Tinggalkan komentar

Kain Bertuah, Apakah itu?

Adi Kusrianto

Kain yang bertuah dengan kalimat yang lebih jelas adalah kain (tenunan) yang memiliki tuah. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, “tuah” memiliki arti sakti; keramat; berkat (pengaruh) yang mendatangkan keuntungan (kebahagiaan, keselamatan, dan sebagainya). Mungkin mirip juga dengan istilah azimat atau jimat. Benar, kita paham bahwa di masa lalu bangsa kita adalah bangsa yang menganut animisme, yang mempercayai hal-hal gaib dari suatu benda. Jika saya membahas kain bertuah, bukan saya mengajak Anda untuk mempercayai tuah yang dimiliki kain. Tetapi kita menghargai suatu karya budaya yang merupakan kearifan lokal yang dipelihara dan dilestarikan dari sisi kekayaan budaya bangsa kita.

Sebagai contoh, Nusantara yang kaya ini memiliki banyak karya-karya wastra yang bagi sebagian penduduk dianggap bertuah. Antara lain Kain Kapal dari Lampung. Kain ini dipergunakan untuk memanggil bantuan roh leluhur. Kain Geringsing dari Bali yang diyakini memiliki kekuatan untuk menyembuhkan orang sakit, Kain Pakiri Mbola dari Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur dipakai pada ritual kematian, dianggap sebagai bekal kubur.

Di Jawa, beberapa karya Batik dengan motif tertentu dianggap (dipercaya) memiliki tuah, di Flores kain-kain Patola (secara teknis adalah kain tenun dobel ikat) asal India telah dijadikan kain pusaka yang dipercaya memiliki tuah dan disimpan beberapa ratus tahun hingga di jaman kita.

Kain Kapal, adalah kain Tapis dari lampung yang memiliki motif kapal

Motif Kain Kapal ini telah menjadi insipirasi seni instalasi di Centraal Station yang merupakan “gerbang kota” Amsterdam di Belanda. (sumber Kompas.com)

Dalam Tulisan Drs. Hasanudin, M,Sn “Batik Pesisiran Melacak Pengaruh Etos Dagang Santri pada Ragam Hias Batik” (2001), saat menguraikan periode-periode batik pada era Kerajaan Hindu Budha menyebutkan ada periode yang dinamai sebagai periode batik tulis yang dibuat oleh dukun.

Bukan hanya Hasanudin yang mencantumkan adanya batik dukun, beberapa penulis yang lain juga mencantumkan adanya kain batik yang bertuah, yang dibuat oleh dukun. Bertuah dalam hal ini dimaksudkan bahwa kain ini dipercaya memiliki kasiat bisa menyembuhkan orang sakit dengan cara diselimutkan pada si sakit dan kasiat lain.

Masyarakat di kecamatan Kerek, Tuban adalah sekelompok masyarakat yang masih memegang teguh tradisi yang di lakukan para sesepuhnya. Tidak heran bila mereka masih memiliki tradisi turun temurun yang diperoleh sejak nenek moyangnya sejak zaman Majapahit, bahkan Singosari.

M. Rifat, salah seorang kolektor batik dalam keluarga besar pembatik di kecamatan Kerek berbagi cerita yang diperoleh dari neneknya tentang motif batik Gringsing. Di era kekuasaan raja Ken Arok (Sri Rajasa) antara tahun 1222 – 1227, para ponggawa kerajaan menggunakan kain bermotif gringsing byur (motif allover), sedang yang memiliki ornamen utama digunakan untuk raja.

Disamping itu juga dikenal motif Kesatriyan yang berbentuk segi lima dan ditengahnya ada titik putih, serta di hiasi oleh empat garis penunjuk arah mata angin. Hal ini sebagaimana dituturkan oleh Rukayah (70 tahun) dari Kerek, Tuban. Bahwa bukan hanya Gringsing dan Kesatriyan, di era Singosari juga dikenal kain Panji Krentil dan Panji Serong. Kedua batik motif itu biasanya digunakan dalam ritual tertentu. (Tempo, 2018)

Mengenai istilah Batik yang dibuat oleh dukun batik pada zaman nenek moyang kita, rasanya belum telalu jauh cerita semacam itu kita tinggalkan dari zaman kita. Bukankah kita biasa menyebut orang yang punya ilmu itu sebagai orang pinter, bahkan lebih popular dengan sebutan “dukun”.

  • Ada dukun manten (Perias dan yang menguasai tradisi dan ubarampe upacara pernikahan)
  • Dukun Hujan (Pawang Hujan)
  • Dukun Bayi (menolong persalinan sampai mengurut bayi)
  • Dukun Pengusir Mahluk Halus, dll.
  • Sampai ada Dukun Batik

Para pencipta ragam hias batik pada jaman dahulu tidak hanya menciptakan sesuatu yang indah dipandang mata, tetapi juga mereka mencari arti atau makna yang erat hubungannya dengan falsafah hidup yang mereka hayati (Sukarno, 1987).

Mereka menciptakan motif-motif batik itu dengan pesan dan harapan yang tulus dan luhur, semoga akan membawa kebaikan serta kebahagiaan bagi si pemakai (consumer oriented). Orang jaman dulu kebutuhannya tidak banyak, sehingga kebanyakan dari mereka lebih suka konsep menggunakan kelebihan (sifat linuwih) yang ada pada dirinya untuk menolong orang lain.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: