Tinggalkan komentar

Kain Bertuah, Apakah itu?

Adi Kusrianto

Kain yang bertuah dengan kalimat yang lebih jelas adalah kain (tenunan) yang memiliki tuah. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, “tuah” memiliki arti sakti; keramat; berkat (pengaruh) yang mendatangkan keuntungan (kebahagiaan, keselamatan, dan sebagainya). Mungkin mirip juga dengan istilah azimat atau jimat. Benar, kita paham bahwa di masa lalu bangsa kita adalah bangsa yang menganut animisme, yang mempercayai hal-hal gaib dari suatu benda. Jika saya membahas kain bertuah, bukan saya mengajak Anda untuk mempercayai tuah yang dimiliki kain. Tetapi kita menghargai suatu karya budaya yang merupakan kearifan lokal yang dipelihara dan dilestarikan dari sisi kekayaan budaya bangsa kita.

Sebagai contoh, Nusantara yang kaya ini memiliki banyak karya-karya wastra yang bagi sebagian penduduk dianggap bertuah. Antara lain Kain Kapal dari Lampung. Kain ini dipergunakan untuk memanggil bantuan roh leluhur. Kain Geringsing dari Bali yang diyakini memiliki kekuatan untuk menyembuhkan orang sakit, Kain Pakiri Mbola dari Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur dipakai pada ritual kematian, dianggap sebagai bekal kubur.

Di Jawa, beberapa karya Batik dengan motif tertentu dianggap (dipercaya) memiliki tuah, di Flores kain-kain Patola (secara teknis adalah kain tenun dobel ikat) asal India telah dijadikan kain pusaka yang dipercaya memiliki tuah dan disimpan beberapa ratus tahun hingga di jaman kita.

Kain Kapal, adalah kain Tapis dari lampung yang memiliki motif kapal

Motif Kain Kapal ini telah menjadi insipirasi seni instalasi di Centraal Station yang merupakan “gerbang kota” Amsterdam di Belanda. (sumber Kompas.com)

Dalam Tulisan Drs. Hasanudin, M,Sn “Batik Pesisiran Melacak Pengaruh Etos Dagang Santri pada Ragam Hias Batik” (2001), saat menguraikan periode-periode batik pada era Kerajaan Hindu Budha menyebutkan ada periode yang dinamai sebagai periode batik tulis yang dibuat oleh dukun.

Bukan hanya Hasanudin yang mencantumkan adanya batik dukun, beberapa penulis yang lain juga mencantumkan adanya kain batik yang bertuah, yang dibuat oleh dukun. Bertuah dalam hal ini dimaksudkan bahwa kain ini dipercaya memiliki kasiat bisa menyembuhkan orang sakit dengan cara diselimutkan pada si sakit dan kasiat lain.

Masyarakat di kecamatan Kerek, Tuban adalah sekelompok masyarakat yang masih memegang teguh tradisi yang di lakukan para sesepuhnya. Tidak heran bila mereka masih memiliki tradisi turun temurun yang diperoleh sejak nenek moyangnya sejak zaman Majapahit, bahkan Singosari.

M. Rifat, salah seorang kolektor batik dalam keluarga besar pembatik di kecamatan Kerek berbagi cerita yang diperoleh dari neneknya tentang motif batik Gringsing. Di era kekuasaan raja Ken Arok (Sri Rajasa) antara tahun 1222 – 1227, para ponggawa kerajaan menggunakan kain bermotif gringsing byur (motif allover), sedang yang memiliki ornamen utama digunakan untuk raja.

Disamping itu juga dikenal motif Kesatriyan yang berbentuk segi lima dan ditengahnya ada titik putih, serta di hiasi oleh empat garis penunjuk arah mata angin. Hal ini sebagaimana dituturkan oleh Rukayah (70 tahun) dari Kerek, Tuban. Bahwa bukan hanya Gringsing dan Kesatriyan, di era Singosari juga dikenal kain Panji Krentil dan Panji Serong. Kedua batik motif itu biasanya digunakan dalam ritual tertentu. (Tempo, 2018)

Mengenai istilah Batik yang dibuat oleh dukun batik pada zaman nenek moyang kita, rasanya belum telalu jauh cerita semacam itu kita tinggalkan dari zaman kita. Bukankah kita biasa menyebut orang yang punya ilmu itu sebagai orang pinter, bahkan lebih popular dengan sebutan “dukun”.

  • Ada dukun manten (Perias dan yang menguasai tradisi dan ubarampe upacara pernikahan)
  • Dukun Hujan (Pawang Hujan)
  • Dukun Bayi (menolong persalinan sampai mengurut bayi)
  • Dukun Pengusir Mahluk Halus, dll.
  • Sampai ada Dukun Batik

Para pencipta ragam hias batik pada jaman dahulu tidak hanya menciptakan sesuatu yang indah dipandang mata, tetapi juga mereka mencari arti atau makna yang erat hubungannya dengan falsafah hidup yang mereka hayati (Sukarno, 1987).

Mereka menciptakan motif-motif batik itu dengan pesan dan harapan yang tulus dan luhur, semoga akan membawa kebaikan serta kebahagiaan bagi si pemakai (consumer oriented). Orang jaman dulu kebutuhannya tidak banyak, sehingga kebanyakan dari mereka lebih suka konsep menggunakan kelebihan (sifat linuwih) yang ada pada dirinya untuk menolong orang lain.

***

Iklan
Tinggalkan komentar

The Heirloom of Indonesian Textile/ Kain yang di keramatkan sebagai Pusaka di Negeri kita

Adi Kusrianto

Pada tulisan Ruth Barnes yang berjudul “Five Centuries of Indonesian Textiles” ada satu alinea yang saya petik. Disitu Ruth yang seorang kurator museum dan tergila-gila mendalami tekstil Nusantara menuliskan begini.

“Pada pertengahan dasawarsa 1990an, telah dilakukan penyelidikan terhadap sampel-sampel kain Nusantara yang di pada masa lalu asalnya di beli dari pedagang Gujarat, India. Analisa itu dilakukan menggunakan radiocarbon (C-14). Seluruh kain yang dijadikan sampel percobaan itu adalah kain berbahan katun yang diasumsikan dan dipelihara dengan hati-hati sebagai barang pusaka (heirloom)

Diperoleh Fakta yang mengejutkan, bahwa ternyata dari usia kain berdasarkan penyelidikan itu telah berusia enam ratusan tahun. Kalau penyelidikan dilakukan tahun 1995, maka berarti kain itu dibuat pada tahun 1395 (Masyaallah). Selain itu yang lebih mengejutkan bahwa kebanyakan kain-kain itu adalah berupa kain yang dihasilkan dengan teknik wooden stamp alias kain yang di cetak menggunakan stempel kayu.

Kebetulan saya telah agak beberapa lama mempelajari dari sumber lain, bahwa apa yang dilaporkan dari riset tersebut adalah kain Chintz. Ketika masuk ke tanah Jawa, namanya diubah menjadi berbahasa Jawa, “Cinde”. Ya, kain cinde. Itulah yang rupanya dijadikan obyek Study Ruth barnes.

Mengapa masih banyak kain Chintz yang masih ditemukan pada dasawarsa 1990an? Pertama, kain itu terbuat dari serat kapas. Serat kapas yang disebut sebagai rajanya serat tekstil memang memiliki kekuatan yang paling baik (lebih kuat) dibanding serat tekstil alam lainnya. Yang kedua, sebagaimana tim yang diikuti Ruth Barnes ketika mengambil sampel kain lama itu, adalah kain-kain pusaka atau bahasa Inggrisnya heirloom. Kain pusaka adalah kain yang bukan dipakai sebagai busana sehari-hari atau sering dipakai (mungkin hanya jarang, sekali-sekali, misalnya kain yang dipakai saat pernikahan saja, habis itu disimpan sebagai memorabilia).

Bentuk pusaka yang lain yang disebutkan disini adalah kain-kain yang diskralkan, oleh karenanya dia dipelihara dengan cara yang sangat khusus. Inggat nggak, ada tradisi pusaka-pusaka kerajaan Nusantara sekali setahun pada bulan Suro itu di “sucikan”, “dimandikan”, yang dalam istilah lain kain itu di ratus, yaitu diasapi dengan dupa ratus. Kalau zaman sekarang sih Pak Prima yang ahli ngratus batik menyebutnya kain batik di Spa. Biar keren.

Kembali ke teknik menghias kain (mendisain kain) secara teknik dapat saya sebutkan ada dua cara, yang pertama dengan cara Struktural Design. Yaitu desain/hiasan kain itu dibuat saat menenun kain. Caranya mewarnai benang berbeda-beda selang seling sebagai contoh tenun lurik, atau membuat hiasan atau pola dengan cara mengikat benang agar diperoleh efek perintang warna. Yaitu yang dikenal dengan istilah tenun ikat. Di Gujarat tenun ikat ganda yang terkenal adalah PATOLA. Ada juga tenun ikat lain diluar jenis Patola. Nanti, saya akan bahas pada tulisan lain yaaa.

Nah teknik mendesain lainnya disebut Surface Design, yaitu kain yang didesain setelah kain itu selesai di tenun. Salah satu contohnya adalah kain Chint yang di stempel dengan pewarna tekstil. Contoh lain diantaranya adalah Batik.

Itulah yang hingga sekarang masih merupakan polemik. Apakah pakaian-pakaian yang dikenakan dewa-dewa/ raja-raja/ tokoh pada relief candi-candi itu adalah kain batik? Contohnya pada patung Prajdnaparamita, patung Durga dan tokoh lain di Candi Singosari itu adalah motif Batik?. Awalnya saya mengira itu batik, tetapi setelah belajar lebih lanjut saya berpikir saat itu pembatik belum ada yang secanggih itu dalam menggoreskan canting, membentuk motif-motif dengan bentuk dan repeat yang seperti itu. Besar kemungkinan para dewa itu mengenakan kain katun yang distempel alias kain Chitz yang memang tergolong kain sakral di zaman itu. Batik baru berkembang dizaman atau era setelah itu.

Saya akan membahas lebih lanjut kecenderungan itu pada tulisan yang lain.

Tinggalkan komentar

Kain Georgette

Topik ini saya muat pada buku “MENGENAL 50 KAIN BAHAN BUSANA”.

Harga Rp 150,000 pus ongkir.
WA 0816 545 7187

Tinggalkan komentar

Mengenal 50 Kain Bahan Busana

(Adi Kusrianto)

Buku ini adalah pengembangan dari buku yang berjudul “PENGETAHUAN BAHAN TEKSTIL DISERTAI CONTOH KAIN”, dimana saya bermaksud menyampaikan berbagai pengetahuan mengenai jenis dan nama kain bahan busana. Tulisan saya ini dimaksudkan sebagai referensi bagi pembaca yang dalam aktifitasnya berhubungan dengan memakai kain, baik sebagai seorang disainer fashion, sebagai penjahit, mereka yang tugasnya sebagai seorang fashion merchendiser, quality control maupun manajer produksi suatu pabtik tekstil.

Referensi seputar pengetahuan tentang kain ini lebih spsifik dibanding pengetahuan mengenai ilmu teknologi tekstil. Jika teknologi tekstil arahnya bagaimana memproduksi benang maupun kain, maka pengetahuan tentang kain ternyata jauh lebih dalam dan spesifik. Karena disini kita akan perlu berbekal pengetahuan tentang serat tekstil baik serat alam, serat semi sintetis hingga sintetis. Bentuk serat berupa staple (serat pendek) yang perlu di pintal terlebih dulu sehingga menjadi benang, maupun serat berbentuk filamen yang sudah berbentuk benang serabut panjang yang tidak perlu dipintal, melainkan hanya di rangkap dan di beri twist (puntiran).

Untuk mengenali kain, perlu mengetahui apakah jenis kain tenun, kain rajut, kain kempa (non woven fabric) atau macrame. Karena masing-masing kain tadi memiliki karakteristik meliputi kekuatan tarik, kemampuan untuk mempertahankan bentuk setelah mengalami tarikan, kemampuan untuk melar. Itu akan terkait bagaimana kain itu ditenun maupun di rajut.
Buku ini di terbitkan Adi Kusrianto Literary Agent. Harga Buku ini Rp. 150,000.- ditambah ongkos kirim.
Ukuran buku 14,9 x 21 cm, Kertas HVS 100 gram, cetak full color, jilid spiral.

Pemesanan melalui WA 0816 545 7187 Adi Kusrianto

Tinggalkan komentar

Selamat Datang Batik China, Batik Srilanka, Batik Nigeria, dan Batik Negara lain

Sejak tanggal 1 November 2021 yang lalu, di medsos banyak beredar video tentang expose Batik China. Menarik memang, terbutkti banyak yang me-reaksi postingan tersebut. Tetapi banyak justru yang jealous melihat ini, tanpa bisa berbuat apa-apa. Berikut ini adalah rangkuman komentar dan pendapat Adi Kusrianto, salah seorang penulis batik yang memiliki empat grup WA dengan peserta sekitar 800 member.

“Chinesse Batik”, sama halnya dengan “Malaysian Batik”, disini kata BATIK digunakan sebagai istilah Craftmenship (ketrampilan dalam kriya), dimana kosa kata BATIK sama halnya dengan kosa kata IKAT telah diserap dalam berbagai bahasa dan bahkan telah dimasukkan ke dalam kamus. Baik BATIK dan IKAT disebutkan istilah yang diserap dari Bahasa Indonesia.

Batik China sudah berusia 1000 tahun. Batik Indonesia berapa tahun ya?

Disinilah justru merupakan WARNING bagi para Pembatik kita, pemilik Batik Nusantara, agar benar-benar memahami Batik yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Untung ya, pembatik China itu tidak membuat batik Parang maupun Sidomukti. Mungkin parang dan sidomukti mereka lebih banyak terjual di seluruh dunia lho.

Jangan terlalu bebas mengembangkan batik sehingga justru ciri INDONESIAN BATIK malah hilang karena terbawa arus dagangan trend sesuai selera pasar dunia.

Ingat bahwa bangsa-bangsa lain juga membuat BATIK-BATIK dengan gaya mereka masing2. Sangat boleh jadi. Sekali lagi sangat boleh jadi, diantara batik-batik bebas, batik-batik modern ala pembalik millenial kita akan KALAH PAMOR dengan batik-batik negeri lain.

Jadi jangan bangga asal batik Anda laku dijual, laku di expor.

Pendapat tersebut di amini oleh beberapa anggota diantaranya  Bagas Mataya (Laweyan, Surakarta), Dr. Lucky (IKJ Jakarta), Slamet Arief (Perajin batik Kudus), Dra. Retna Devi (Tokoh penggiat batik Kediri).

Bahkan Dr. Lucky menulis komentarnya “Mengerikan yaaa…”

Program Ekonomi kreatif (dibawah pengelolaan Kemenparekraf) mendorong para desainer batik untuk berkreasi mengikuti trend fashion dunia. Para UKM “yang berada dibawah bimbingan Ekonomi Kreatif” rata-rata para pembatik yang penguasaan ilmu batiknya baru sebatas nyanting dan mewarnai, menyambut ajakan itu sehingga, booooommm,… batik-batik kreatif model begini muncul memenuhi pasar. Salah satu alasannya agar kaum millenial mau memakai batik. Dan bukannya mendidik kaum millenial mengenal batik itu sebenarnya apa, dan mereka akan menggunakan batik dengan sepenuh kebanggan setelah memahaminya.

Di pasar mereka akan bersaing dengan BATIK SRILANGKA, BATIK INDIA, BATIK MALAYSIA, BATIK CHINA,…. belum lagi model-model batik dari Afrika sebagaimana yang saya ekspose melalui tulisan saya. Dipasar lokal, seperi Mangga Dua, Tanah Abang, Pasar Atum kita akan berteriak ketika diserbu produk-produk batik luar negeri. Bukan saja lebih murah dan kualitasnya lebih baik, tetapi juga motif-motif nya yang lebih cenderung sebagai motif kain printing pada umumnya lebih disukai.

Lalu setelah disini, dimana “kesaktian”, “ke adiluhungan” warisan budaya nenek moyang itu”

Nuwun sewu, BALAI BESAR KERAJINAN DAN BATIK yang kita bersama harapkan akan melindungi BATIK dari seni massal, seni industrialisasi karena beliau-beliau berada dibawah kementerian PERINDUSTRIAN, ya tidak salah kalau arahannya adalah INDUSTRIALISASI BATIK.

Kita sendirilah para pecinta dan para pelestari batik yang menjadi benteng pelestarian batik, yang konon dalam berbagai jargon disebut sebagai WARISAN BUDAYA ADILUHUNG.

Silahkan temukan dimana ke ADI LUHUNGAN batik saat ini.

Jangan salahkan China dengan Chinesse batik, jangan salahkan Malaysia dengan Malaysian Batik. Itu hak dan kreatifitas mereka, sementara bangsa Indonesia sendiri yang merasa menjadi pemilik Batik, justru belum paham benar dengan Batik itu sendiri. Kosa kata Batik yang di Indonesia sendiri masih diperdebatkan asal katanya apa (????), saat ini justru sudah menjadi kata serapan pada kamus bahasa Inggris, bersamaan dengan kosa kata IKAT. Jadi sangat wajar bila ada Indian Batik, Srilanka’s Batik, Nigerian Batik dan batik-batik negara lain. Itu sah. Benar itu sah. Tidak perlu marah-marah.

Menurut Dra. Ratna Devi, pelatihan membatik saat ini kebanyakan mengajarkan mencanting motif-motif bebas, kontemporer. Tidak ada pengenalan bagaimana bentuk batik klasik yang konon memiliki makna dan filosofi itu. Juga pewarnaan yang dikenalkan kepada pembatik pemula adalah pewarnaan sintetis.

Sedangkan Bagas Nirwana salah seorang dari Mataya art & heritahe Surakarta, menambahkan “Nggih leres…(iya betul) maka dari sekarang saya mengajarkan menggambar untuk anak-anak, motif batik klasik Jawa. Sebaiknya mengenalkan batik Indonesia itu dari pengenalan ornamen-ornamen baku nya dulu”.

Kata-kata Bagas di benarkan oleh Ratna Devi (Kediri) dan Tami (Yogya).

Menurut Adi kusrianto, batik-batik Afrika, pasarnya sangat luas sekali diseluruh negara-negara Afrika dan mulai masuk Amerika melalui para Afro American.

Batik Print Ghana (Afrika)

Batik-batik Printing Afrika

(foto: Setyo Hargyanto)

Batik Srilanka yang dijual di kaki lima dibawah ini dijual dengan harga murah. Mereka sangat menyukai motif-motif Batik khas mereka. Bukan hanya orang Indonesia saja lho yang senang memakai batik.

Batik Printing Srilangka

Sedangkan batik tulis yang dibuat menggunakan malam dan canting, harganya lebih mahal untuk kualitas eksklusif seperti contoh-contoh berikut ini.

Batik Tulis Srilanka (Foto: Alami).

Ibu Indra Tjahyani:, salah seorang tokoh pelatih batik (Batik Yuuk.com) berujar “Betul, Saya juga sedih ketika dalam salah satu webinar nya  BBKB memperkenalkan Komputerisasi Motif Batik😔.

Lalu apa bedanya dengan batik printing???. Sudah hilang makna ke adiluhungan batik Indonesia jika negara justru mengejar produksi massal dari warisan budaya adiluhung ini dengan di obral murah, ujar Adi Kusrianto.

Gambar dibawah ini adalah batik-batik karya perajin China.

Wina Wilman dosen senior fakultas psykologi UI menyampaikan reaksinya hanya dengan menampilkan imoticon tangis dan lelehan air mata. 😭😭

Indra Tjahyani menambahkan  “Alhamdulillah workshop saya masih  konsisten memperkenalkan cara membatik traditional Indonesia dan berbagi tentang Filisofi dibalik ragam hias batik …. Mudah-mudahan  masih ada yg mau ikut workshop saya dan turut melestarikannya.

Adi  Kusrianto menambahkan, “Dalam hal pendidikan dan pelestarian BATIK, negara KOREA SELATAN bahkan mendukung pelestarian Batik Indonesia dengan MENYEWA ORANG INDONESIA/ AHLI BATIK INDONESIA untuk mendidik BANGSA INDONESIA untuk diajar BATIK. Para peserta sudah dididik dengan gratis, diberi fasilitas untuk berproduksi, diberi uang saku pula.

Apakah pemerintah kita tidak menoleh pada upaya ini?

Wina Wilman berkomentar “Di Sekolah Pilar (Sekolah Umum Swasta) sudah ada guru membatik”.

Iya benar bu Wina, tetapi yang diajarkan baru pelajaran mencanting. Masih jarang yang menjelaskan bagaimana motif-motif yang memiliki makna dan kegunaan tertentu. Tapi baca BATIK = KETRAMPILAN MENCANTING. Ilmu mencanting saat ini dikuasai banyak bangsa di dunia.

Jangan bilang, jaman sudah berubah dan yang klasik itu sudah kuno. Kita harus membuka mata dengan selera dunia. Biasanya itu kata-kata pembenaran yang digunakan. Kalau memang begitu mari kita berbesar hati mengucapkan kata-kata “Selamat Datang Batik China, Batik srilangka, Batik Malaysia, Batik Nigeria,… mari kita berbagi kue pasar dunia untuk produk Batik”.

***

Tinggalkan komentar

Apakah Batik Indonesia Selamanya akan Diakui Unesco?

Adi Kusrianto

Definisi Batik Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:

Kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain itu, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu.

Jika mengacu pada kata : “Pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain” itu adalah definisi teknik perintang warna (Resist Dyeing). Yaitu teknik yang telah dikenal sejak zaman purba dan bangsa-bangsa lain telah melakukan teknik itu. Definisi itu belum menyebut teknik spesifik pembuatan batik (yang berbeda dengan bangsa lain).

Di Persia Kuno dan Negara-negara Timur Tengah sudah ada pembuatan motif dengan teknik resist dyeing. Sementara di Asia, teknik yang sama dilakukan di Tiongkok semasa Dinasti Tsang antara tahun 618 hingga 907 Masehi. Di Jepang semasa Dinasti Nara antara tahun 715 hingga 794 yang disebut “ro-kechi”. Sedangkan di Afrika, teknik pewarnaan kain dengan resist dyeing juga dapat dijumpai pada Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal.

Lebih spesifik definisi Batik adalah teknik menghias kain dengan perintang warna, yang cara menggoreskan motif/ coraknya dengan menggunakan canting.

Catatan: teknik batik dengan cap dari metal juga diakui sebagai teknik batik, dan alatnya disebut ‘canting cap’.

Menurut GP Rouflaer seorang pustakawan Belanda yang melakukan pengamatan dari hasil temuan motif gringsing yang ditemukan semenjak abad ke 12 di Kediri, karena kehalusan dan kecermatan goresan motifnya  hanya bisa dibuat menggunakan alat yang kemudian disebut canting.

Awalnya pada era batik klasik, kain batik itu hiasan/ motifnya dengan menggunakan motif- motif tertentu. Menurut Sri Soedewi Syamsi, dalam bukunya Pola ragam hias Batik Yogya dan Solo, batik itu dibuat menggunakan motif-motif tertentu, masing2 memiliki nama dan fungsi.

Aturan dalam menyusun hiasan kain batik terdiri dari komponen-komponen yaitu motif utama, motif hias pelengkap, dan sebagai background ada motif isen-isen.

Ketika UNESCO melakukan penelitian apakah masih ada kelompok/ komunitas/ suku yang secara tradisi memakai/ menggunakan kain batik untuk menjalankan ritual tradisi tertentu. Ternyata mereka menemukan bahwa (setidaknya) suku Jawa memang hingga saat ini masih menggunakan batik dengan motif tertentu untuk menjalankan ritual tertentu.

Dengan demikian definisi lebih lengkap:

Jadi Batik Indonesia, jika didefinisikan harus mencakup hal-hal yang disebut diatas. Berdasarkan batasan tadilah maka lembaga dunia yang terdiri dari berbagai bangsa (termasuk diantaranya bangsa Malaysia) menerima bahwa “Batik adalah Budaya tak- benda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity) dari bangsa Indonesia.

Lalu apakah Dunia (UNESCO) akan mengakui Batik Indonesia selamanya? Bisa jadi tidak. Kenapa?

Jika batik indonesia ternyata dalam perkembangannya diketahui tidak mampu menjaga pelestarian lingkungan, justru industri batik menyebabkan pencemaran karena limbah pewarna kimia, limbah waterglass zat kimia yang dikenal sebagai salah satu zat mordanting (penyerap dan pengunci pewarna pada tekstil). Hal ini para perajin batik tidak peduli bagaimana mereka membuang limbah tanpa terlebih dulu melakukan upaya penjinakan kerasnya zat kimia yang dipakai dalam proses batik.

Ada teman yang melakukan aktifitas finishing batik dirumahnya, lalu serta merta ia membuang limbahnya ke got depan rumah. Apa yang terjadi, beberapa hari kemudian para tetangga berujar, bahwa tidak lagi ada jentik-jentik, tikus dan kecoak di got tersebut. Itu dampak awal dari dibuangnya limbah di got. Semua organisme yang ada di aliran got mati. Jika itu dilakukan terus-menerus, maka dampak lebih serius akan terjadi, yaitu rusaknya ecosistem disekitar lingkungan tersebut. Jika hal semacam itu tidak dicegah, maka teknik produksi batik akan di tuduh sebagai pencemar lingkungan secara diam-diam.

Foto limbah cair
dari Batikaa

Itu baru limbah. Bagaimana dengan motif dan cara pembuatan batik yang semakin banyak yang meninggalkan cara-cara tradisional. Bukan lagi menggunakan canting, cap dan malam. Apakah pada perkembangannya dunia masih mengakui bahwa itu adalah batik? Apakah para desainer batik zaman now yakin bahwa mereka itu paham bagaimana motif batik ? Memang batik motifnya tidak harus dibekukan (freezing) dan senantiasa mengikuti pola batik klasik. Sejak munculnya batik pesisiran sudah terjadi “breaking the rule” terhadap motif batik. Munculnya “Batik Peranakan”, “Batik Belanda”, “Batik Jawa Hokokai”, “Batik Jawa Baru”, “Batik Nusantara” pasca Indonesia merdeka. Perlukah para desainer batik paham? Ataukah mendesain apa saja, asal laku dijual, asal mengikuti trend mode dunia? Bukankah Konsumen itu raja?.

Saya kuwatir suatu saat seniman batik luar negeri lebih paham batik kita dibanding kita sendiri.

Catatan:

banyak wastra Nusantara yang di negeri kita sudah dianggap ‘punah’, ternyata beberapa museum di luar negeri masih menyimpannya lengkap dengan detil informasinga.

Catatan: banyak literatur yang disusun oleh penulis-penulis asing yang justru menjadi referensi dan patokan informasi yang lebih dianggap valid dibanding catatan yang dibuat penulis lokal.

Sadarkah Anda, Borobudur kita bertahun-tahun diakui dunia sebagai salah satu seven wonder (salah satu dari tujuh keajaiban dunia). Kenapa Borobudur sekarang tercoret, sementara Tembok Besar China, Taj Mahal India, patung Cristo Redentor (Jesus Sang Penebus)  di Rio De Janeiro masih bertahan ? Mikiir……..

Bisa jadi suatu saat Batik bukan lagi diakui dunia, karena rakyat Indonesia tidak mampu merawat, mempertahankan keaslian dan ke eksotisan Batik Indonesia. Batik hanya menjadi barang dagangan semata yang dipakai sebagai obyek dagangan tanpa merawat konten penting dari budaya yang bernama Batik.

Saya tidak bermaksud mengadili, terserah dari sudut pandang mana Anda memandang. Monggo, please welcome.

Tambahan:

Berikut ini definisi batik berdasarkan SNI (Standard Nasional Indonesia) ini adalah pengertian kata batik berasarkan jajaran Dinas perindustrian, dimana kepentingan batik sebagai salah satu sarana ekonomi kreatif.

Batik sebagai sunber pendapatan ekonomi, yaitu sesuai dengan kepentingan pemerintah dalam meajukan ekonomi nasional dan kesejahteraan UMKN/ perajin batik. Dimana kepentingan ini dianggap lebih esensial dibanding hanya sekedar pengertian batik sebagai harta budaya.

Apalah artinya warisan jika tidak bisa memberi nilai jual. Ciri khas sisi penilaian dari mental yang miskin, semua di hitung dari sisi bagaimana mendapatkan keuntungan secara materi.

Jadi saya kembalikan kepada penilaian Anda.





Gambar No  5 : Kreatifitas, inovasi menerobos pasar?
Gambar No  6 : Kemampuan menangkap selera pasar.

Tinggalkan komentar

Asal Usul Batik Klasik di Jawa Timur

Adi Kusrianto
(kutipan dari buku “Memberantas Buta Batik di negeri Batik”)

Sebelum mengenal kain yang di era kita di sebut Batik, raja-raja di Jawa Timur menggunakan bahan busana dari kain impor yang diperoleh dari pedagang luar negeri (China dan India). Mereka tidak mensakralkan kain-kain impor tadi karena kain-kain tersebut tidak dibuat berdasarkan kemauan mereka. Atau setidaknya motif maupun proses pembuatannya tidak melibatkan mereka secara emosianal maupun menuangkan karsa mereka atas “isi” bahan busana itu.

Semenjak dikenalnya teknik membatik, yang dilakukan oleh para abdidalem, maka para raja memesankan apa yang menjadi “karsa” (selera, filsafat) itu ke dalam kain yang di disain itu. Dari proses itulah ter wakili idealisasi budaya raja atau kraton ke dalam motif batik. Dan semenjak itu pulalah kain batik mendapatkan cap sebagai busana aristokrat Jawa.

“Ornamen yang di bawa ke dalam motif kain di Jawa sesungguhnya bukan karya ciptaan baru sama sekali, melainkan memindahkan ornamen-ornamen yang diambil dari seni ukir maupun seni sungging (seni lukis seperti pada wayang) yang telah ada sebelumnya.”

Ketika dibawa ke dalam corak kain, ornamen-ornamen tadi dibuat dengan lebih teliti, detil serta dengan sentuhan tangan kaum bangsawan kraton. Apa yang diistilahkan sebagai Batik Kraton, Batik Aristokrat, Batik Raja sesungguhnya adalah karya seni batik yang halus yang di lukis menggunakan goresan canting. Istilah Batik (ambatik) itu baru muncul pada era kerjaan Mataram Islam, dimana disitu mulai digunakan bahasa Jawa modern. Pada tatanan bahasa jawa Modern dikenal boso Jawa ngoko dan basa Jawa Krama.

Sebagaimana seni yang lain pada jaman itu, para seniman, baik itu seniman yang menuangkan karyanya pada logam (keris, tombak, perhiasan) pada tembikar (perabot untuk rumah tangga keraton), kayu (ukir), kulit (wayang, mahkota, aksoseris ) hingga kain batik, seniman melakukan dengan (semacam) pressure yang datang dari dalam dirinya sendiri. “Tekanan” itu diantaranya berupa rasa hormat, ke seganan, kepatuhan yang sangat tinggi dihadapan raja. Merasa bahwa dirinya bukanlah apa-apa sedangkan raja adalah agung, tinggi, terhormat diatas segala-galanya (diluar konsep agama). Oleh karenanya pada diri seniman muncul suatu kekuatan atau spirit yang terjadi diluar kemampuan kehidupan normalnya. Oleh karenanya sebelum memulai karyanya para seniman sering melakukan ritual berpuasa yang bermacam-macam. Puasa pantang makan minum, puasa mutih (hanya makan nasi tanpa garam dan perasa lain), hingga puasa tidak berbicara (sebagai manifestasi dari konsentrasi yang dicurahkan pada proyek pekerjaan yang sedang dilakukan). Hasil dari produk budaya semacam itu adalah cerminan dari kehalusan budi dari kaum aristokrat. Anggapan bahwa raja berbudi halus, luhur, patut diteladani.

Bagi rakyat (diluar keluarga raja), seni batik kemudian dijadikan sebagai model budaya untuk mengagungkan rasa hormat kepada kaum aristokrat, sebagai simbol produk budaya yang prima, halus bahkan sebagai kultur “dewaraja”. Jika sebelumnya rakyat yang membuat batik sebagai perintang waktu, sebagai upaya pemenuhan kebutuhan sandang, kemudian bergeser pandangannya bahwa batik adalah produk budaya istana. Yang bagus adalah batik seperti yang dibuat untuk raja. Fungsinya tergeser dari kepentingan rakyat menjadi kepentingan raja, dengan tujuan untuk memperkuat kedudukan raja.  .

Motif-motif batik klasik mengandung beberapa arti dan dipandang cukup berarti bagi sebagian orang Jawa. Ornamen batik klasik mampu melahirkan citarasa keindahan. Indah dalam arti mampu memadukan tata warna serta susunan bentuk ornamennya sehingga harmonis. Didalamnya harus mampu memberikan keindahan jiwa, sehingga memberikan gambaran yang utuh sesuai paham kehidupan yang dianutnya.

Batik Klasik memuat pandangan falsafah orang Jawa yang memberi arti simbolik secara kosmologi tentang adanya dunia bawah dan dunia atas yang sering dipadukan menjadi dunia tengah atau dwitunggal. Sikap menggabungkan  dua menjadi satu seperti itu pada masyarakat Jawa disebut Sinkretisme.  (Geertz, 1976 (first published 1960))

Gambar No  12 : Di Candi Arimbi (Ngrimbi) terdapat Patung Raden Wijaya yang pakaiannya patut diduga itu adalah batik.

Mengutip thesisnya, Drs. Hasanuddin, MSn yang menulis bahwa, temuan arkeologi berupa arca di dalam Candi Arimbi (didukuh Ngrimbi desa Pulosari, kecamatan Bareng,Kabupaten Jombang) menggambarkan sosok Raden Wijaya, raja pertama Majapahit  yang memerintah antara 1294-1309, yang memakai kain dengan ragam hias berbentuk kawung (baca catatan dibawah) (Van der Hoop, 1949). Bisa saja ragam hias pada kain itu dibuaat dengan teknik lukis, prada, tenun songket, ataupun batik. Tetapi bila diamati secara lebih teliti, yaitu dengan membandingkan rincian pada bentuk perhiasan manik-manik dan urat daun teratai, maka bobot arca tersebut sangat rinci, halus dan teliti. Ketelitian dalam menggambarkan garis dan titik menjadi indikasi teknik yang dipakai saat membuat kain itu. Garis lembut sejajar sebagai batas bentuk elips kawung mengingatkan pada garis sejajar yang dihasilkan oleh canting carat loro (canting dengan dua buah cucuk) pada teknik membatik. Sedangkan susunan titik yang runtut hampir berdekatan hanya mungkin dihasilkan oleh canting cecek siji yang biasa digunakan untuk membuat isenisen cecek (titik). Jadi dapat disimpulkan bahwa teknik hias pada kain tersebut bukan tritik, plangi, ataupun dengan ikat. Dengan teknik tenun songket sulit menghasilkan garis lembut sejajar, apalagi titik yang hampir bersinggungan. Yang paling mungkin adalah teknik lukis, prada, atau batik. Sementara teknik lukis dan prada kurang lazim dipakai untuk pakaian, apalagi pakaian raja. Alasannya karena lukisan atau prada cepat rontok, akibat dari ramuan cat alam yang kurang bisa bertahan lama. Sedangkan teknik batik bisa bertahan lama. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kain yang dipakai Raden Wijaya seperti yang nampak pada arca di Candi Ngrimbi adalah batik.

Catatan : Aline terakhir ini pernah dimuat pada buku saya “Batik, Filosofi, Motif dan Kegunaannya”.

Penggunaan Istilah Kawung untuk menyebut Motif Simbol Mandala.

Motif Kawung, diciptakan oleh Sultan Agung Hanyokrokusuma yang masa hidupnya antara tahun antara tahun 1613 sampai 1645. Artinya sebelum periode itu belum ada sebutan Kawung. Hanya karena begitu populernya istilah Kawung, maka para pengamat batik, para penulis menggunakan istilah kawung untuk menyebut bentuk simbol mandala yang sebenarnya dalam istilah Jawa disebut Tapak Dara. Dari penyebutan ini akhirnya terbawa ketika bangsa asing mewawancarai para ahli batik sehingga sebutan istilah atau nama motif batik digunakan pada motif-motof kuno sebelum kelahiran istilah batik ada.

Pembahasan lain mengenai ini silahkan baca pada topik Batik Kediren.

***

Tinggalkan komentar

Batik Klasik Di Jawa Timur

Adi Kusrianto
(kutipan dari buku “Memberantas Buta Batik di negeri Batik”)

Sebelum mengenal kain yang di era kita di sebut Batik, raja-raja di Jawa Timur menggunakan bahan busana dari kain impor yang diperoleh dari pedagang luar negeri (China dan India). Mereka tidak mensakralkan kain-kain impor tadi karena kain-kain tersebut tidak dibuat berdasarkan kemauan mereka. Atau setidaknya motif maupun proses pembuatannya tidak melibatkan mereka secara emosianal maupun menuangkan karsa mereka atas “isi” bahan busana itu.

Semenjak dikenalnya teknik membatik, yang dilakukan oleh para abdidalem, maka para raja memesankan apa yang menjadi “karsa” (selera, filsafat) itu ke dalam kain yang di disain itu. Dari proses itulah ter wakili idealisasi budaya raja atau kraton ke dalam motif batik. Dan semenjak itu pulalah kain batik mendapatkan cap sebagai busana aristokrat Jawa.

“Ornamen yang di bawa ke dalam motif kain di Jawa sesungguhnya bukan karya ciptaan baru sama sekali, melainkan memindahkan ornamen-ornamen yang diambil dari seni ukir maupun seni sungging (seni lukis seperti pada wayang) yang telah ada sebelumnya.”

Ketika dibawa ke dalam corak kain, ornamen-ornamen tadi dibuat dengan lebih teliti, detil serta dengan sentuhan tangan kaum bangsawan kraton. Apa yang diistilahkan sebagai Batik Kraton, Batik Aristokrat, Batik Raja sesungguhnya adalah karya seni batik yang halus yang di lukis menggunakan goresan canting. Istilah Batik (ambatik) itu baru muncul pada era kerjaan Mataram Islam, dimana disitu mulai digunakan bahasa Jawa modern. Pada tatanan bahasa jawa Modern dikenal boso Jawa ngoko dan basa Jawa Krama.

Sebagaimana seni yang lain pada jaman itu, para seniman, baik itu seniman yang menuangkan karyanya pada logam (keris, tombak, perhiasan) pada tembikar (perabot untuk rumah tangga keraton), kayu (ukir), kulit (wayang, mahkota, aksoseris ) hingga kain batik, seniman melakukan dengan (semacam) pressure yang datang dari dalam dirinya sendiri. “Tekanan” itu diantaranya berupa rasa hormat, ke seganan, kepatuhan yang sangat tinggi dihadapan raja. Merasa bahwa dirinya bukanlah apa-apa sedangkan raja adalah agung, tinggi, terhormat diatas segala-galanya (diluar konsep agama). Oleh karenanya pada diri seniman muncul suatu kekuatan atau spirit yang terjadi diluar kemampuan kehidupan normalnya. Oleh karenanya sebelum memulai karyanya para seniman sering melakukan ritual berpuasa yang bermacam-macam. Puasa pantang makan minum, puasa mutih (hanya makan nasi tanpa garam dan perasa lain), hingga puasa tidak berbicara (sebagai manifestasi dari konsentrasi yang dicurahkan pada proyek pekerjaan yang sedang dilakukan). Hasil dari produk budaya semacam itu adalah cerminan dari kehalusan budi dari kaum aristokrat. Anggapan bahwa raja berbudi halus, luhur, patut diteladani.

Bagi rakyat (diluar keluarga raja), seni batik kemudian dijadikan sebagai model budaya untuk mengagungkan rasa hormat kepada kaum aristokrat, sebagai simbol produk budaya yang prima, halus bahkan sebagai kultur “dewaraja”. Jika sebelumnya rakyat yang membuat batik sebagai perintang waktu, sebagai upaya pemenuhan kebutuhan sandang, kemudian bergeser pandangannya bahwa batik adalah produk budaya istana. Yang bagus adalah batik seperti yang dibuat untuk raja. Fungsinya tergeser dari kepentingan rakyat menjadi kepentingan raja, dengan tujuan untuk memperkuat kedudukan raja.  .

Motif-motif batik klasik mengandung beberapa arti dan dipandang cukup berarti bagi sebagian orang Jawa. Ornamen batik klasik mampu melahirkan citarasa keindahan. Indah dalam arti mampu memadukan tata warna serta susunan bentuk ornamennya sehingga harmonis. Didalamnya harus mampu memberikan keindahan jiwa, sehingga memberikan gambaran yang utuh sesuai paham kehidupan yang dianutnya.

Batik Klasik memuat pandangan falsafah orang Jawa yang memberi arti simbolik secara kosmologi tentang adanya dunia bawah dan dunia atas yang sering dipadukan menjadi dunia tengah atau dwitunggal. Sikap menggabungkan  dua menjadi satu seperti itu pada masyarakat Jawa disebut Sinkretisme.  (Geertz, 1976 (first published 1960))

Gambar No  12 : Di Candi Arimbi (Ngrimbi) terdapat Patung Raden Wijaya yang pakaiannya patut diduga itu adalah batik.

Mengutip thesisnya, Drs. Hasanuddin, MSn yang menulis bahwa, temuan arkeologi berupa arca di dalam Candi Arimbi (didukuh Ngrimbi desa Pulosari, kecamatan Bareng,Kabupaten Jombang) menggambarkan sosok Raden Wijaya, raja pertama Majapahit  yang memerintah antara 1294-1309, yang memakai kain dengan ragam hias berbentuk kawung (Van der Hoop, 1949). Bisa saja ragam hias pada kain itu dibuaat dengan teknik lukis, prada, tenun songket, ataupun batik. Tetapi bila diamati secara lebih teliti, yaitu dengan membandingkan rincian pada bentuk perhiasan manik-manik dan urat daun teratai, maka bobot arca tersebut sangat rinci, halus dan teliti. Ketelitian dalam menggambarkan garis dan titik menjadi indikasi teknik yang dipakai saat membuat kain itu. Garis lembut sejajar sebagai batas bentuk elips kawung mengingatkan pada garis sejajar yang dihasilkan oleh canting carat loro (canting dengan dua buah cucuk) pada teknik membatik. Sedangkan susunan titik yang runtut hampir berdekatan hanya mungkin dihasilkan oleh canting cecek siji yang biasa digunakan untuk membuat isenisen cecek (titik). Jadi dapat disimpulkan bahwa teknik hias pada kain tersebut bukan tritik, plangi, ataupun dengan ikat. Dengan teknik tenun songket sulit menghasilkan garis lembut sejajar, apalagi titik yang hampir bersinggungan. Yang paling mungkin adalah teknik lukis, prada, atau batik. Sementara teknik lukis dan prada kurang lazim dipakai untuk pakaian, apalagi pakaian raja. Alasannya karena lukisan atau prada cepat rontok, akibat dari ramuan cat alam yang kurang bisa bertahan lama. Sedangkan teknik batik bisa bertahan lama. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kain yang dipakai Raden Wijaya seperti yang nampak pada arca di Candi Ngrimbi adalah batik.

Catatan : Aline terakhir ini pernah dimuat pada buku saya “Batik, Filosofi, Motif dan Kegunaannya”.

Penggunaan Istilah Kawung untuk menyebut Motif Simbol Mandala.

Motif Kawung, diciptakan oleh Sultan Agung Hanyokrokusuma yang masa hidupnya antara tahun antara tahun 1613 sampai 1645. Artinya sebelum periode itu belum ada sebutan Kawung. Hanya karena begitu populernya istilah Kawung, maka para pengamat batik, para penulis menggunakan istilah kawung untuk menyebut bentuk simbol mandala yang sebenarnya dalam istilah Jawa disebut Tapak Dara. Dari penyebutan ini akhirnya terbawa ketika bangsa asing mewawancarai para ahli batik sehingga sebutan istilah atau nama motif batik digunakan pada motif-motof kuno sebelum kelahiran istilah batik ada.

Pembahasan lain mengenai ini silahkan baca pada topik Batik Kediren.

***

Tinggalkan komentar

Kain Bahan Busana di Abad 6 sampai 9 Masehi Di era Kerajaan Syailendra hingga Kadiri

Dari Wdihan hingga Asal usul Batik

(Adi Kusrianto)

Di abad 6 hingga 12 Masehi, kain jauh lebih berharga dibanding emas dan perak. Ini yang kita harus ketahui, mengapa demikian?. Seseorang merasa lebih dihargai bila ia diberikan kain, dibanding gelang emas maupun perak.

Dari ratusan prasasti yang telah dipelajari para arkeolog, berkenaan dengan penganugerahan SIMA, yaitu suatu daerah yang diberikan pembebasan pajak. Di situ kain (wastra) hampir selalu disebut sebagai salah satu hadiah yang diberikan pejabat kerajaan sebagai anugerah status sima kepada kepala wilayah sebagai simbolisasi anugerah. Artinya dengan wastra tersebut maka seseorang yang diangkat pangkat dan derajatnya sehingga dia diperkenankan menggunakan jenis kain tersebut.

Pada relief Borobudur ini bisa di amati, bahwa masing-masing tokoh dalam adegan ini menggunakan pakaian yang berbeda. Disitu dapat disimpulkan mana yang ststusnya lebih rendah dan lebih tinggi.

Dari beberapa prasasti menyebutkan kegunaan dan larangan dalam mengenakan jenis kain tertentu dan ragam warna-warni benang tertentu. Dari situ dapat di simpulkan bahwa sejak pada budaya Jawa kuno telah terdapat diskriminasi atau dengan kalimat lain diartikan sebagai simbolisasi dalam berbusana.

Pada prasasti itu di tulis bahwa kain atau wastra yang digunakan masyarakat biasa berbeda dengan kain untuk busana para pejabat, bangsawan, atau raja.

Dari penyebutan benang-benang berwarna warni, awalnya dapat disimpulkan kain yang dianggap berharga itu berupa kain dengan stuktural disain, yang cara menghiasnya saat kain ditenun. Bukan dihias setelah menjadi kain (bukan surface disain).

Dari prasasti abad ke enam Masehi atau yang lebih awal lagi, diperoleh gambaran bahwa pada masyarakat Jawa telah terdapat ciri berpakaian berdasarkan status sosialnya. Hal ini dapat diketahui dari relief-relief candi yang dibuat pada era tersebut.  (Putri R. H., 2018).

Kalau menurut dugaan para arkeolog, motif kain tercermin pada relief candi seperti gambar ini, maka kemungkinannya bukan motif tenun, tetapi motif sulam.

Nah, jika mengacu pada kata-kata di atas, bila hiasan kain di era itu tergambar pada ukiran/ pahatan di candi, berarti kira2 bentuknya seperti gambar di atas? Maka jelas yang dimaksud bukan tersusun dari teknik menenun, melainkan teknik menyulam?

Kain dengan teknik menyulam pada abad ke 500an (abad ke 6 Masehi), berarti kain itu di impor dari China?, dibawa pedagang atau pengelana dari Cina?

Secara umum, fungsi berpakaian adalah untuk menutupi dan melindungi diri. Namun pada masyarakat yang lebih tinggi status sosialnya, berpakaian juga merupakan cara untuk menghias tubuh. Pada kaum brahmana maupun pendeta digambarkan mereka berpakaian dengan jubah terbuat dari kain katun polos dan bahu kanannya terbuka. Dalam prasasti disebutkan bahwa pakaian yang dikenakan para pendeta itu disebut sinhel.

Di Jawa di era itu baik pria maupun wanita tidak ada yang mengenakan pakaian penutup dada. Mereka hanya mengenakan penutup bagian bawah tubuh, berbentuk kain panjang berbahan katun. Rambut mereka dibiarkan tergerai. Namun bagi kalangan bangsawan dan raja mereka mengenakan kain dengan hiasan bergambar bunga yang tipis dalam bentuk selendang guna menutup bagian atas tubuh. Kalangan ini juga mengenakan ikat pinggang emas dan anting-anting emas.

Para perempuan muda menutupi tubuh mereka dengan kain katun dan mengenakan ikat pinggang dengan hiasan berupa sulaman.

Jika dilakukan pengamatan secara lebih spesifik pada jenis kain yang dipakai, maka jenis kain pun menunjukkan identitas sosial. Supratikno Rahardjo pada buku tulisannya yang berjudul “Peradaban Jawa: dari Mataram Kuno sampai Majapahit akhir” (2011), mengungkapkan “berdasarkan data prasasti pakaian laki-laki biasanya disebut Wdihan. Sedangkan pakaian untuk perempuan disebut kain atau ken”.

Disebutkan juga bahwa beberapa jenis kain yang dikenal dalam sumber-sumber Jawa Kuno, kain yang masuk dalam jenis Wdihan adalah nama-nama sebagai berikut:

Ganjar haju patra sisi, Ganjar patra sisi,Ganjar haji, Ganjar patra, Jaro haji, jaro, Bwat kling putih, Bwat pinilai, pinilai, Bwat lwitan, Kalyaga, Pilih angsit, Rangga, tapis, Siwakidang, Bira/wira, Jaga, Hamawaru, Takurang, Alapnya,Sularikuning, Ragi, Pangalih, Ambay-ambay, Lunggar, Bwat waitan, Cadar, Lwir mayang, Putih, Raja yoga, Pamodana, Ron paribu, Suswan, Prana, Sulasih, Tadahan, Syami himi-himi.  

Sementara yang termasuk ken (kain) adalah adalah:

Jaro, Kalagya Pinilai, Bwat wetan, Bwat lor, Pangkat, Bwat ingulu,Kalangpakan, Atmaraksa. Khaki, Putihan, Rangga, Kalamwetan.  

Kain-kain itu, menurut sumber Jawa Kuno, dikenakan oleh seseorang sesuai status sosialnya. Dalam Prasasti Rukam 829 saka (907 M) disebutkan kain jenis ganjar patra (lihat Wdihan nomor 5), diberikan oleh raja kepada Rakaryan Mapatih i hino, yaitu gelar untuk putra sulung raja. Sementara dalam Prasasti Tunahan 794 saka (872 M) Wdihan ganjar patra diberikan kepada Sri Maharaja.

Prasasti Sangsang saat ini tersimpan di Tropen Museum, Belanda. Pada prasasti ini menyebutkan juga kain Wdihan sebagai hadiah.

Pilih maging (lihat daftar nama Wdihan nomor 14) dalam Prasasti Sangsang (829 saka atau 907 Masehi) juga diberikan kepada Sri Maharaja. Sementara dalam Prasasti Lintakan (841 saka) kain yang sama diberikan kepada Rakryan i hino.

Jejak Sejarah di Desa Poh Sarang | MAJALAH ARKEOLOGI INDONESIADi dalam Prasasti Poh (827 saka) Wdihan kalyaga (Wdihan nomor 32) diberikan kepada rakryan mapatih i hino. halu, sirikan, wka, sang pamgat tiruan,”.

Prasasti Poh, di Poh Sarang Kediri

Di dalam Prasasti Mulak 800 saka (878 M) disebutkan kain jenis ken rangga (lihat daftar nama jenis ken nomor 12) diberikan kepada makudur. Dalam Prasasti Humanding 797 saka (875 M) Wdihan angsit diberikan kepada samgat wadihati. Wdihan bira (Wdihan nomor 18) dalam Prasasti Kwak I (801 saka) diberikan kepada mereka yang memiliki jabatan sebagai halaran, pangkur, tawan, tirip, dan sebagainya.

Dalam Prasasti Gandhakuti (1042 M) disebutkan penerima hak istimewa diperbolehkan memakai apa saja yang biasa dipakai di dalam nagara. Mereka diperbolehkan memakai pakaian pola ringring bananten yang mungkin artinya kain halus, patarana benanten, kain berwarna emas, pola patah, ajon berpola belalang, berpola kembang, warna kuning, bunga teratai, berpola biji, kain awali, dulang pangdarahan, dodot dengan motif bunga teratai hijau, sadangan warna kunyit, kain nawagraha, dan kain pasilih galuh

Pada budaya Jawa, penggunaan kain sebagai ciri atau penanda status sosial digunakan hingga di beberapa daerah pada era modern ini. Mulai penggunaan motif batik di kalangan kraton hingga penggunaan kain-kain tertentu dan pola tertentu untuk dipakai masyarakat dengan status soaial tertentu misalnya pada masyarakat kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur (Ren Herenga – Nini Towok’s Spinning Wheel (2010). Kami bahas pada bab lain.

Penggambaran Busana abad ke 13 menurut Pujangga Empu Monaguna.

“Lalu para dayang belia datang bagaikan dewi, mengenakan kemben kain wulang emas. Selendang emas murni yang mereka sampirkan pada bahu tampak berkilauan seperti sayap untuk terbang. Para dayang itu masih keturunan bangsawan sahabat raja. Mereka tengah menghadiri sayembara memperebutkan Putri Indumati.” (mirip kontes miss-miss an di era kita)

Suasana sebagaimana diungkapkan pada kalimat di atas, ditulis oleh Mpu Monaguna, pujangga dari Kadiri pada abad ke-13 M lewat karyanya Kakawin Sumanasāntaka. Dari gambaran singkat itu terbayang bagaimana pakaian orang-orang pada masa lalu. Selain dari karya sastra, informasi itu juga muncul dalam relief candi dan prasasti. (Putri R. h., 2018).

Dari temuan-temuan di atas, jelas belum ada kata “Batik”, bahkan belum ada uraian yang menyebutkan kain seperti wujud batik sebagaimana yang kita kenal saat ini.

Kelihatannya kita bangsa Indonesia harus lebih serius mempelajari asal-usul batik.

Kita lanjutkan pembahasan kita edisi bulan depan.

Prasasti Wilwatikta

***

Tinggalkan komentar

“Hock Joe” dan “Balotelli” pada Pasar Kain Suiting

(Adi Kusrianto)

Apa Hock Joe, Apa Balotelli, apa pula kain Suiting?

Kain Suiting adalah kain untuk bahan celana, jas, blazer maupun rok bawahan, secara definitip Suiting adalah kain yang memiliki berat di atas 30 gram per inchi persegi. Intinya kain yang tergolong berat sampai berat sekali.

Sedangkan Hock Joe maupun Balotelli adalah merk dagang kain suiting. Kalau Balotelli banyak ditawarkan di pasar kain Indonesia, sedangkan Hock Joe kelihatannya tidak dijual di pasar Indonesia walaupun keduanya di produksi “juga” di Indonesia. Lho kenapa juga nya diberi tanda petik? Karena selain di Indonesia juga diproduksi di negara lain.

Nah, kalau masih bingung mari saya ceritakan.

Awalnya seorang mahasiswi yang mau maju skripsi bertanya, “Pak apakah kain Balotelli itu? Tapi saya gak boleh ambil referensi dari web site, oleh karenanya saya pilih bertanya pada Pak Adi”. (maksudnya ambil kutipan sumber yang dicari dari google). Wah, bingung juga, sekarang ini apa sih yang gak di masukkan ke google?

“Lho kamu kan sudah punya bukunya Pak Adi Pengetahuan Bahan Tekstil yang kamu pakai di semester 1. Lihat saja disitu saya sudah uraikan, dan itu bukan dari google”.

“Sudah pak, disitu Bapak tulis kalau Balotelli itu kain berbahan katun, ternyata waktu saya beli bahannya bukan katun”.

Dari situlah akhirnya saya melakukan tracing (walaupun tidak tertular Covid-19). Dan saya tuangkan hasil hasil tracing saya untuk menjawab pertanyaan si mahasiswa yang mau skripsi.

Caritanya mundur 4 tahun yang lalu. Pada suatu hari, saya menerima sekumpulan sampel-sampel kain suiting yang di produksi oleh PT. Trisula Tekstil di Cimahi untuk buku saya Pengatahuan Bahan Tekstil jilid 3. Pabrik itu terkenal dengan produknya kain suiting dengan merk Caterina sampai Bellini.

Ada satu seri kain yang tampilannya mirip berbahan wool tetapi sebetulnya bahannya 100% polyester. Walaupun itu bukan produk “termewah” yang saya sukai dari seri produk-produk Trisulatex, namun saya suka efek wool serta koleksi warna-warnanya yang terkesan macho. Tidak lama dari itu saya berkesempatan mengunjungi pabrik tersebut bersama rombongan mahasiswa. Lalu saya menyampaikan keinginan tahu saya mengenai Hock Joe ini. Dimana bisa dibeli secara eceran?

“Oh, itu produk yang 100% di export pak” jawab bu Aryanti. Ini pesanan sebuah perusahaan agency di Singapore untuk di edarkan ke pasar Eopa.

“Oh, pantesan” batin saya. Jadi sebuah perusahaan wholeseller, bisa memesan suatu kain dengan bahan dan konstruksi tertentu ke suatu pabrik. Bebekal deskripsi produk yang di tetapkan itu keluarlah output produk kain yang kemudian di labeli dengan brand tertentu. Misalnya pada kasus ini adalah mek Hock Joe (image antara Asia dan Amerika). Ingat konsumen Eropa juga menganggap produk Asia itu juga merupakan produk yang eksotis. Sebagaimana orang kita yang suka menilai brand yang terkesan Itali atau Prancis selalu lebih eksotis dibanding merk berbau asli Indonesia.

Nah, disitu akhirnya cerita sampai ke merk Balotelli yang terkesan Itali. Ceritanya tidak jauh berbeda dengan Hock Joe yang ber edar di Eropa.

Awalnya di pasaran Indonesia yang muncul dan populer 15 tahun yang lalu adalah merk Katun Balotelli (bukan Balotelli Cotton). Awalnya Balotelli yang memiliki ciri kain dengan motif anyaman tenun dengan motif spesifik ini sangat disukai. Sebagaimana produk berbahan katun 100% biasanya berharga lebih mahal dibanding yang campuran Polyester Katun maupun 100% Polyester.

Nah, disinilah akibat dinamika pasar, dimana kain termasuk jenis produk yang price sensitif dimana pedagang lebih memilih harga murah tapi laku banyak dibanding kualitas tinggi harga tinggi tapi laku sedikit.

Akhirnya di pasar muncul tiga grade Balotelli, dimana grade kedua dan ketiga dibuat darti poly cotton dan 100% polyester. Nama Katun Balotelli kemudian tinggal Balotelli saja sebutannya, walaupun image konsumen masih menganggap bahwa Balotelli adalah berbahan katun.

Saya jadi teringat pengalaman di tahun 1990, saat saya pertama kali meng eksport produk saya Polyester Single Georgette embroidery. Ada sebuah agency di Singapore bernama Deepa Enterprice yang selalu memesan produk kami, dimana agen ini secara spesifik mengirimkan kartu disainnya untuk kami gunakan memproduksi pesanannya itu. Dengan cara ini produk dan disain yang kami bikin persis sebagaiman standar yang diinginkan. Si konsumen ini minta kami menempelkan brandnya pada setiap roll, sedangkan kami tidak diperkenankan menempel brand kami sendiri.

Nah dengan demikian si konsumen ini bisa bebas memberikan order ke pabrik mana saja asalkan mampu membuat produk dengan kualiatas yang sama tetapi dengah harga dan delivery yang diinginkan.

Nah, saya berharap cerita dibalik brand ini dapat menambah wawasan kita, bahwa brand bukan segala-galanya. Ketahuilah cara mengenali kualiatas tekstil dari mengenali konstruksi dan bahan baku produknya. Bukan sekedar nama merk.

***