cara yang digunakan kernet dan kondektur bus tadi dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Yield Management. Istilah ini sebenarnya juga banyak digunakan oleh kalangan perhotelan dan maskapai penerbangan.
Jadi, Anda jangan heran, meski hotel tersebut telah menerapkan manajemen modern sekalipun, Anda akan mendapatkan harga kamar yang berbeda-beda setiap waktu, untuk tipe kamar yang sama sekalipun. Pada musim liburan, misalnya, hotel-hotel di Yogya cenderung jual mahal, karena banyak turis asing dan domestik yang datang ke Yogya dan membutuhkan kamar untuk tidur.
Maks, Anda pun jangan heran atau marah saat Anda memesan kamar dan manajemen hotel menerapkan tarif yang lebih mahal dari biasanya. Manajemen hotel berprinsip, bila dari 100 kamar malam itu hanya berisi 70 kamar, sisanya dianggap hangus, karena pada hari berikutnya hotel akan menjual 100 kamar.
Sebaliknya, bila Anda menginap di hotel saat hotel sepi tamu (low season), Anda akan punya bargaining power (kekuatan atau posisi tawar) yang besar untuk mendapatkan harga kamar yang serendah mungkin. Tapi ini bukan berarti Anda punya hak untuk menentukan tarif atau harga. Yang berhak tetaplah manajemen hotel. Jadi, hak Anda sekedar menawar dan mendapatkan harga yang bagus.
Dalam praktik sehari-hari, tamu domestik sering marah-marah saat mengetahui dirinya harus membayar tarif yang berbeda dengan orang lain, meski untuk tipe atau kelas kamar yang sama. Tapi tamu-tamu domestik yang sudah biasa bepergian dan menginap di hotel umumnya mengetahui istilah Yield Management, sehingga tak terkejut mendapatkan harga mahal saat memesan kamar, karena mengetahui bahwa hotel sedang dalam keadaan high accupancy atau musim liburan.
Cara yang digunakan kernet bus maupun manajemen hotel berangkat dari tujuan atau keinginan yang sama, yakni ingin memaksimalkan pendapatan.
Tapi cara yang dipakai kernet bus dan hotel ada berbedanya sedikit. Kernet atau kondektur tidak dapat menaikkan harga karcis bus, karena harga karcis sudah ditentukan pemerintah dan semua bus trayek yang sama pula. Ketentuan ini harus dipatuhi. Jika melanggar, taruhannya adalah pencabutan izin trayek. Karenanya, kernet dan kondektur bus adalah memilih penumpang dengan tujuannya paling jauh, guna memaksimalkan pendapatannya.
Untuk memaksimalkan pendapatannya, hotel biasanya menerapkan 2 cara. Pertama, hanya menerima pesanan kamar yang harganya paling mahal. Dan kedua, hanya menerima pesanan kamar yang harganya sedikit lebih murah tapi tamunya tinggal lebih lama. Dua cara ini memberikan lebih banyak pendapatan bagi hotel.
Jelas sekarang, dari dulu seseorang kernet bus pun sudah menjalankan Yield Management. Hanya saja ,cara itu dijalankannya tak mereka mengetahui istilahnya. Padahal cara itu juga digunakan oleh penyedia jasa yang telah menerapkan manajemen modern.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: