Tinggalkan komentar

“Hock Joe” dan “Balotelli” pada Pasar Kain Suiting

(Adi Kusrianto)

Apa Hock Joe, Apa Balotelli, apa pula kain Suiting?

Kain Suiting adalah kain untuk bahan celana, jas, blazer maupun rok bawahan, secara definitip Suiting adalah kain yang memiliki berat di atas 30 gram per inchi persegi. Intinya kain yang tergolong berat sampai berat sekali.

Sedangkan Hock Joe maupun Balotelli adalah merk dagang kain suiting. Kalau Balotelli banyak ditawarkan di pasar kain Indonesia, sedangkan Hock Joe kelihatannya tidak dijual di pasar Indonesia walaupun keduanya di produksi “juga” di Indonesia. Lho kenapa juga nya diberi tanda petik? Karena selain di Indonesia juga diproduksi di negara lain.

Nah, kalau masih bingung mari saya ceritakan.

Awalnya seorang mahasiswi yang mau maju skripsi bertanya, “Pak apakah kain Balotelli itu? Tapi saya gak boleh ambil referensi dari web site, oleh karenanya saya pilih bertanya pada Pak Adi”. (maksudnya ambil kutipan sumber yang dicari dari google). Wah, bingung juga, sekarang ini apa sih yang gak di masukkan ke google?

“Lho kamu kan sudah punya bukunya Pak Adi Pengetahuan Bahan Tekstil yang kamu pakai di semester 1. Lihat saja disitu saya sudah uraikan, dan itu bukan dari google”.

“Sudah pak, disitu Bapak tulis kalau Balotelli itu kain berbahan katun, ternyata waktu saya beli bahannya bukan katun”.

Dari situlah akhirnya saya melakukan tracing (walaupun tidak tertular Covid-19). Dan saya tuangkan hasil hasil tracing saya untuk menjawab pertanyaan si mahasiswa yang mau skripsi.

Caritanya mundur 4 tahun yang lalu. Pada suatu hari, saya menerima sekumpulan sampel-sampel kain suiting yang di produksi oleh PT. Trisula Tekstil di Cimahi untuk buku saya Pengatahuan Bahan Tekstil jilid 3. Pabrik itu terkenal dengan produknya kain suiting dengan merk Caterina sampai Bellini.

Ada satu seri kain yang tampilannya mirip berbahan wool tetapi sebetulnya bahannya 100% polyester. Walaupun itu bukan produk “termewah” yang saya sukai dari seri produk-produk Trisulatex, namun saya suka efek wool serta koleksi warna-warnanya yang terkesan macho. Tidak lama dari itu saya berkesempatan mengunjungi pabrik tersebut bersama rombongan mahasiswa. Lalu saya menyampaikan keinginan tahu saya mengenai Hock Joe ini. Dimana bisa dibeli secara eceran?

“Oh, itu produk yang 100% di export pak” jawab bu Aryanti. Ini pesanan sebuah perusahaan agency di Singapore untuk di edarkan ke pasar Eopa.

“Oh, pantesan” batin saya. Jadi sebuah perusahaan wholeseller, bisa memesan suatu kain dengan bahan dan konstruksi tertentu ke suatu pabrik. Bebekal deskripsi produk yang di tetapkan itu keluarlah output produk kain yang kemudian di labeli dengan brand tertentu. Misalnya pada kasus ini adalah mek Hock Joe (image antara Asia dan Amerika). Ingat konsumen Eropa juga menganggap produk Asia itu juga merupakan produk yang eksotis. Sebagaimana orang kita yang suka menilai brand yang terkesan Itali atau Prancis selalu lebih eksotis dibanding merk berbau asli Indonesia.

Nah, disitu akhirnya cerita sampai ke merk Balotelli yang terkesan Itali. Ceritanya tidak jauh berbeda dengan Hock Joe yang ber edar di Eropa.

Awalnya di pasaran Indonesia yang muncul dan populer 15 tahun yang lalu adalah merk Katun Balotelli (bukan Balotelli Cotton). Awalnya Balotelli yang memiliki ciri kain dengan motif anyaman tenun dengan motif spesifik ini sangat disukai. Sebagaimana produk berbahan katun 100% biasanya berharga lebih mahal dibanding yang campuran Polyester Katun maupun 100% Polyester.

Nah, disinilah akibat dinamika pasar, dimana kain termasuk jenis produk yang price sensitif dimana pedagang lebih memilih harga murah tapi laku banyak dibanding kualitas tinggi harga tinggi tapi laku sedikit.

Akhirnya di pasar muncul tiga grade Balotelli, dimana grade kedua dan ketiga dibuat darti poly cotton dan 100% polyester. Nama Katun Balotelli kemudian tinggal Balotelli saja sebutannya, walaupun image konsumen masih menganggap bahwa Balotelli adalah berbahan katun.

Saya jadi teringat pengalaman di tahun 1990, saat saya pertama kali meng eksport produk saya Polyester Single Georgette embroidery. Ada sebuah agency di Singapore bernama Deepa Enterprice yang selalu memesan produk kami, dimana agen ini secara spesifik mengirimkan kartu disainnya untuk kami gunakan memproduksi pesanannya itu. Dengan cara ini produk dan disain yang kami bikin persis sebagaiman standar yang diinginkan. Si konsumen ini minta kami menempelkan brandnya pada setiap roll, sedangkan kami tidak diperkenankan menempel brand kami sendiri.

Nah dengan demikian si konsumen ini bisa bebas memberikan order ke pabrik mana saja asalkan mampu membuat produk dengan kualiatas yang sama tetapi dengah harga dan delivery yang diinginkan.

Nah, saya berharap cerita dibalik brand ini dapat menambah wawasan kita, bahwa brand bukan segala-galanya. Ketahuilah cara mengenali kualiatas tekstil dari mengenali konstruksi dan bahan baku produknya. Bukan sekedar nama merk.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: