Tinggalkan komentar

Workshop Batik dengan Konsep Sustainable Fabric

(Adi Kusrianto)

IKATSI Korwil Jawa Timur mendukung kegiatan Yayasan  Reksa Natura Indonesia dalam mengadakan sebuah Workshop Offline pada hari Minggu tanggal 21 Februari 2021 yang lalu. Acara yang diselenggarakan di Sanggar OmaPring di Bypass Pandaan, desa Karangjati.

Yayasan Reksa Natura itu sendiri sebenarnya adalah sebuah Yayasan yang dimotori oleh personil-personil IKATSI Jatim yang dalam kegiatannya ingin mewujudkan mimpi dalam mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang mengarah pada Akademi Tekstil dan Wastra Nusantara.

Sri Kholifah, yang menjadi ketua Reksa Natura Indonesia adalah seorang pakar Batik dan Pewarna alam, yang di Malaysia dan Korea Selatan telah dijuluki sebagai “Profesor” setelah beberapa tahun malang melintang menjadi narasumber dibidang batik serta pewarna alam di kedua negara itu, bahkan telah mewakili sebuah Universitas di Sabah ketika tampil di Jerman. Sayangnya di negeri sendiri dia nyaris tidak dikenal.

Dan melalui Yayasan Reksa Natura inilah “Mbak Ifa” ini setelah menyelesikan “kontrak kerjasamanya” dengan pihak luar negeri, baru berkesempatan mencurahkan ilmunya yang oleh beberapa pembatik domestik justru ilmunya dianggap “aneh” dan membuka mata banyak pembatik, yang berkomentar … oooo… dengan cara begini ternyata lebih cepat yaa, …. dengan dicampur “ini” hasilnya ternyata lebih kereennn. Wah.. ternyata pewarna Indigo Strobilathes ini lebih mengkilat warnanya, dan hasil birunya keren begini ya, tidak seperti biasanya.

Nah, itulah yang istimewa dari acara “Workshop Membatik Dengan Canting Cap – di kain “Sutra halal” BembergTM yang bahan bakunya dari serat kapas – dan menggunakan pewarna alam Indigo Strowbilanthes”.

Acara sederhana yang berlangsung meriah ini sehari sebelumnya telah dilaporkan ke UNESCO oleh Ibu Kuroda Fitriani, direktur utama PT. MilangKori sebagai sebuah agenda pelatihan Sustainable Fabric di kalangan pembatik di Jawa Timur.

Pada pelatihan yang diikuti 32 orang peserta ini juga mendapatkan “kuliah umum” dari Adi Kusrianto, Pengurus Pusat IKATSI dibidang R&D mengenai pemahaman Sutera, Sutera kecewa, dan mengingatkan status Sutera Asli (100% Pure Silk) adalah bahan yang Haram hukumnya bila dipakai oleh pria Muslim.

Disamping itu melalui peranan IKATSI yang memberikan sosialisasi mengenai pengetahuan terkstil, pada acara yang berlangsung lebih dari 3 jam itu juga memberikan pemahaman, bagaimanakah ciri-ciri kain sutera asli, dan sutera yang sebenarnya diproduksi lusinya dari Poliester filamen dan pakannya dari Sutera Filamen, atau kombinasi antara Rayon dan Sutera maupun katun dan sutera.

Setumpuk bermacam-macam kain yang patut diduga sebagai sutera terpaksa harus diuji jati dirinya dengan cara dibakar (burning test). Sutera asli ketika dibakar akan mengeluarkan bau yang kuat seperti kulit telor yang dibakar. Kain dari Serat Katun jika dibakar akan mengeluarkan bau seperti kertas terbakar, sedangkan Poliester akan menebarkan bau bahan kimia dan hasil pembakarannya meleleh persis plastik.

Ternyata para peserta baru menyadari bahwa beberapa jenis kain “sutera” itu ketika dibakar ada yang meleleh ada setengah meleleh, alias bahannya ada campuran poliester.

Untuk mengatasi keraguan dalam menjual batik sutera yang ternyata tergolong bahan haram bagi pria muslim, misalnya untuk sarung sutera, bahan busana takwa, maka pengenalan kain dari serat BembergTM adalah alternatif yang bijaksana. Mengingat kain dari BembergTM baik secara tampilan visual maupun sifat-sifatnya secara fisik seperti mkenyerap keringat, hangat disaat udara dingin, sejuk disaat udara panas, nyaman bersentuhan dengan kulit, sifat yang hypoalargenic, dan yang paling utama, semua sifat baik itu disertai dengan harga yang nyaris separo dari harga kain sutera asli.

Ternyata pengetahuan yang sederhana seperti ini perlu di sosialisasikan kepada masyarakat. Tidak harus ilmu tekstil yang berat-berat.

Bahkan sebagian masyarakat masih belum tahu bedanya apa antara kain kapas dan katun katun. Nah, siapa yang harus mengajari?

Workshop-workshop berikutnya dari Reksa Natura Indonesia yang bergandengan dengan IKATSI masih akan mensosialisasikan banyak hal sederhana yang “…ee… ternyata begitu ya…”. Ternyata daun cabe itu adalah pewarna alam juga ya, padahal selama ini saya buang-buang, karena setelah saya coba tidak keluar warnanya, kata seorang pembatik yang punya ladang ditanami cabe. Lhaaa, salahnya yang dipake daun yang masih segar, coba daun cabe itu di keringkan, lalu diseduh pakai air panas, maka akan keluar warna seperti warna “teh” yang agak kehijauan. Hayo belajar lebih dalam lagi. Ilmunya masih banyak yang perlu digali, untung ada R&D IKATSI.

***

Berlatih ngecap dengan Canting Cap.

Berlatih Mewarnai dengan Pewarna alam.

Menerima pengetahuan ILMU TEKSIL, dengan mencobakan Burning Test.

Melibatkan Tokoh-tokoh masyarakat Kabupaten pasuruan.

Personil IKATSI Jatim dan pengurus Reksa Natura Indonesia.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: