Tinggalkan komentar

Batik Di Era Ekonomi Kreatif

Spesialisasi Pembagian Kerja Dalam Batik Menguntungkan apa Merugikan.
Sebuah Tinjauan Tentang Batik Dari Sisi Potensi Ekonomi
Adi Kusrianto

“Setiap orang menulis buku batik, selalu hanya membicarakan tentang filosofi dan keindahan motifnya. Tidak ada yang berbicara secara nilai ekonomisnya. Apakah seni batik itu mampu menghidupi pembatiknya?. Bahkan banyak cerita bahwa seniman batik terkenal Oey Sou Tjun yang batiknya bernilai jutaan itu kehidupan sehari-harinya ditopang dengan usaha pracangan”.

Batik Ekonomi Rakyat

Ada seorang embak, teman saya pengusaha batik, pembatik, sekaligus pendidik di bidang batik. Dalam suatu obrolan dia sempat mencurahkan kekesalannya terhadap bisnis batik yang dianggap sebagai salah satu ekonomi rakyat di beberapa daerah tetapi tidak pernah memberikan peluang ekonomi yang bagus bagi pelaku-pelakunya.
Suatu ketika dia mendapat order dua lembar batik dari UNESCO, untuk dikenakan pejabat WWF dalam rangka konserfasi alam dalam melindungi  penyu belimbing yang populasinya hanya tinggal kurang lebih 100 ekor di dunia.  Agar diperoleh karya batik yang berkualitas bagus untuk dikenakan tokoh kaliber dunia, iapun berniat menggarap sendiri batik tersebut.
Karena si embak tersebut seorang trah batik Lasem, maka iapun pulang ke Lasem di mana nenek beliau hingga usia renta masih tetap menggeluti pekerjaan batik. Di rumah tuanya itulah darah batiknya menggelegak dan menuangkan cipta dan karsanya dalam dua lembar mori. Mulai menggambar motif lalu mulai mencantingnya keseluruhan permukaan mori tersebut, baik dari motif utama hingga isen-isennya.
Semula, nenek yang melihat keseruan si embak yang dengan tekun menangani karya batiknya tidak seberapa serius memperhatikan. Namun ketika mori telah di beber di atas gawangan dan mulai mencanting pola-pola yang tergambar di atas mori, sang nenek pun mulai menegur.
“Ora koyo ngono kuwi carane nduk.” (Bukan begitu caranya nduk).
Si embak terdiam mendengar teguran nenek.
Di kampung si embak, di Lasem, seorang pembatik tidak boleh mengerjakan sendiri semua pekerjaan membatik. Di kampung ini sejak zaman dahulu kala telah dilakukan pembagian pekerjaan dalam membatik. Ada orang yang tugasnya (lebih tepat kebisaannya) menggambar pola, ada yang mencanting motif utama (namanya membuat klowongan), ada yang menggambar isen-isen, ada yang mbabar (mewarnai kain batik dengan cara mencelup ke cairan pewarna) ada yang nglorod. Jadi ada lima pekerjaan yang dilakukan oleh orang-orang atau kelompok orang yang berbeda. Seseorang akan menjadi spesialis dalam suatu pekerjaan tertentu dan “ora ilok” (pamali) jika mengerjakan pekerjaan yang menjadi spesialisasi orang lain.
Dalam ilmu ekonomi memang dikenal ada pembagian kerja secara spesialisasi, seperti yang dilakukan orang Jepang, orang Jerman. Jika seorang ahli mekanik suatu jenis mesin, maka sepanjang hidupnya ia hanya akan mempelajari dan mengerjakan pekerjaan itu hingga ia benar-benar menjadi tenaga terampil dengan skill tinggi (otomatis logikanya dengan nilai penghargaan tinggi terhadap skill tersebut).
Tetapi bagaimana dengan spesialisasi pekerjaan di bidang batik tersebut?
Konon seorang yang memiliki keahlian membuat isen-isen sejenis galaran yang memerlukan kecermatan tingkat prima, ia memperoleh honor sebesar Rp. 20 ribu setiap lembar kain batik (2,15 m) yang digarapnya.
“Itu sudah bagus” Celetuk teman lainnya yang kebetulan adalah seorang ketua asosiasi pengusaha di bidang batik dan fashion. “Di Madura ongkos membatik selembar kain (bukan hanya isen-isen saja) hanya Rp. 10 ribu. Itu full piece, 2 meteran”.
Seorang juragan yang datang ke kampung pembatik membawa seonggok kain mori dan bahan batik lainnya untuk dikerjakan dalam waktu 2 minggu. Kain itu kemudian dikerjakan pembatik sekeluarga yang terdiri dari nenek, emak dan anaknya dengan honor Rp. 10 ribu per pis. Dan dengan order dari sang juragan itulah kebutuhan hidup keluarga pembatik bisa tercukupi sesuai standar kehidupan di desanya.
Astaga.
Sayapun rupanya turut terlibat dalam rantai produksi dalam perekonomian pembatik itu, dan justru ikut menikmati murahnya jasa mereka.
Saya termenung ketika menghitung harga batik mentah yang di pasar 17Agustus Kabupaten Pamekasan. Yang paling murah bisa saya beli dengan harga Rp. 40 ribu. Memang batikannya tidak terlalu ramai (maksudnya motifnya itu lho). Tetapi, kalau harga selembar mori yang 2 meter itu Rp. 28 ribu, ditambah harga malam, ditambah ongkos penjual yang menjualkan batik tersebut ke Pasar 17 Agustus (pasti ada ongkos jualnya kan), lalu pembatiknya tersisa dapat berapa? Sepertinya kurang dari Rp. 10 ribu. Itupun belum tentu uangnya bisa diterima langsung hari itu.
Apakah ini bagian dari ekonomi kreatif yang di galakkan pemerintah kita?
Oh, jangan cepat menyalahkan pemeritah. Semua pasti ada progresnya kan.

Batik Pamekasan mentah.jpg
Figure 1 : Batik mentah yang di beli dari Pamekasan.

Batik Rakyat Masuk Keraton

Sebelum melakukan analisa dan pemikiran lebih lanjut, terlebih dahulu saya mengajak Anda untuk membaca tulisan yang saya muat pada buku saya “Batik, Motif, Kegunaan dan Filosofinya”, bab 3, halaman 59 – 63. Pada sub bab “Batik Rakyat Masuk Keraton”, saya menulis sebagai berikut.
Fenomena batik rakyat masuk Keraton ini terjadi sejak abad ke 18, sebagaimana studi yang dilakukan oleh Sudarmono melalui tulisannya “Dinamika Kultur Batik Jawa” dan dikutip oleh Dharsono (Budaya Nusantara).
Kedudukan para pembatik dilingkungan Keraton sebagai abdi dalem kriya sangat ditentukan oleh keahlian mereka dalam karya seninya. Pekerjaan membatik merupakan pekerjaan yang sangat mulia untuk menjunjung tinggi derajat, pangkat putra-putri Keraton. Bahkan dalam waktu-waktu tertentu raja memandang penting dalam memilih dan menentukan kategori remaja putri yang anggun menurut Keraton.
Barangkali tradisi ini adalah awal dari kebiasaan memilih Putri Indonesia di jaman kita. (BRA.Mooryati Soedibyo salah satu pencetus ide kontes pemilihan Putri Indonesia adalah cucu Sri Susuhunan Paku Buwono X dari Keraton Surakarta).
Masuknya pembatik rakyat menjadi pembatik Keraton membuat mereka meningkat
kedudukannya, dari kawulo (rakyat jelata) kemudian diangkat derajatnya menjadi
seorang abdi dalem di lingkungan Keraton sebagai “Abdi Dalem Kriya” (Kelompok tugas
pengrajin) dengan pangkat “Hamong Kriya”.
Gelar kebangsawanan yang diberikan kepada para pembatik rakyat itu di anugerahkan Raja kepada rakyat yang dianggapnya telah berjasa terhadap raja. Mereka mendapatkan perumahan, perlengkapan rumah tangga dan gaji. Bahkan mereka diijinkan mengajak kerabatnya masuk ke lingkungan Keraton untuk membantu dalam mengerjakan kriya (salah satunya dibidang membatik).
Salah satu fenomena yang menjadi obyek penelitian Rajiman dalam “Sejarah Surakarta”,
sebagaimana di kutip oleh Dharsono adalah masuknya keluarga Wicitran kedalam Keraton.
Pada tahun 1910 di kampung Reksoniten (Soninten), kelurahan Kusumodiningratan, Surakarta ada sebuah perusahaan batik “Babaran genes Wicitran” yang dirintis oleh
Ny. Resowicitro di. Perusahaan UKM (istilah saat ini) hanya memiliki 5 – 10 orang tenaga
kerja yang semuanya terdiri dari kerabat sendiri. Keberhasilannya dalam membuat produk batik halus membuat pihak Keraton memberikan lisensi tunggal dalam memproduksi batik-batik pesanan Keraton.
Keberhasilannya ini membuat Ny. Reksowicitro mendapatkan gelar kebangsawanan Raden Ayu dan ia memindahkan perusahaannya ke dalam lingkungan Keraton.

Hal ini merupakan awal perolehan derajat kebangsawanan abdi dalem kriya dalam
bidang perbatikan. Perkenalan karya batiknya dengan orang-orang Keraton semakin
memperkuat legitimasi kehadirannya dalam kelompok bangsawan.

Ketika perusahaan kecil ini hanya melayani pesanan Keraton, maka terpaksa mereka membuat rancangan batik secara teliti dan terperinci untuk menunjukkan tingkatan pemakai batik di lingkungan Keraton. Otomatis mereka menciutkan usaha untuk suatu fokus melayani pesanan Keraton saja, sebagai konsekwensi menjadi abdidalem kriya
yang memperoleh berbagai fasilitas sebagai bangsawan. Sementara mereka meninggalkan bisnis mereka dalam memproduksi batik babaran genes yang semula merupakan salah satu kekuatan bisnis “Babaran genes wicitran”.

Dari hasil wawancara yang dikutip oleh Sudarmono, sekitar tahun 1920 “Babaran
genes Wicitran” hancur tanpa ada warisan profesional maupun sikap entreprenourship
yang ditinggalkan kepada keluarga maupun anak cucu. Satu-satunya yang ditinggalkan hanyalah kenangan indah berupa gelar kebangsawanan yang diperoleh melalui semangat kerja pengabdian. Menurut ibu Harjo Wicitro, adik R.Ay. Reksowicitro, sesudah kematian kakaknya, ia sempat mewarisi usaha itu selama tujuh tahun.
Selama itu ia hanya berusaha mempertahankan usaha kakanya untuk melayani pesanan batik para bangsawan. Selebihnya pelayanan kepada masyarakat terbatas pada usaha mbabar (melakukan pewarnaan). Akibat perubahan ini maka konsumen batik tulis halus jatuh ke tangan pengusaha Laweyan dan tiga pengusaha keturunan Tionghoa, antara lain batik cap “Sawo”, cap “Sidomaju” dan cap “Pancar”.

Menurut laporan de Kat Angelino yang melakukan pengamatan perbatikan di Surakarta,
pada tahun 1930, saat itu ada 236 perusahaan batik pribumi, 88 keturunan Arab, 60 keturunan Tionghoa, dan 3 pembatik keturunan Eropa. Data tersebut memberikan gambaran betapa saat itu batik rakyat mengalami kemajuan karena mereka
berorientasi pada perekonomian masyarakat sebagaimana motif bisnis batik yang dilakukan keluarga Wicitran sebelum masuk Keraton.
Dari sini agaknya bisa disimpulkan, bahwa kecenderungan keanggunan bisnis batik klasik sebagaimana yang berkembang di Keraton tidak dapat memberikan jaminan pada
tingkat kemajuan bisnis batik bagi pelakunya (pembatiknya). Kemuliaan sebagai seorang abdi dalem dan gelar kebangsawanan yang menjadi konsekwensi pilihan bagi seorang abdi kriya pada zaman kita ini rupanya tidak cukup untuk melanjutkan kehidupan. Apa yang dialami oleh batik “Genes Wicitran” sebenarnya hanya merupakan salah satu diantara contoh bagaimana batik Keraton mencoba tetap eksis diantara perkembangan kehidupan dalam Keraton serta kehidupan diluar Keraton.
Batik Keraton dalam keberadaannya merupakan salah satu bentuk pertahanan budaya
Keraton serta sebagai pengakuan legitimasi kelompok birokrat Keraton.
Menurut KRT Harjonagoro yang berasal dari keluarga pengusaha batik luar Keraton, batik yang dikelola oleh para abdi dalem di Keraton memberikan peluang yang baik bagi batik-batik luar istana. Batik-batik rakyat itu secara otomatis membentuk segment-segment sesuai daya beli masyarakat. Batik Bekonang dikenal konsumen sebagai batik kwalitas kasar, sedangkan keluaran Matesih dan Laweyan untuk tingkat menengah
sedangkan keluaran Kedung Gudel di daerah Sukoharjo untuk batik berkwalitas halus. Lain halnya dengan batik dari Tembayat dikenal sebagai batik kelengan, yaitu batik yang dicelup satu kali untuk satu warna saja.

Fenomena Batik Podhek 2009 -2018

“Dulu, kalau bicara tentang selembar batik tulis seharga 20 juta, orang selalu berasumsi itu adalah batiknya Oey Soe Tjoen dari Kedung Wuni Pekalongan. Tetapi saat ini, kolektor batik sudah ada yang menahan (mempertahankan) koleksi batik Podheknya yang di tawar kolektor lain senilai Rp. 60 juta.”
Rusydi: Tentang Seorang Kolektor batik di Jakarta

“Pengamat batik selalu berorientasi pada motif untuk menyebutkan itu batik klasik, tradisional atau yang di istilahkan sebagai batik modern. Terpikir oleh saya bahwa kebaruan pada suatu karya batik bisa menyangkut banyak hal. Dan itu saya dapati saat mengamati Batik Podhek 2018”
Adi Kusrianto, penulis

Podhek adalah sebuah dusun di Desa Rangperang Daya, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, Madura . Ini adalah sebuah dusun yang sebagian besar tanahnya berkapur, oleh karenanya masyarakat setempat bukanlah hidup dari bertani sebagaimana umumnya, melainkan menjadi perajin batik.
Selama bertahun-tahun kebanyakan mereka adalah pembatik yang mengerjakan batik tulis yang kemudian distorkan kepada juragan-juragan batik yang ada di dusun mereka. Disini terbiasa digunakan istilah kuli dan juragan untuk membedakan dua kalangan yang bekerja sama. Yang dimaksud juragan adalah mereka yang memiliki modal, baik modal itu diberikan kepada perajin batik dalam bentuk material batik seperti mori, malam hingga pewarna kimia. Setelah mengerjakan batik, mulai dari proses menggambar motif, mencanting hingga mewarna hingga tahap nglorod dan finishing, hasil kerja mereka diserahkan atau dijual melalui juragan. Juragan akan membayar nilai batik karya mereka sesuai harga pasar yang umum pada saat itu. Pembatik hanya memperoleh ongkos kerjanya saja.
Sedangkan istilah kuli, maksudnya adalah perajin batik itu sendiri. Apapun posisinya, apakah ia memodali sendiri pembuatan batik hingga batik siap di jual, maupun pembatik yang menerima modal berupa materi batik dari juragan. Mereka mengistlahkan diri dengan “kuli”. Tetapi kondisi seperti ini sudah mereka terima secara ikhlas dan kehidupan mereka tentram-tentram saja tanpa ada gejolak maupun perubahan tatanan secara drastis.
Masing-masing pembatik memiliki juragan tertentu, dan mereka tidak ada yang berpindah ke juragan lain. Sekalipun di Podhek konon ada sekitar 10 kemudian berkembang menjadi15an juragan dengan munculnya juragan-juragan muda yang baru masuk ke bisnis batik. Mereka rata-rata berpendidikan Madrasah Diniyah (Setingkat SMA).
Dari situasi ini hingga sekitar tahun 2009 kualitas batik karya mereka yang dilakukan secara turun temurun sulit sekali berkembang. Mereka para pembatik itu rata-rata telah hapal dan menjadi begitu ahli dalam membatik motif-motif tertentu. Praktis mereka bisa bekerja dengan waktu yang sangat cepat untuk motif-motif yang telah mereka hapal. Namun demikian apa yang disebut cepat itu dalam hitungan efisiensi produksi masih tergolong rendah. Secara rata-rata selembar batik mereka selesaikan dalam waktu sepuluh hari untuk kualitas sedang dengan harga jual dipasar antara Rp. 200 hingga Rp. 500 ribu. Dengan demikian kalau dihitung pendapatan dari ongkos kerja perhari masih jauh di bawah UMR, yaitu berkisar antara Rp. 15 hingga Rp. 20 ribu perhari. Kehidupan mereka masih jauh dari sejahtera sekalipun dalam satu keluarga ada 2 sampai 3 orang yang turut membatik.

Foto dibawah ini Batik Pamekasan yang dibeli pada tahun 2010, kwalitas sedang yang berhasil di jual ke Belanda dan Suriname oleh Batik Mahindra (penjualan 2012).

Salah satu batik Sekarjagad versi Pamekasan yang memiliki warna eksotis ini adalah segmen batik untuk kolektor yang dijual secara online oleh “Batik Sparkling” (2012).

00 Batik Tulis Sutra,Sekar Jagad Pamekasan.( Batik Sparkling.jpg
Selama bertahun-tahun dalam tradisi membatik mereka bisa dikata jauh dari pelatihan maupun pemberian wawasan baik dari pemerintah maupun dari pihak-pihak yang berkepentingan dalam bisnis batik mereka. Kondisi ini bisa jadi salah satu kendalanya adalah masyarakat Podhek kepribadian orangnya secara personal terbuka. Ia mau mencoba hal baru yang berat tanpa mengeluh tapi masyarakatnya tertutup, agak resisten bila ada hal baru, seperti kehadiran saya banyak di tentang dan dicurigai. Hal ini sedikit berbeda dengan masyarakat di desa Toket yang lebih terbiasa menerima orang luar. Sehingga apabila ada pengusaha dari luar desa mereka yang mengajak bekerja sama, pembatik Toket lebih mudah menerima sepanjang itu dianggap lebih memudahkan atau menguntungkan.
Tetapi jika ditilik dari kemampuan dan kemauannya untuk menerima tantangan dan mengembangkan skill membatik, maka masyarakat Podhek ternyata lebih bisa berkembang saat diberikan tantangan. Bahkan dalam waktu 4 tahun, mereka mampu menjadi pengusaha batik mandiri.
Jika sebelumnya pembatik yang diistilahkan sebagai kuli itu masih meminjam barang-marang modal dari juragam sehingga mau tidak mau mereka harus menjual ke juragan dengan harga yang ditentukan juragan, maka pada perkembangannya mereka sudah mampu membeli barang modalnya sendiri. Sekalipun demikian, mereka tidak serta merta meninggalkan juragannya, namun mereka telah sedikit memiliki posisi tawar dalam menentukan harga batiknya. Situasi seperti ini terjadi secara alamiah sesuai hukum ekonomi. Jika awalnya para juragan tidak berkenan dengan posisi tawar para pembatik itu, lama kelamaan mereka menyadari perkembangan yang terjadi. Pada posisi inilah harga batik Podhek mulai terangkat.
Harga pasar di pasaran batik pun mengikuti hukum ekonomi kreatif, di mana harga batik akan di nilai lebih tinggi hanya bila kualitas batiknya lebih baik dan memiliki keunikan sebagai pembeda. Kita semua tahu bahwa karya seni batik memiliki nilai yang tidak ada batasnya. Jika seseorang sudah suka, maka harga suatu koleksi batik hanya langitlah batasnya. Disinilah para perajin dan juragan batik menyadari bagaimana mereka harus meningkatkan nilai karyanya. Hal ini terjadi ketika daya tahan ekonomi untuk bertahan hidup mulai berkembang. Jika sebelumnya mereka harus setor batik ke juragan hanya dalam waktu satu sampai dua minggu, maka lama kelamaan setelah menguasi skill batik kualitas tinggi mereka bisa mengerjakan selembar batik mereka hingga empat bulan.

IMG_4678.JPG

Batik yang harganya berkisar antara Rp. 80 hingga Rp. 100 ribu.

IMG_4694.JPG

Batik dengan harga jual Rp. 1 juta.
Itulah yang membuat peningkatan nilai jual batik mereka, yang sebelumnya berkisar 200 hingga 500 ribu rupiah, kini banyak batik yang harga jualnya pada kisaran antara 1,5 juta hingga 20 juta. Berkembangnya kemampuan ekonomi masyarakat pembatik di Podhek mulai terlihat sejak di atas periode tahun 2010, banyak pembatik yang mampu membeli sepeda motor baru secara cash.
Bahkan saat tulisan ini dibuat, di tahun 2018, seorang pembatik yang menghasilkan batik kualitas tinggi, hasil penjualannya sudah bisa untuk membiayai pembuatan pondasi rumah. Jika tiga lembar batik kualitas tinggi berhasil dibuat, hasil penjualannya bisa membiayai mendirikan sebuah rumah di atas lahan milik mereka.
Ketika penulis mengunjungi Podhek, beberapa tokoh batik disana telah mulai mendirikan bangunan-bangunan permanen berbentuk bale yang representatif dan nyaman sebagai lokasi workshop alias tempat para pembatik di Podhek mengerjakan batiknya. Hal ini akan membuat mereka bekerja secara lebih nyaman dan jika sewaktu-waktu ada rombongan tamu yang ingin melihat kegiatan mereka, hal ini akan membuat para tamu lebih mudah mengunjungi para perajin itu dalam workshop-workshop yang lebih rapi.
Langkah berikutnya barangkali akan disediakan lokasi untuk ruang pamer yang mendisplay batik-batik karya para pembatik Podhek yang memiliki rentang harga antara 100 ribu rupiah perlembar hingga sekitar 1,5 hingga 2,5 juta rupiah perlembar. Sementara kualitas eksklusif jarang tersedia stok untuk dipamerkan. Biasanya kalaupun ada adalah batk-batik kelas ekslusih yang masih 50% hingga 75% jadi yang semua tadi telah ada pembeli atau pemesannya.

Batik-batik kelas premium yang sedang dalam pengerjaan.

IMG_4697.JPG

Detail batik premium yang sedang dalam pengerjaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: