Tinggalkan komentar

Apakah Batik Indonesia Selamanya akan Diakui Unesco?

Adi Kusrianto

Definisi Batik Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:

Kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain itu, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu.

Jika mengacu pada kata : “Pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain” itu adalah definisi teknik perintang warna (Resist Dyeing). Yaitu teknik yang telah dikenal sejak zaman purba dan bangsa-bangsa lain telah melakukan teknik itu. Definisi itu belum menyebut teknik spesifik pembuatan batik (yang berbeda dengan bangsa lain).

Di Persia Kuno dan Negara-negara Timur Tengah sudah ada pembuatan motif dengan teknik resist dyeing. Sementara di Asia, teknik yang sama dilakukan di Tiongkok semasa Dinasti Tsang antara tahun 618 hingga 907 Masehi. Di Jepang semasa Dinasti Nara antara tahun 715 hingga 794 yang disebut “ro-kechi”. Sedangkan di Afrika, teknik pewarnaan kain dengan resist dyeing juga dapat dijumpai pada Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal.

Lebih spesifik definisi Batik adalah teknik menghias kain dengan perintang warna, yang cara menggoreskan motif/ coraknya dengan menggunakan canting.

Catatan: teknik batik dengan cap dari metal juga diakui sebagai teknik batik, dan alatnya disebut ‘canting cap’.

Menurut GP Rouflaer seorang pustakawan Belanda yang melakukan pengamatan dari hasil temuan motif gringsing yang ditemukan semenjak abad ke 12 di Kediri, karena kehalusan dan kecermatan goresan motifnya  hanya bisa dibuat menggunakan alat yang kemudian disebut canting.

Awalnya pada era batik klasik, kain batik itu hiasan/ motifnya dengan menggunakan motif- motif tertentu. Menurut Sri Soedewi Syamsi, dalam bukunya Pola ragam hias Batik Yogya dan Solo, batik itu dibuat menggunakan motif-motif tertentu, masing2 memiliki nama dan fungsi.

Aturan dalam menyusun hiasan kain batik terdiri dari komponen-komponen yaitu motif utama, motif hias pelengkap, dan sebagai background ada motif isen-isen.

Ketika UNESCO melakukan penelitian apakah masih ada kelompok/ komunitas/ suku yang secara tradisi memakai/ menggunakan kain batik untuk menjalankan ritual tradisi tertentu. Ternyata mereka menemukan bahwa (setidaknya) suku Jawa memang hingga saat ini masih menggunakan batik dengan motif tertentu untuk menjalankan ritual tertentu.

Dengan demikian definisi lebih lengkap:

Jadi Batik Indonesia, jika didefinisikan harus mencakup hal-hal yang disebut diatas. Berdasarkan batasan tadilah maka lembaga dunia yang terdiri dari berbagai bangsa (termasuk diantaranya bangsa Malaysia) menerima bahwa “Batik adalah Budaya tak- benda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity) dari bangsa Indonesia.

Lalu apakah Dunia (UNESCO) akan mengakui Batik Indonesia selamanya? Bisa jadi tidak. Kenapa?

Jika batik indonesia ternyata dalam perkembangannya diketahui tidak mampu menjaga pelestarian lingkungan, justru industri batik menyebabkan pencemaran karena limbah pewarna kimia, limbah waterglass zat kimia yang dikenal sebagai salah satu zat mordanting (penyerap dan pengunci pewarna pada tekstil). Hal ini para perajin batik tidak peduli bagaimana mereka membuang limbah tanpa terlebih dulu melakukan upaya penjinakan kerasnya zat kimia yang dipakai dalam proses batik.

Ada teman yang melakukan aktifitas finishing batik dirumahnya, lalu serta merta ia membuang limbahnya ke got depan rumah. Apa yang terjadi, beberapa hari kemudian para tetangga berujar, bahwa tidak lagi ada jentik-jentik, tikus dan kecoak di got tersebut. Itu dampak awal dari dibuangnya limbah di got. Semua organisme yang ada di aliran got mati. Jika itu dilakukan terus-menerus, maka dampak lebih serius akan terjadi, yaitu rusaknya ecosistem disekitar lingkungan tersebut. Jika hal semacam itu tidak dicegah, maka teknik produksi batik akan di tuduh sebagai pencemar lingkungan secara diam-diam.

Foto limbah cair
dari Batikaa

Itu baru limbah. Bagaimana dengan motif dan cara pembuatan batik yang semakin banyak yang meninggalkan cara-cara tradisional. Bukan lagi menggunakan canting, cap dan malam. Apakah pada perkembangannya dunia masih mengakui bahwa itu adalah batik? Apakah para desainer batik zaman now yakin bahwa mereka itu paham bagaimana motif batik ? Memang batik motifnya tidak harus dibekukan (freezing) dan senantiasa mengikuti pola batik klasik. Sejak munculnya batik pesisiran sudah terjadi “breaking the rule” terhadap motif batik. Munculnya “Batik Peranakan”, “Batik Belanda”, “Batik Jawa Hokokai”, “Batik Jawa Baru”, “Batik Nusantara” pasca Indonesia merdeka. Perlukah para desainer batik paham? Ataukah mendesain apa saja, asal laku dijual, asal mengikuti trend mode dunia? Bukankah Konsumen itu raja?.

Saya kuwatir suatu saat seniman batik luar negeri lebih paham batik kita dibanding kita sendiri.

Catatan:

banyak wastra Nusantara yang di negeri kita sudah dianggap ‘punah’, ternyata beberapa museum di luar negeri masih menyimpannya lengkap dengan detil informasinga.

Catatan: banyak literatur yang disusun oleh penulis-penulis asing yang justru menjadi referensi dan patokan informasi yang lebih dianggap valid dibanding catatan yang dibuat penulis lokal.

Sadarkah Anda, Borobudur kita bertahun-tahun diakui dunia sebagai salah satu seven wonder (salah satu dari tujuh keajaiban dunia). Kenapa Borobudur sekarang tercoret, sementara Tembok Besar China, Taj Mahal India, patung Cristo Redentor (Jesus Sang Penebus)  di Rio De Janeiro masih bertahan ? Mikiir……..

Bisa jadi suatu saat Batik bukan lagi diakui dunia, karena rakyat Indonesia tidak mampu merawat, mempertahankan keaslian dan ke eksotisan Batik Indonesia. Batik hanya menjadi barang dagangan semata yang dipakai sebagai obyek dagangan tanpa merawat konten penting dari budaya yang bernama Batik.

Saya tidak bermaksud mengadili, terserah dari sudut pandang mana Anda memandang. Monggo, please welcome.

Tambahan:

Berikut ini definisi batik berdasarkan SNI (Standard Nasional Indonesia) ini adalah pengertian kata batik berasarkan jajaran Dinas perindustrian, dimana kepentingan batik sebagai salah satu sarana ekonomi kreatif.

Batik sebagai sunber pendapatan ekonomi, yaitu sesuai dengan kepentingan pemerintah dalam meajukan ekonomi nasional dan kesejahteraan UMKN/ perajin batik. Dimana kepentingan ini dianggap lebih esensial dibanding hanya sekedar pengertian batik sebagai harta budaya.

Apalah artinya warisan jika tidak bisa memberi nilai jual. Ciri khas sisi penilaian dari mental yang miskin, semua di hitung dari sisi bagaimana mendapatkan keuntungan secara materi.

Jadi saya kembalikan kepada penilaian Anda.





Gambar No  5 : Kreatifitas, inovasi menerobos pasar?
Gambar No  6 : Kemampuan menangkap selera pasar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: