Tinggalkan komentar

Sinjang/ Nyamping/ Jarit/ Sewek (Apa sih bedanya??)

Adi Kusrianto

Di kalangan orang Jawa, ada istilah Sinjang dan Nyamping. Lalu ada juga istilah Jarit dan Sewek. Dalam bahasa nasional Indonesia semua itu dikenal dengan istilah “Kain Panjang” (sebrapa panjang sih?). Bahasa Jawa memang “wonderful”. Kalau dalam bahasa Inggris kata “rice” itu untuk menyebut sejak padi saat tumbuh disawah (rice field) gabah, beras, nasi, bubur, sampai upo. Nah bahasa Jawa kalau masih disawah namanya pari (padi) setelah dipanen masih berkulit namanya gabah, setelah dikuliti namanya beras, setelah ditanak namanya nasi, kalau dimasak dengan banyak air namanya bubur, kalau nasi beberapa butir namanya UPO.
Untuk menyebut kain batik ada istilah Sinjang, Nyamping dan Jarit? Apakah sekedar kromo inggil, kromo madyo dan boso ngoko?.
Coba perhatikan kalimat berikut ini.
“Bulik tindak Suroboyo NGAGEM JARIT”. (Bulik pergi ke Surabaya mengenakan jarit).
Pertanyaannya, jarit yang dipakai Bulik menggunakan wiru (wiron) apa tidak?.
Jawabnya tentu tidak.
Kalau kalimat berikut:
“Senaosa wonten ndalem, eyang putri tansah NGAGEM NYAMPING”. (Sekalipun di rumah, eyang putri (grand ma) selalu memakai NYAMPING (kain panjang)).
“Bu Darmo ngrawuhi resepsi ngagem SINJANG LATAR PETHAK”. (Bu Darmo menghadiri resepsi mengenakan SINJANG (kain panjang) ber latar warna putih).
Nah pertanyaannya kain panjang yang dikenakan grand ma dan Bu Darmo itu pakai di wiru apa tidak?
Jawabnya Iya, …DI WIRU.
Mengapa?
Istilah Nyamping dan Sinjang, digunakan wanita Jawa bergaya klasik yang motif batiknya cenderung batik klasik (bisa batik vorstenlanden alias batik model kraton, motif petani maupun batik Sudagar). Cirinya batik-batik tersebut di atas tanpa menggunakan tumpal (baik tumpal pinggir, tumpal kepala dan tumpal-tumpak lain). Batik klasik, saat dipakai biasanya selalu di wiru yaitu dilipit-lipit didepan diantara kedua paha, baik wanita maupun pria.
Ketika muncul Batik Pesisiran yang ditandai dengan adanya Tumpal (kebiasaan yang di ekspor dari budaya Melayu Riau), maka kain panjang yang sering disebut Jarit (basa ngoko/ basa Jawa madya) tidak lagi perlu di wiru. Karena dibagian depan diantara kedua paha ada tumpalnya. Ciri kain untuk wanita tumpanya ada di depan, di kedua ujung kain, disebut tumpal kepala. Kain panjang untuk Pria, biasanya sebagai sarung, tumpalnya terletak di bokong. Walaupun demikian tetap ada “breaking the rule” alias diluar patokan itu.
Memang akhirnya di kalangan masyarakat Jawa terjadi salah kaprah, mengartikan Sinjang, Nyamping dan Jarit (di Jawa Timur juga ada istilah SEWEK). Semua dianggap sama. Kain Panjang.
Tumpal mulai muncul di Batik Jawa, ketika pengusaha batik Pekalongan di awal abad ke 20 menerima banyak pesanan kain batik dari Riau, orang Melayu memesan batik khas mereka dengan ciri ada tumpalnya, dengan motif Pucuk Rebung yang sangat populer, juga pinggiran atas dan bawah berupa motif khas “Itiek pulang petang”, gambar itik berbaris membentuk garis pinggir pada kain batik. Motif ini disukai juga konsumen Jawa, lalu akhirnya berpengaruh pada ciri Batik Pesisiran. Bagi orang Mentaraman (Yogya/ Solo/ Pacitan/Trenggalek/ Kediri dsb.) semula ada percakapan khas: “Ini bukan Batik”. “Lah, apa kalau beitu?”. “Ini batik Pesisiran”.
Nah memangnya batik pesisiran itu bukan batik?
Bukan. Karena tidak bisa dijadikan pakaian saat ada hajatan, pengantinan. Semua itu ada adadnya sendiri-sendiri, gak boleh saltum. Ora ilok! Nah, lu…. Itu wong Jowo sing ora Njowo lho. Ngerti gak maksudnya. Orang Jawa yang tidak mengerti etika Jawa.
Para pengamat batik dari Belanda menyebut batik pesisiran ini adalah “Batik Foklore” alias batik rakyat, kebalikan dari Batik Vorstenlanden untuk kalangan bangsawan. Padahal sebelum generasi Batik Pesisiran sudah ada batik petani/ batik rakyat di wilayah pulau Jawa bagian tengah sampai ke Cirebon.
Batik Dalam Kehidupan Masyarakat Jawa Mentaraman. Akan saya posting pada tulisan berikutnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: