Tinggalkan komentar

Selamat Datang Batik China, Batik Srilanka, Batik Nigeria, dan Batik Negara lain

Sejak tanggal 1 November 2021 yang lalu, di medsos banyak beredar video tentang expose Batik China. Menarik memang, terbutkti banyak yang me-reaksi postingan tersebut. Tetapi banyak justru yang jealous melihat ini, tanpa bisa berbuat apa-apa. Berikut ini adalah rangkuman komentar dan pendapat Adi Kusrianto, salah seorang penulis batik yang memiliki empat grup WA dengan peserta sekitar 800 member.

“Chinesse Batik”, sama halnya dengan “Malaysian Batik”, disini kata BATIK digunakan sebagai istilah Craftmenship (ketrampilan dalam kriya), dimana kosa kata BATIK sama halnya dengan kosa kata IKAT telah diserap dalam berbagai bahasa dan bahkan telah dimasukkan ke dalam kamus. Baik BATIK dan IKAT disebutkan istilah yang diserap dari Bahasa Indonesia.

Batik China sudah berusia 1000 tahun. Batik Indonesia berapa tahun ya?

Disinilah justru merupakan WARNING bagi para Pembatik kita, pemilik Batik Nusantara, agar benar-benar memahami Batik yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Untung ya, pembatik China itu tidak membuat batik Parang maupun Sidomukti. Mungkin parang dan sidomukti mereka lebih banyak terjual di seluruh dunia lho.

Jangan terlalu bebas mengembangkan batik sehingga justru ciri INDONESIAN BATIK malah hilang karena terbawa arus dagangan trend sesuai selera pasar dunia.

Ingat bahwa bangsa-bangsa lain juga membuat BATIK-BATIK dengan gaya mereka masing2. Sangat boleh jadi. Sekali lagi sangat boleh jadi, diantara batik-batik bebas, batik-batik modern ala pembalik millenial kita akan KALAH PAMOR dengan batik-batik negeri lain.

Jadi jangan bangga asal batik Anda laku dijual, laku di expor.

Pendapat tersebut di amini oleh beberapa anggota diantaranya  Bagas Mataya (Laweyan, Surakarta), Dr. Lucky (IKJ Jakarta), Slamet Arief (Perajin batik Kudus), Dra. Retna Devi (Tokoh penggiat batik Kediri).

Bahkan Dr. Lucky menulis komentarnya “Mengerikan yaaa…”

Program Ekonomi kreatif (dibawah pengelolaan Kemenparekraf) mendorong para desainer batik untuk berkreasi mengikuti trend fashion dunia. Para UKM “yang berada dibawah bimbingan Ekonomi Kreatif” rata-rata para pembatik yang penguasaan ilmu batiknya baru sebatas nyanting dan mewarnai, menyambut ajakan itu sehingga, booooommm,… batik-batik kreatif model begini muncul memenuhi pasar. Salah satu alasannya agar kaum millenial mau memakai batik. Dan bukannya mendidik kaum millenial mengenal batik itu sebenarnya apa, dan mereka akan menggunakan batik dengan sepenuh kebanggan setelah memahaminya.

Di pasar mereka akan bersaing dengan BATIK SRILANGKA, BATIK INDIA, BATIK MALAYSIA, BATIK CHINA,…. belum lagi model-model batik dari Afrika sebagaimana yang saya ekspose melalui tulisan saya. Dipasar lokal, seperi Mangga Dua, Tanah Abang, Pasar Atum kita akan berteriak ketika diserbu produk-produk batik luar negeri. Bukan saja lebih murah dan kualitasnya lebih baik, tetapi juga motif-motif nya yang lebih cenderung sebagai motif kain printing pada umumnya lebih disukai.

Lalu setelah disini, dimana “kesaktian”, “ke adiluhungan” warisan budaya nenek moyang itu”

Nuwun sewu, BALAI BESAR KERAJINAN DAN BATIK yang kita bersama harapkan akan melindungi BATIK dari seni massal, seni industrialisasi karena beliau-beliau berada dibawah kementerian PERINDUSTRIAN, ya tidak salah kalau arahannya adalah INDUSTRIALISASI BATIK.

Kita sendirilah para pecinta dan para pelestari batik yang menjadi benteng pelestarian batik, yang konon dalam berbagai jargon disebut sebagai WARISAN BUDAYA ADILUHUNG.

Silahkan temukan dimana ke ADI LUHUNGAN batik saat ini.

Jangan salahkan China dengan Chinesse batik, jangan salahkan Malaysia dengan Malaysian Batik. Itu hak dan kreatifitas mereka, sementara bangsa Indonesia sendiri yang merasa menjadi pemilik Batik, justru belum paham benar dengan Batik itu sendiri. Kosa kata Batik yang di Indonesia sendiri masih diperdebatkan asal katanya apa (????), saat ini justru sudah menjadi kata serapan pada kamus bahasa Inggris, bersamaan dengan kosa kata IKAT. Jadi sangat wajar bila ada Indian Batik, Srilanka’s Batik, Nigerian Batik dan batik-batik negara lain. Itu sah. Benar itu sah. Tidak perlu marah-marah.

Menurut Dra. Ratna Devi, pelatihan membatik saat ini kebanyakan mengajarkan mencanting motif-motif bebas, kontemporer. Tidak ada pengenalan bagaimana bentuk batik klasik yang konon memiliki makna dan filosofi itu. Juga pewarnaan yang dikenalkan kepada pembatik pemula adalah pewarnaan sintetis.

Sedangkan Bagas Nirwana salah seorang dari Mataya art & heritahe Surakarta, menambahkan “Nggih leres…(iya betul) maka dari sekarang saya mengajarkan menggambar untuk anak-anak, motif batik klasik Jawa. Sebaiknya mengenalkan batik Indonesia itu dari pengenalan ornamen-ornamen baku nya dulu”.

Kata-kata Bagas di benarkan oleh Ratna Devi (Kediri) dan Tami (Yogya).

Menurut Adi kusrianto, batik-batik Afrika, pasarnya sangat luas sekali diseluruh negara-negara Afrika dan mulai masuk Amerika melalui para Afro American.

Batik Print Ghana (Afrika)

Batik-batik Printing Afrika

(foto: Setyo Hargyanto)

Batik Srilanka yang dijual di kaki lima dibawah ini dijual dengan harga murah. Mereka sangat menyukai motif-motif Batik khas mereka. Bukan hanya orang Indonesia saja lho yang senang memakai batik.

Batik Printing Srilangka

Sedangkan batik tulis yang dibuat menggunakan malam dan canting, harganya lebih mahal untuk kualitas eksklusif seperti contoh-contoh berikut ini.

Batik Tulis Srilanka (Foto: Alami).

Ibu Indra Tjahyani:, salah seorang tokoh pelatih batik (Batik Yuuk.com) berujar “Betul, Saya juga sedih ketika dalam salah satu webinar nya  BBKB memperkenalkan Komputerisasi Motif Batik😔.

Lalu apa bedanya dengan batik printing???. Sudah hilang makna ke adiluhungan batik Indonesia jika negara justru mengejar produksi massal dari warisan budaya adiluhung ini dengan di obral murah, ujar Adi Kusrianto.

Gambar dibawah ini adalah batik-batik karya perajin China.

Wina Wilman dosen senior fakultas psykologi UI menyampaikan reaksinya hanya dengan menampilkan imoticon tangis dan lelehan air mata. 😭😭

Indra Tjahyani menambahkan  “Alhamdulillah workshop saya masih  konsisten memperkenalkan cara membatik traditional Indonesia dan berbagi tentang Filisofi dibalik ragam hias batik …. Mudah-mudahan  masih ada yg mau ikut workshop saya dan turut melestarikannya.

Adi  Kusrianto menambahkan, “Dalam hal pendidikan dan pelestarian BATIK, negara KOREA SELATAN bahkan mendukung pelestarian Batik Indonesia dengan MENYEWA ORANG INDONESIA/ AHLI BATIK INDONESIA untuk mendidik BANGSA INDONESIA untuk diajar BATIK. Para peserta sudah dididik dengan gratis, diberi fasilitas untuk berproduksi, diberi uang saku pula.

Apakah pemerintah kita tidak menoleh pada upaya ini?

Wina Wilman berkomentar “Di Sekolah Pilar (Sekolah Umum Swasta) sudah ada guru membatik”.

Iya benar bu Wina, tetapi yang diajarkan baru pelajaran mencanting. Masih jarang yang menjelaskan bagaimana motif-motif yang memiliki makna dan kegunaan tertentu. Tapi baca BATIK = KETRAMPILAN MENCANTING. Ilmu mencanting saat ini dikuasai banyak bangsa di dunia.

Jangan bilang, jaman sudah berubah dan yang klasik itu sudah kuno. Kita harus membuka mata dengan selera dunia. Biasanya itu kata-kata pembenaran yang digunakan. Kalau memang begitu mari kita berbesar hati mengucapkan kata-kata “Selamat Datang Batik China, Batik srilangka, Batik Malaysia, Batik Nigeria,… mari kita berbagi kue pasar dunia untuk produk Batik”.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: