Tinggalkan komentar

Kain Georgette

Topik ini saya muat pada buku “MENGENAL 50 KAIN BAHAN BUSANA”.

Harga Rp 150,000 pus ongkir.
WA 0816 545 7187

Tinggalkan komentar

Mengenal 50 Kain Bahan Busana

(Adi Kusrianto)

Buku ini adalah pengembangan dari buku yang berjudul “PENGETAHUAN BAHAN TEKSTIL DISERTAI CONTOH KAIN”, dimana saya bermaksud menyampaikan berbagai pengetahuan mengenai jenis dan nama kain bahan busana. Tulisan saya ini dimaksudkan sebagai referensi bagi pembaca yang dalam aktifitasnya berhubungan dengan memakai kain, baik sebagai seorang disainer fashion, sebagai penjahit, mereka yang tugasnya sebagai seorang fashion merchendiser, quality control maupun manajer produksi suatu pabtik tekstil.

Referensi seputar pengetahuan tentang kain ini lebih spsifik dibanding pengetahuan mengenai ilmu teknologi tekstil. Jika teknologi tekstil arahnya bagaimana memproduksi benang maupun kain, maka pengetahuan tentang kain ternyata jauh lebih dalam dan spesifik. Karena disini kita akan perlu berbekal pengetahuan tentang serat tekstil baik serat alam, serat semi sintetis hingga sintetis. Bentuk serat berupa staple (serat pendek) yang perlu di pintal terlebih dulu sehingga menjadi benang, maupun serat berbentuk filamen yang sudah berbentuk benang serabut panjang yang tidak perlu dipintal, melainkan hanya di rangkap dan di beri twist (puntiran).

Untuk mengenali kain, perlu mengetahui apakah jenis kain tenun, kain rajut, kain kempa (non woven fabric) atau macrame. Karena masing-masing kain tadi memiliki karakteristik meliputi kekuatan tarik, kemampuan untuk mempertahankan bentuk setelah mengalami tarikan, kemampuan untuk melar. Itu akan terkait bagaimana kain itu ditenun maupun di rajut.
Buku ini di terbitkan Adi Kusrianto Literary Agent. Harga Buku ini Rp. 150,000.- ditambah ongkos kirim.
Ukuran buku 14,9 x 21 cm, Kertas HVS 100 gram, cetak full color, jilid spiral.

Pemesanan melalui WA 0816 545 7187 Adi Kusrianto

Tinggalkan komentar

Selamat Datang Batik China, Batik Srilanka, Batik Nigeria, dan Batik Negara lain

Sejak tanggal 1 November 2021 yang lalu, di medsos banyak beredar video tentang expose Batik China. Menarik memang, terbutkti banyak yang me-reaksi postingan tersebut. Tetapi banyak justru yang jealous melihat ini, tanpa bisa berbuat apa-apa. Berikut ini adalah rangkuman komentar dan pendapat Adi Kusrianto, salah seorang penulis batik yang memiliki empat grup WA dengan peserta sekitar 800 member.

“Chinesse Batik”, sama halnya dengan “Malaysian Batik”, disini kata BATIK digunakan sebagai istilah Craftmenship (ketrampilan dalam kriya), dimana kosa kata BATIK sama halnya dengan kosa kata IKAT telah diserap dalam berbagai bahasa dan bahkan telah dimasukkan ke dalam kamus. Baik BATIK dan IKAT disebutkan istilah yang diserap dari Bahasa Indonesia.

Batik China sudah berusia 1000 tahun. Batik Indonesia berapa tahun ya?

Disinilah justru merupakan WARNING bagi para Pembatik kita, pemilik Batik Nusantara, agar benar-benar memahami Batik yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Untung ya, pembatik China itu tidak membuat batik Parang maupun Sidomukti. Mungkin parang dan sidomukti mereka lebih banyak terjual di seluruh dunia lho.

Jangan terlalu bebas mengembangkan batik sehingga justru ciri INDONESIAN BATIK malah hilang karena terbawa arus dagangan trend sesuai selera pasar dunia.

Ingat bahwa bangsa-bangsa lain juga membuat BATIK-BATIK dengan gaya mereka masing2. Sangat boleh jadi. Sekali lagi sangat boleh jadi, diantara batik-batik bebas, batik-batik modern ala pembalik millenial kita akan KALAH PAMOR dengan batik-batik negeri lain.

Jadi jangan bangga asal batik Anda laku dijual, laku di expor.

Pendapat tersebut di amini oleh beberapa anggota diantaranya  Bagas Mataya (Laweyan, Surakarta), Dr. Lucky (IKJ Jakarta), Slamet Arief (Perajin batik Kudus), Dra. Retna Devi (Tokoh penggiat batik Kediri).

Bahkan Dr. Lucky menulis komentarnya “Mengerikan yaaa…”

Program Ekonomi kreatif (dibawah pengelolaan Kemenparekraf) mendorong para desainer batik untuk berkreasi mengikuti trend fashion dunia. Para UKM “yang berada dibawah bimbingan Ekonomi Kreatif” rata-rata para pembatik yang penguasaan ilmu batiknya baru sebatas nyanting dan mewarnai, menyambut ajakan itu sehingga, booooommm,… batik-batik kreatif model begini muncul memenuhi pasar. Salah satu alasannya agar kaum millenial mau memakai batik. Dan bukannya mendidik kaum millenial mengenal batik itu sebenarnya apa, dan mereka akan menggunakan batik dengan sepenuh kebanggan setelah memahaminya.

Di pasar mereka akan bersaing dengan BATIK SRILANGKA, BATIK INDIA, BATIK MALAYSIA, BATIK CHINA,…. belum lagi model-model batik dari Afrika sebagaimana yang saya ekspose melalui tulisan saya. Dipasar lokal, seperi Mangga Dua, Tanah Abang, Pasar Atum kita akan berteriak ketika diserbu produk-produk batik luar negeri. Bukan saja lebih murah dan kualitasnya lebih baik, tetapi juga motif-motif nya yang lebih cenderung sebagai motif kain printing pada umumnya lebih disukai.

Lalu setelah disini, dimana “kesaktian”, “ke adiluhungan” warisan budaya nenek moyang itu”

Nuwun sewu, BALAI BESAR KERAJINAN DAN BATIK yang kita bersama harapkan akan melindungi BATIK dari seni massal, seni industrialisasi karena beliau-beliau berada dibawah kementerian PERINDUSTRIAN, ya tidak salah kalau arahannya adalah INDUSTRIALISASI BATIK.

Kita sendirilah para pecinta dan para pelestari batik yang menjadi benteng pelestarian batik, yang konon dalam berbagai jargon disebut sebagai WARISAN BUDAYA ADILUHUNG.

Silahkan temukan dimana ke ADI LUHUNGAN batik saat ini.

Jangan salahkan China dengan Chinesse batik, jangan salahkan Malaysia dengan Malaysian Batik. Itu hak dan kreatifitas mereka, sementara bangsa Indonesia sendiri yang merasa menjadi pemilik Batik, justru belum paham benar dengan Batik itu sendiri. Kosa kata Batik yang di Indonesia sendiri masih diperdebatkan asal katanya apa (????), saat ini justru sudah menjadi kata serapan pada kamus bahasa Inggris, bersamaan dengan kosa kata IKAT. Jadi sangat wajar bila ada Indian Batik, Srilanka’s Batik, Nigerian Batik dan batik-batik negara lain. Itu sah. Benar itu sah. Tidak perlu marah-marah.

Menurut Dra. Ratna Devi, pelatihan membatik saat ini kebanyakan mengajarkan mencanting motif-motif bebas, kontemporer. Tidak ada pengenalan bagaimana bentuk batik klasik yang konon memiliki makna dan filosofi itu. Juga pewarnaan yang dikenalkan kepada pembatik pemula adalah pewarnaan sintetis.

Sedangkan Bagas Nirwana salah seorang dari Mataya art & heritahe Surakarta, menambahkan “Nggih leres…(iya betul) maka dari sekarang saya mengajarkan menggambar untuk anak-anak, motif batik klasik Jawa. Sebaiknya mengenalkan batik Indonesia itu dari pengenalan ornamen-ornamen baku nya dulu”.

Kata-kata Bagas di benarkan oleh Ratna Devi (Kediri) dan Tami (Yogya).

Menurut Adi kusrianto, batik-batik Afrika, pasarnya sangat luas sekali diseluruh negara-negara Afrika dan mulai masuk Amerika melalui para Afro American.

Batik Print Ghana (Afrika)

Batik-batik Printing Afrika

(foto: Setyo Hargyanto)

Batik Srilanka yang dijual di kaki lima dibawah ini dijual dengan harga murah. Mereka sangat menyukai motif-motif Batik khas mereka. Bukan hanya orang Indonesia saja lho yang senang memakai batik.

Batik Printing Srilangka

Sedangkan batik tulis yang dibuat menggunakan malam dan canting, harganya lebih mahal untuk kualitas eksklusif seperti contoh-contoh berikut ini.

Batik Tulis Srilanka (Foto: Alami).

Ibu Indra Tjahyani:, salah seorang tokoh pelatih batik (Batik Yuuk.com) berujar “Betul, Saya juga sedih ketika dalam salah satu webinar nya  BBKB memperkenalkan Komputerisasi Motif Batik😔.

Lalu apa bedanya dengan batik printing???. Sudah hilang makna ke adiluhungan batik Indonesia jika negara justru mengejar produksi massal dari warisan budaya adiluhung ini dengan di obral murah, ujar Adi Kusrianto.

Gambar dibawah ini adalah batik-batik karya perajin China.

Wina Wilman dosen senior fakultas psykologi UI menyampaikan reaksinya hanya dengan menampilkan imoticon tangis dan lelehan air mata. 😭😭

Indra Tjahyani menambahkan  “Alhamdulillah workshop saya masih  konsisten memperkenalkan cara membatik traditional Indonesia dan berbagi tentang Filisofi dibalik ragam hias batik …. Mudah-mudahan  masih ada yg mau ikut workshop saya dan turut melestarikannya.

Adi  Kusrianto menambahkan, “Dalam hal pendidikan dan pelestarian BATIK, negara KOREA SELATAN bahkan mendukung pelestarian Batik Indonesia dengan MENYEWA ORANG INDONESIA/ AHLI BATIK INDONESIA untuk mendidik BANGSA INDONESIA untuk diajar BATIK. Para peserta sudah dididik dengan gratis, diberi fasilitas untuk berproduksi, diberi uang saku pula.

Apakah pemerintah kita tidak menoleh pada upaya ini?

Wina Wilman berkomentar “Di Sekolah Pilar (Sekolah Umum Swasta) sudah ada guru membatik”.

Iya benar bu Wina, tetapi yang diajarkan baru pelajaran mencanting. Masih jarang yang menjelaskan bagaimana motif-motif yang memiliki makna dan kegunaan tertentu. Tapi baca BATIK = KETRAMPILAN MENCANTING. Ilmu mencanting saat ini dikuasai banyak bangsa di dunia.

Jangan bilang, jaman sudah berubah dan yang klasik itu sudah kuno. Kita harus membuka mata dengan selera dunia. Biasanya itu kata-kata pembenaran yang digunakan. Kalau memang begitu mari kita berbesar hati mengucapkan kata-kata “Selamat Datang Batik China, Batik srilangka, Batik Malaysia, Batik Nigeria,… mari kita berbagi kue pasar dunia untuk produk Batik”.

***

Tinggalkan komentar

Apakah Batik Indonesia Selamanya akan Diakui Unesco?

Adi Kusrianto

Definisi Batik Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:

Kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain itu, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu.

Jika mengacu pada kata : “Pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain” itu adalah definisi teknik perintang warna (Resist Dyeing). Yaitu teknik yang telah dikenal sejak zaman purba dan bangsa-bangsa lain telah melakukan teknik itu. Definisi itu belum menyebut teknik spesifik pembuatan batik (yang berbeda dengan bangsa lain).

Di Persia Kuno dan Negara-negara Timur Tengah sudah ada pembuatan motif dengan teknik resist dyeing. Sementara di Asia, teknik yang sama dilakukan di Tiongkok semasa Dinasti Tsang antara tahun 618 hingga 907 Masehi. Di Jepang semasa Dinasti Nara antara tahun 715 hingga 794 yang disebut “ro-kechi”. Sedangkan di Afrika, teknik pewarnaan kain dengan resist dyeing juga dapat dijumpai pada Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal.

Lebih spesifik definisi Batik adalah teknik menghias kain dengan perintang warna, yang cara menggoreskan motif/ coraknya dengan menggunakan canting.

Catatan: teknik batik dengan cap dari metal juga diakui sebagai teknik batik, dan alatnya disebut ‘canting cap’.

Menurut GP Rouflaer seorang pustakawan Belanda yang melakukan pengamatan dari hasil temuan motif gringsing yang ditemukan semenjak abad ke 12 di Kediri, karena kehalusan dan kecermatan goresan motifnya  hanya bisa dibuat menggunakan alat yang kemudian disebut canting.

Awalnya pada era batik klasik, kain batik itu hiasan/ motifnya dengan menggunakan motif- motif tertentu. Menurut Sri Soedewi Syamsi, dalam bukunya Pola ragam hias Batik Yogya dan Solo, batik itu dibuat menggunakan motif-motif tertentu, masing2 memiliki nama dan fungsi.

Aturan dalam menyusun hiasan kain batik terdiri dari komponen-komponen yaitu motif utama, motif hias pelengkap, dan sebagai background ada motif isen-isen.

Ketika UNESCO melakukan penelitian apakah masih ada kelompok/ komunitas/ suku yang secara tradisi memakai/ menggunakan kain batik untuk menjalankan ritual tradisi tertentu. Ternyata mereka menemukan bahwa (setidaknya) suku Jawa memang hingga saat ini masih menggunakan batik dengan motif tertentu untuk menjalankan ritual tertentu.

Dengan demikian definisi lebih lengkap:

Jadi Batik Indonesia, jika didefinisikan harus mencakup hal-hal yang disebut diatas. Berdasarkan batasan tadilah maka lembaga dunia yang terdiri dari berbagai bangsa (termasuk diantaranya bangsa Malaysia) menerima bahwa “Batik adalah Budaya tak- benda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity) dari bangsa Indonesia.

Lalu apakah Dunia (UNESCO) akan mengakui Batik Indonesia selamanya? Bisa jadi tidak. Kenapa?

Jika batik indonesia ternyata dalam perkembangannya diketahui tidak mampu menjaga pelestarian lingkungan, justru industri batik menyebabkan pencemaran karena limbah pewarna kimia, limbah waterglass zat kimia yang dikenal sebagai salah satu zat mordanting (penyerap dan pengunci pewarna pada tekstil). Hal ini para perajin batik tidak peduli bagaimana mereka membuang limbah tanpa terlebih dulu melakukan upaya penjinakan kerasnya zat kimia yang dipakai dalam proses batik.

Ada teman yang melakukan aktifitas finishing batik dirumahnya, lalu serta merta ia membuang limbahnya ke got depan rumah. Apa yang terjadi, beberapa hari kemudian para tetangga berujar, bahwa tidak lagi ada jentik-jentik, tikus dan kecoak di got tersebut. Itu dampak awal dari dibuangnya limbah di got. Semua organisme yang ada di aliran got mati. Jika itu dilakukan terus-menerus, maka dampak lebih serius akan terjadi, yaitu rusaknya ecosistem disekitar lingkungan tersebut. Jika hal semacam itu tidak dicegah, maka teknik produksi batik akan di tuduh sebagai pencemar lingkungan secara diam-diam.

Foto limbah cair
dari Batikaa

Itu baru limbah. Bagaimana dengan motif dan cara pembuatan batik yang semakin banyak yang meninggalkan cara-cara tradisional. Bukan lagi menggunakan canting, cap dan malam. Apakah pada perkembangannya dunia masih mengakui bahwa itu adalah batik? Apakah para desainer batik zaman now yakin bahwa mereka itu paham bagaimana motif batik ? Memang batik motifnya tidak harus dibekukan (freezing) dan senantiasa mengikuti pola batik klasik. Sejak munculnya batik pesisiran sudah terjadi “breaking the rule” terhadap motif batik. Munculnya “Batik Peranakan”, “Batik Belanda”, “Batik Jawa Hokokai”, “Batik Jawa Baru”, “Batik Nusantara” pasca Indonesia merdeka. Perlukah para desainer batik paham? Ataukah mendesain apa saja, asal laku dijual, asal mengikuti trend mode dunia? Bukankah Konsumen itu raja?.

Saya kuwatir suatu saat seniman batik luar negeri lebih paham batik kita dibanding kita sendiri.

Catatan:

banyak wastra Nusantara yang di negeri kita sudah dianggap ‘punah’, ternyata beberapa museum di luar negeri masih menyimpannya lengkap dengan detil informasinga.

Catatan: banyak literatur yang disusun oleh penulis-penulis asing yang justru menjadi referensi dan patokan informasi yang lebih dianggap valid dibanding catatan yang dibuat penulis lokal.

Sadarkah Anda, Borobudur kita bertahun-tahun diakui dunia sebagai salah satu seven wonder (salah satu dari tujuh keajaiban dunia). Kenapa Borobudur sekarang tercoret, sementara Tembok Besar China, Taj Mahal India, patung Cristo Redentor (Jesus Sang Penebus)  di Rio De Janeiro masih bertahan ? Mikiir……..

Bisa jadi suatu saat Batik bukan lagi diakui dunia, karena rakyat Indonesia tidak mampu merawat, mempertahankan keaslian dan ke eksotisan Batik Indonesia. Batik hanya menjadi barang dagangan semata yang dipakai sebagai obyek dagangan tanpa merawat konten penting dari budaya yang bernama Batik.

Saya tidak bermaksud mengadili, terserah dari sudut pandang mana Anda memandang. Monggo, please welcome.

Tambahan:

Berikut ini definisi batik berdasarkan SNI (Standard Nasional Indonesia) ini adalah pengertian kata batik berasarkan jajaran Dinas perindustrian, dimana kepentingan batik sebagai salah satu sarana ekonomi kreatif.

Batik sebagai sunber pendapatan ekonomi, yaitu sesuai dengan kepentingan pemerintah dalam meajukan ekonomi nasional dan kesejahteraan UMKN/ perajin batik. Dimana kepentingan ini dianggap lebih esensial dibanding hanya sekedar pengertian batik sebagai harta budaya.

Apalah artinya warisan jika tidak bisa memberi nilai jual. Ciri khas sisi penilaian dari mental yang miskin, semua di hitung dari sisi bagaimana mendapatkan keuntungan secara materi.

Jadi saya kembalikan kepada penilaian Anda.





Gambar No  5 : Kreatifitas, inovasi menerobos pasar?
Gambar No  6 : Kemampuan menangkap selera pasar.

Tinggalkan komentar

Asal Usul Batik Klasik di Jawa Timur

Adi Kusrianto
(kutipan dari buku “Memberantas Buta Batik di negeri Batik”)

Sebelum mengenal kain yang di era kita di sebut Batik, raja-raja di Jawa Timur menggunakan bahan busana dari kain impor yang diperoleh dari pedagang luar negeri (China dan India). Mereka tidak mensakralkan kain-kain impor tadi karena kain-kain tersebut tidak dibuat berdasarkan kemauan mereka. Atau setidaknya motif maupun proses pembuatannya tidak melibatkan mereka secara emosianal maupun menuangkan karsa mereka atas “isi” bahan busana itu.

Semenjak dikenalnya teknik membatik, yang dilakukan oleh para abdidalem, maka para raja memesankan apa yang menjadi “karsa” (selera, filsafat) itu ke dalam kain yang di disain itu. Dari proses itulah ter wakili idealisasi budaya raja atau kraton ke dalam motif batik. Dan semenjak itu pulalah kain batik mendapatkan cap sebagai busana aristokrat Jawa.

“Ornamen yang di bawa ke dalam motif kain di Jawa sesungguhnya bukan karya ciptaan baru sama sekali, melainkan memindahkan ornamen-ornamen yang diambil dari seni ukir maupun seni sungging (seni lukis seperti pada wayang) yang telah ada sebelumnya.”

Ketika dibawa ke dalam corak kain, ornamen-ornamen tadi dibuat dengan lebih teliti, detil serta dengan sentuhan tangan kaum bangsawan kraton. Apa yang diistilahkan sebagai Batik Kraton, Batik Aristokrat, Batik Raja sesungguhnya adalah karya seni batik yang halus yang di lukis menggunakan goresan canting. Istilah Batik (ambatik) itu baru muncul pada era kerjaan Mataram Islam, dimana disitu mulai digunakan bahasa Jawa modern. Pada tatanan bahasa jawa Modern dikenal boso Jawa ngoko dan basa Jawa Krama.

Sebagaimana seni yang lain pada jaman itu, para seniman, baik itu seniman yang menuangkan karyanya pada logam (keris, tombak, perhiasan) pada tembikar (perabot untuk rumah tangga keraton), kayu (ukir), kulit (wayang, mahkota, aksoseris ) hingga kain batik, seniman melakukan dengan (semacam) pressure yang datang dari dalam dirinya sendiri. “Tekanan” itu diantaranya berupa rasa hormat, ke seganan, kepatuhan yang sangat tinggi dihadapan raja. Merasa bahwa dirinya bukanlah apa-apa sedangkan raja adalah agung, tinggi, terhormat diatas segala-galanya (diluar konsep agama). Oleh karenanya pada diri seniman muncul suatu kekuatan atau spirit yang terjadi diluar kemampuan kehidupan normalnya. Oleh karenanya sebelum memulai karyanya para seniman sering melakukan ritual berpuasa yang bermacam-macam. Puasa pantang makan minum, puasa mutih (hanya makan nasi tanpa garam dan perasa lain), hingga puasa tidak berbicara (sebagai manifestasi dari konsentrasi yang dicurahkan pada proyek pekerjaan yang sedang dilakukan). Hasil dari produk budaya semacam itu adalah cerminan dari kehalusan budi dari kaum aristokrat. Anggapan bahwa raja berbudi halus, luhur, patut diteladani.

Bagi rakyat (diluar keluarga raja), seni batik kemudian dijadikan sebagai model budaya untuk mengagungkan rasa hormat kepada kaum aristokrat, sebagai simbol produk budaya yang prima, halus bahkan sebagai kultur “dewaraja”. Jika sebelumnya rakyat yang membuat batik sebagai perintang waktu, sebagai upaya pemenuhan kebutuhan sandang, kemudian bergeser pandangannya bahwa batik adalah produk budaya istana. Yang bagus adalah batik seperti yang dibuat untuk raja. Fungsinya tergeser dari kepentingan rakyat menjadi kepentingan raja, dengan tujuan untuk memperkuat kedudukan raja.  .

Motif-motif batik klasik mengandung beberapa arti dan dipandang cukup berarti bagi sebagian orang Jawa. Ornamen batik klasik mampu melahirkan citarasa keindahan. Indah dalam arti mampu memadukan tata warna serta susunan bentuk ornamennya sehingga harmonis. Didalamnya harus mampu memberikan keindahan jiwa, sehingga memberikan gambaran yang utuh sesuai paham kehidupan yang dianutnya.

Batik Klasik memuat pandangan falsafah orang Jawa yang memberi arti simbolik secara kosmologi tentang adanya dunia bawah dan dunia atas yang sering dipadukan menjadi dunia tengah atau dwitunggal. Sikap menggabungkan  dua menjadi satu seperti itu pada masyarakat Jawa disebut Sinkretisme.  (Geertz, 1976 (first published 1960))

Gambar No  12 : Di Candi Arimbi (Ngrimbi) terdapat Patung Raden Wijaya yang pakaiannya patut diduga itu adalah batik.

Mengutip thesisnya, Drs. Hasanuddin, MSn yang menulis bahwa, temuan arkeologi berupa arca di dalam Candi Arimbi (didukuh Ngrimbi desa Pulosari, kecamatan Bareng,Kabupaten Jombang) menggambarkan sosok Raden Wijaya, raja pertama Majapahit  yang memerintah antara 1294-1309, yang memakai kain dengan ragam hias berbentuk kawung (baca catatan dibawah) (Van der Hoop, 1949). Bisa saja ragam hias pada kain itu dibuaat dengan teknik lukis, prada, tenun songket, ataupun batik. Tetapi bila diamati secara lebih teliti, yaitu dengan membandingkan rincian pada bentuk perhiasan manik-manik dan urat daun teratai, maka bobot arca tersebut sangat rinci, halus dan teliti. Ketelitian dalam menggambarkan garis dan titik menjadi indikasi teknik yang dipakai saat membuat kain itu. Garis lembut sejajar sebagai batas bentuk elips kawung mengingatkan pada garis sejajar yang dihasilkan oleh canting carat loro (canting dengan dua buah cucuk) pada teknik membatik. Sedangkan susunan titik yang runtut hampir berdekatan hanya mungkin dihasilkan oleh canting cecek siji yang biasa digunakan untuk membuat isenisen cecek (titik). Jadi dapat disimpulkan bahwa teknik hias pada kain tersebut bukan tritik, plangi, ataupun dengan ikat. Dengan teknik tenun songket sulit menghasilkan garis lembut sejajar, apalagi titik yang hampir bersinggungan. Yang paling mungkin adalah teknik lukis, prada, atau batik. Sementara teknik lukis dan prada kurang lazim dipakai untuk pakaian, apalagi pakaian raja. Alasannya karena lukisan atau prada cepat rontok, akibat dari ramuan cat alam yang kurang bisa bertahan lama. Sedangkan teknik batik bisa bertahan lama. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kain yang dipakai Raden Wijaya seperti yang nampak pada arca di Candi Ngrimbi adalah batik.

Catatan : Aline terakhir ini pernah dimuat pada buku saya “Batik, Filosofi, Motif dan Kegunaannya”.

Penggunaan Istilah Kawung untuk menyebut Motif Simbol Mandala.

Motif Kawung, diciptakan oleh Sultan Agung Hanyokrokusuma yang masa hidupnya antara tahun antara tahun 1613 sampai 1645. Artinya sebelum periode itu belum ada sebutan Kawung. Hanya karena begitu populernya istilah Kawung, maka para pengamat batik, para penulis menggunakan istilah kawung untuk menyebut bentuk simbol mandala yang sebenarnya dalam istilah Jawa disebut Tapak Dara. Dari penyebutan ini akhirnya terbawa ketika bangsa asing mewawancarai para ahli batik sehingga sebutan istilah atau nama motif batik digunakan pada motif-motof kuno sebelum kelahiran istilah batik ada.

Pembahasan lain mengenai ini silahkan baca pada topik Batik Kediren.

***

Tinggalkan komentar

Batik Klasik Di Jawa Timur

Adi Kusrianto
(kutipan dari buku “Memberantas Buta Batik di negeri Batik”)

Sebelum mengenal kain yang di era kita di sebut Batik, raja-raja di Jawa Timur menggunakan bahan busana dari kain impor yang diperoleh dari pedagang luar negeri (China dan India). Mereka tidak mensakralkan kain-kain impor tadi karena kain-kain tersebut tidak dibuat berdasarkan kemauan mereka. Atau setidaknya motif maupun proses pembuatannya tidak melibatkan mereka secara emosianal maupun menuangkan karsa mereka atas “isi” bahan busana itu.

Semenjak dikenalnya teknik membatik, yang dilakukan oleh para abdidalem, maka para raja memesankan apa yang menjadi “karsa” (selera, filsafat) itu ke dalam kain yang di disain itu. Dari proses itulah ter wakili idealisasi budaya raja atau kraton ke dalam motif batik. Dan semenjak itu pulalah kain batik mendapatkan cap sebagai busana aristokrat Jawa.

“Ornamen yang di bawa ke dalam motif kain di Jawa sesungguhnya bukan karya ciptaan baru sama sekali, melainkan memindahkan ornamen-ornamen yang diambil dari seni ukir maupun seni sungging (seni lukis seperti pada wayang) yang telah ada sebelumnya.”

Ketika dibawa ke dalam corak kain, ornamen-ornamen tadi dibuat dengan lebih teliti, detil serta dengan sentuhan tangan kaum bangsawan kraton. Apa yang diistilahkan sebagai Batik Kraton, Batik Aristokrat, Batik Raja sesungguhnya adalah karya seni batik yang halus yang di lukis menggunakan goresan canting. Istilah Batik (ambatik) itu baru muncul pada era kerjaan Mataram Islam, dimana disitu mulai digunakan bahasa Jawa modern. Pada tatanan bahasa jawa Modern dikenal boso Jawa ngoko dan basa Jawa Krama.

Sebagaimana seni yang lain pada jaman itu, para seniman, baik itu seniman yang menuangkan karyanya pada logam (keris, tombak, perhiasan) pada tembikar (perabot untuk rumah tangga keraton), kayu (ukir), kulit (wayang, mahkota, aksoseris ) hingga kain batik, seniman melakukan dengan (semacam) pressure yang datang dari dalam dirinya sendiri. “Tekanan” itu diantaranya berupa rasa hormat, ke seganan, kepatuhan yang sangat tinggi dihadapan raja. Merasa bahwa dirinya bukanlah apa-apa sedangkan raja adalah agung, tinggi, terhormat diatas segala-galanya (diluar konsep agama). Oleh karenanya pada diri seniman muncul suatu kekuatan atau spirit yang terjadi diluar kemampuan kehidupan normalnya. Oleh karenanya sebelum memulai karyanya para seniman sering melakukan ritual berpuasa yang bermacam-macam. Puasa pantang makan minum, puasa mutih (hanya makan nasi tanpa garam dan perasa lain), hingga puasa tidak berbicara (sebagai manifestasi dari konsentrasi yang dicurahkan pada proyek pekerjaan yang sedang dilakukan). Hasil dari produk budaya semacam itu adalah cerminan dari kehalusan budi dari kaum aristokrat. Anggapan bahwa raja berbudi halus, luhur, patut diteladani.

Bagi rakyat (diluar keluarga raja), seni batik kemudian dijadikan sebagai model budaya untuk mengagungkan rasa hormat kepada kaum aristokrat, sebagai simbol produk budaya yang prima, halus bahkan sebagai kultur “dewaraja”. Jika sebelumnya rakyat yang membuat batik sebagai perintang waktu, sebagai upaya pemenuhan kebutuhan sandang, kemudian bergeser pandangannya bahwa batik adalah produk budaya istana. Yang bagus adalah batik seperti yang dibuat untuk raja. Fungsinya tergeser dari kepentingan rakyat menjadi kepentingan raja, dengan tujuan untuk memperkuat kedudukan raja.  .

Motif-motif batik klasik mengandung beberapa arti dan dipandang cukup berarti bagi sebagian orang Jawa. Ornamen batik klasik mampu melahirkan citarasa keindahan. Indah dalam arti mampu memadukan tata warna serta susunan bentuk ornamennya sehingga harmonis. Didalamnya harus mampu memberikan keindahan jiwa, sehingga memberikan gambaran yang utuh sesuai paham kehidupan yang dianutnya.

Batik Klasik memuat pandangan falsafah orang Jawa yang memberi arti simbolik secara kosmologi tentang adanya dunia bawah dan dunia atas yang sering dipadukan menjadi dunia tengah atau dwitunggal. Sikap menggabungkan  dua menjadi satu seperti itu pada masyarakat Jawa disebut Sinkretisme.  (Geertz, 1976 (first published 1960))

Gambar No  12 : Di Candi Arimbi (Ngrimbi) terdapat Patung Raden Wijaya yang pakaiannya patut diduga itu adalah batik.

Mengutip thesisnya, Drs. Hasanuddin, MSn yang menulis bahwa, temuan arkeologi berupa arca di dalam Candi Arimbi (didukuh Ngrimbi desa Pulosari, kecamatan Bareng,Kabupaten Jombang) menggambarkan sosok Raden Wijaya, raja pertama Majapahit  yang memerintah antara 1294-1309, yang memakai kain dengan ragam hias berbentuk kawung (Van der Hoop, 1949). Bisa saja ragam hias pada kain itu dibuaat dengan teknik lukis, prada, tenun songket, ataupun batik. Tetapi bila diamati secara lebih teliti, yaitu dengan membandingkan rincian pada bentuk perhiasan manik-manik dan urat daun teratai, maka bobot arca tersebut sangat rinci, halus dan teliti. Ketelitian dalam menggambarkan garis dan titik menjadi indikasi teknik yang dipakai saat membuat kain itu. Garis lembut sejajar sebagai batas bentuk elips kawung mengingatkan pada garis sejajar yang dihasilkan oleh canting carat loro (canting dengan dua buah cucuk) pada teknik membatik. Sedangkan susunan titik yang runtut hampir berdekatan hanya mungkin dihasilkan oleh canting cecek siji yang biasa digunakan untuk membuat isenisen cecek (titik). Jadi dapat disimpulkan bahwa teknik hias pada kain tersebut bukan tritik, plangi, ataupun dengan ikat. Dengan teknik tenun songket sulit menghasilkan garis lembut sejajar, apalagi titik yang hampir bersinggungan. Yang paling mungkin adalah teknik lukis, prada, atau batik. Sementara teknik lukis dan prada kurang lazim dipakai untuk pakaian, apalagi pakaian raja. Alasannya karena lukisan atau prada cepat rontok, akibat dari ramuan cat alam yang kurang bisa bertahan lama. Sedangkan teknik batik bisa bertahan lama. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kain yang dipakai Raden Wijaya seperti yang nampak pada arca di Candi Ngrimbi adalah batik.

Catatan : Aline terakhir ini pernah dimuat pada buku saya “Batik, Filosofi, Motif dan Kegunaannya”.

Penggunaan Istilah Kawung untuk menyebut Motif Simbol Mandala.

Motif Kawung, diciptakan oleh Sultan Agung Hanyokrokusuma yang masa hidupnya antara tahun antara tahun 1613 sampai 1645. Artinya sebelum periode itu belum ada sebutan Kawung. Hanya karena begitu populernya istilah Kawung, maka para pengamat batik, para penulis menggunakan istilah kawung untuk menyebut bentuk simbol mandala yang sebenarnya dalam istilah Jawa disebut Tapak Dara. Dari penyebutan ini akhirnya terbawa ketika bangsa asing mewawancarai para ahli batik sehingga sebutan istilah atau nama motif batik digunakan pada motif-motof kuno sebelum kelahiran istilah batik ada.

Pembahasan lain mengenai ini silahkan baca pada topik Batik Kediren.

***

Tinggalkan komentar

Kain Bahan Busana di Abad 6 sampai 9 Masehi Di era Kerajaan Syailendra hingga Kadiri

Dari Wdihan hingga Asal usul Batik

(Adi Kusrianto)

Di abad 6 hingga 12 Masehi, kain jauh lebih berharga dibanding emas dan perak. Ini yang kita harus ketahui, mengapa demikian?. Seseorang merasa lebih dihargai bila ia diberikan kain, dibanding gelang emas maupun perak.

Dari ratusan prasasti yang telah dipelajari para arkeolog, berkenaan dengan penganugerahan SIMA, yaitu suatu daerah yang diberikan pembebasan pajak. Di situ kain (wastra) hampir selalu disebut sebagai salah satu hadiah yang diberikan pejabat kerajaan sebagai anugerah status sima kepada kepala wilayah sebagai simbolisasi anugerah. Artinya dengan wastra tersebut maka seseorang yang diangkat pangkat dan derajatnya sehingga dia diperkenankan menggunakan jenis kain tersebut.

Pada relief Borobudur ini bisa di amati, bahwa masing-masing tokoh dalam adegan ini menggunakan pakaian yang berbeda. Disitu dapat disimpulkan mana yang ststusnya lebih rendah dan lebih tinggi.

Dari beberapa prasasti menyebutkan kegunaan dan larangan dalam mengenakan jenis kain tertentu dan ragam warna-warni benang tertentu. Dari situ dapat di simpulkan bahwa sejak pada budaya Jawa kuno telah terdapat diskriminasi atau dengan kalimat lain diartikan sebagai simbolisasi dalam berbusana.

Pada prasasti itu di tulis bahwa kain atau wastra yang digunakan masyarakat biasa berbeda dengan kain untuk busana para pejabat, bangsawan, atau raja.

Dari penyebutan benang-benang berwarna warni, awalnya dapat disimpulkan kain yang dianggap berharga itu berupa kain dengan stuktural disain, yang cara menghiasnya saat kain ditenun. Bukan dihias setelah menjadi kain (bukan surface disain).

Dari prasasti abad ke enam Masehi atau yang lebih awal lagi, diperoleh gambaran bahwa pada masyarakat Jawa telah terdapat ciri berpakaian berdasarkan status sosialnya. Hal ini dapat diketahui dari relief-relief candi yang dibuat pada era tersebut.  (Putri R. H., 2018).

Kalau menurut dugaan para arkeolog, motif kain tercermin pada relief candi seperti gambar ini, maka kemungkinannya bukan motif tenun, tetapi motif sulam.

Nah, jika mengacu pada kata-kata di atas, bila hiasan kain di era itu tergambar pada ukiran/ pahatan di candi, berarti kira2 bentuknya seperti gambar di atas? Maka jelas yang dimaksud bukan tersusun dari teknik menenun, melainkan teknik menyulam?

Kain dengan teknik menyulam pada abad ke 500an (abad ke 6 Masehi), berarti kain itu di impor dari China?, dibawa pedagang atau pengelana dari Cina?

Secara umum, fungsi berpakaian adalah untuk menutupi dan melindungi diri. Namun pada masyarakat yang lebih tinggi status sosialnya, berpakaian juga merupakan cara untuk menghias tubuh. Pada kaum brahmana maupun pendeta digambarkan mereka berpakaian dengan jubah terbuat dari kain katun polos dan bahu kanannya terbuka. Dalam prasasti disebutkan bahwa pakaian yang dikenakan para pendeta itu disebut sinhel.

Di Jawa di era itu baik pria maupun wanita tidak ada yang mengenakan pakaian penutup dada. Mereka hanya mengenakan penutup bagian bawah tubuh, berbentuk kain panjang berbahan katun. Rambut mereka dibiarkan tergerai. Namun bagi kalangan bangsawan dan raja mereka mengenakan kain dengan hiasan bergambar bunga yang tipis dalam bentuk selendang guna menutup bagian atas tubuh. Kalangan ini juga mengenakan ikat pinggang emas dan anting-anting emas.

Para perempuan muda menutupi tubuh mereka dengan kain katun dan mengenakan ikat pinggang dengan hiasan berupa sulaman.

Jika dilakukan pengamatan secara lebih spesifik pada jenis kain yang dipakai, maka jenis kain pun menunjukkan identitas sosial. Supratikno Rahardjo pada buku tulisannya yang berjudul “Peradaban Jawa: dari Mataram Kuno sampai Majapahit akhir” (2011), mengungkapkan “berdasarkan data prasasti pakaian laki-laki biasanya disebut Wdihan. Sedangkan pakaian untuk perempuan disebut kain atau ken”.

Disebutkan juga bahwa beberapa jenis kain yang dikenal dalam sumber-sumber Jawa Kuno, kain yang masuk dalam jenis Wdihan adalah nama-nama sebagai berikut:

Ganjar haju patra sisi, Ganjar patra sisi,Ganjar haji, Ganjar patra, Jaro haji, jaro, Bwat kling putih, Bwat pinilai, pinilai, Bwat lwitan, Kalyaga, Pilih angsit, Rangga, tapis, Siwakidang, Bira/wira, Jaga, Hamawaru, Takurang, Alapnya,Sularikuning, Ragi, Pangalih, Ambay-ambay, Lunggar, Bwat waitan, Cadar, Lwir mayang, Putih, Raja yoga, Pamodana, Ron paribu, Suswan, Prana, Sulasih, Tadahan, Syami himi-himi.  

Sementara yang termasuk ken (kain) adalah adalah:

Jaro, Kalagya Pinilai, Bwat wetan, Bwat lor, Pangkat, Bwat ingulu,Kalangpakan, Atmaraksa. Khaki, Putihan, Rangga, Kalamwetan.  

Kain-kain itu, menurut sumber Jawa Kuno, dikenakan oleh seseorang sesuai status sosialnya. Dalam Prasasti Rukam 829 saka (907 M) disebutkan kain jenis ganjar patra (lihat Wdihan nomor 5), diberikan oleh raja kepada Rakaryan Mapatih i hino, yaitu gelar untuk putra sulung raja. Sementara dalam Prasasti Tunahan 794 saka (872 M) Wdihan ganjar patra diberikan kepada Sri Maharaja.

Prasasti Sangsang saat ini tersimpan di Tropen Museum, Belanda. Pada prasasti ini menyebutkan juga kain Wdihan sebagai hadiah.

Pilih maging (lihat daftar nama Wdihan nomor 14) dalam Prasasti Sangsang (829 saka atau 907 Masehi) juga diberikan kepada Sri Maharaja. Sementara dalam Prasasti Lintakan (841 saka) kain yang sama diberikan kepada Rakryan i hino.

Jejak Sejarah di Desa Poh Sarang | MAJALAH ARKEOLOGI INDONESIADi dalam Prasasti Poh (827 saka) Wdihan kalyaga (Wdihan nomor 32) diberikan kepada rakryan mapatih i hino. halu, sirikan, wka, sang pamgat tiruan,”.

Prasasti Poh, di Poh Sarang Kediri

Di dalam Prasasti Mulak 800 saka (878 M) disebutkan kain jenis ken rangga (lihat daftar nama jenis ken nomor 12) diberikan kepada makudur. Dalam Prasasti Humanding 797 saka (875 M) Wdihan angsit diberikan kepada samgat wadihati. Wdihan bira (Wdihan nomor 18) dalam Prasasti Kwak I (801 saka) diberikan kepada mereka yang memiliki jabatan sebagai halaran, pangkur, tawan, tirip, dan sebagainya.

Dalam Prasasti Gandhakuti (1042 M) disebutkan penerima hak istimewa diperbolehkan memakai apa saja yang biasa dipakai di dalam nagara. Mereka diperbolehkan memakai pakaian pola ringring bananten yang mungkin artinya kain halus, patarana benanten, kain berwarna emas, pola patah, ajon berpola belalang, berpola kembang, warna kuning, bunga teratai, berpola biji, kain awali, dulang pangdarahan, dodot dengan motif bunga teratai hijau, sadangan warna kunyit, kain nawagraha, dan kain pasilih galuh

Pada budaya Jawa, penggunaan kain sebagai ciri atau penanda status sosial digunakan hingga di beberapa daerah pada era modern ini. Mulai penggunaan motif batik di kalangan kraton hingga penggunaan kain-kain tertentu dan pola tertentu untuk dipakai masyarakat dengan status soaial tertentu misalnya pada masyarakat kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur (Ren Herenga – Nini Towok’s Spinning Wheel (2010). Kami bahas pada bab lain.

Penggambaran Busana abad ke 13 menurut Pujangga Empu Monaguna.

“Lalu para dayang belia datang bagaikan dewi, mengenakan kemben kain wulang emas. Selendang emas murni yang mereka sampirkan pada bahu tampak berkilauan seperti sayap untuk terbang. Para dayang itu masih keturunan bangsawan sahabat raja. Mereka tengah menghadiri sayembara memperebutkan Putri Indumati.” (mirip kontes miss-miss an di era kita)

Suasana sebagaimana diungkapkan pada kalimat di atas, ditulis oleh Mpu Monaguna, pujangga dari Kadiri pada abad ke-13 M lewat karyanya Kakawin Sumanasāntaka. Dari gambaran singkat itu terbayang bagaimana pakaian orang-orang pada masa lalu. Selain dari karya sastra, informasi itu juga muncul dalam relief candi dan prasasti. (Putri R. h., 2018).

Dari temuan-temuan di atas, jelas belum ada kata “Batik”, bahkan belum ada uraian yang menyebutkan kain seperti wujud batik sebagaimana yang kita kenal saat ini.

Kelihatannya kita bangsa Indonesia harus lebih serius mempelajari asal-usul batik.

Kita lanjutkan pembahasan kita edisi bulan depan.

Prasasti Wilwatikta

***

Tinggalkan komentar

“Hock Joe” dan “Balotelli” pada Pasar Kain Suiting

(Adi Kusrianto)

Apa Hock Joe, Apa Balotelli, apa pula kain Suiting?

Kain Suiting adalah kain untuk bahan celana, jas, blazer maupun rok bawahan, secara definitip Suiting adalah kain yang memiliki berat di atas 30 gram per inchi persegi. Intinya kain yang tergolong berat sampai berat sekali.

Sedangkan Hock Joe maupun Balotelli adalah merk dagang kain suiting. Kalau Balotelli banyak ditawarkan di pasar kain Indonesia, sedangkan Hock Joe kelihatannya tidak dijual di pasar Indonesia walaupun keduanya di produksi “juga” di Indonesia. Lho kenapa juga nya diberi tanda petik? Karena selain di Indonesia juga diproduksi di negara lain.

Nah, kalau masih bingung mari saya ceritakan.

Awalnya seorang mahasiswi yang mau maju skripsi bertanya, “Pak apakah kain Balotelli itu? Tapi saya gak boleh ambil referensi dari web site, oleh karenanya saya pilih bertanya pada Pak Adi”. (maksudnya ambil kutipan sumber yang dicari dari google). Wah, bingung juga, sekarang ini apa sih yang gak di masukkan ke google?

“Lho kamu kan sudah punya bukunya Pak Adi Pengetahuan Bahan Tekstil yang kamu pakai di semester 1. Lihat saja disitu saya sudah uraikan, dan itu bukan dari google”.

“Sudah pak, disitu Bapak tulis kalau Balotelli itu kain berbahan katun, ternyata waktu saya beli bahannya bukan katun”.

Dari situlah akhirnya saya melakukan tracing (walaupun tidak tertular Covid-19). Dan saya tuangkan hasil hasil tracing saya untuk menjawab pertanyaan si mahasiswa yang mau skripsi.

Caritanya mundur 4 tahun yang lalu. Pada suatu hari, saya menerima sekumpulan sampel-sampel kain suiting yang di produksi oleh PT. Trisula Tekstil di Cimahi untuk buku saya Pengatahuan Bahan Tekstil jilid 3. Pabrik itu terkenal dengan produknya kain suiting dengan merk Caterina sampai Bellini.

Ada satu seri kain yang tampilannya mirip berbahan wool tetapi sebetulnya bahannya 100% polyester. Walaupun itu bukan produk “termewah” yang saya sukai dari seri produk-produk Trisulatex, namun saya suka efek wool serta koleksi warna-warnanya yang terkesan macho. Tidak lama dari itu saya berkesempatan mengunjungi pabrik tersebut bersama rombongan mahasiswa. Lalu saya menyampaikan keinginan tahu saya mengenai Hock Joe ini. Dimana bisa dibeli secara eceran?

“Oh, itu produk yang 100% di export pak” jawab bu Aryanti. Ini pesanan sebuah perusahaan agency di Singapore untuk di edarkan ke pasar Eopa.

“Oh, pantesan” batin saya. Jadi sebuah perusahaan wholeseller, bisa memesan suatu kain dengan bahan dan konstruksi tertentu ke suatu pabrik. Bebekal deskripsi produk yang di tetapkan itu keluarlah output produk kain yang kemudian di labeli dengan brand tertentu. Misalnya pada kasus ini adalah mek Hock Joe (image antara Asia dan Amerika). Ingat konsumen Eropa juga menganggap produk Asia itu juga merupakan produk yang eksotis. Sebagaimana orang kita yang suka menilai brand yang terkesan Itali atau Prancis selalu lebih eksotis dibanding merk berbau asli Indonesia.

Nah, disitu akhirnya cerita sampai ke merk Balotelli yang terkesan Itali. Ceritanya tidak jauh berbeda dengan Hock Joe yang ber edar di Eropa.

Awalnya di pasaran Indonesia yang muncul dan populer 15 tahun yang lalu adalah merk Katun Balotelli (bukan Balotelli Cotton). Awalnya Balotelli yang memiliki ciri kain dengan motif anyaman tenun dengan motif spesifik ini sangat disukai. Sebagaimana produk berbahan katun 100% biasanya berharga lebih mahal dibanding yang campuran Polyester Katun maupun 100% Polyester.

Nah, disinilah akibat dinamika pasar, dimana kain termasuk jenis produk yang price sensitif dimana pedagang lebih memilih harga murah tapi laku banyak dibanding kualitas tinggi harga tinggi tapi laku sedikit.

Akhirnya di pasar muncul tiga grade Balotelli, dimana grade kedua dan ketiga dibuat darti poly cotton dan 100% polyester. Nama Katun Balotelli kemudian tinggal Balotelli saja sebutannya, walaupun image konsumen masih menganggap bahwa Balotelli adalah berbahan katun.

Saya jadi teringat pengalaman di tahun 1990, saat saya pertama kali meng eksport produk saya Polyester Single Georgette embroidery. Ada sebuah agency di Singapore bernama Deepa Enterprice yang selalu memesan produk kami, dimana agen ini secara spesifik mengirimkan kartu disainnya untuk kami gunakan memproduksi pesanannya itu. Dengan cara ini produk dan disain yang kami bikin persis sebagaiman standar yang diinginkan. Si konsumen ini minta kami menempelkan brandnya pada setiap roll, sedangkan kami tidak diperkenankan menempel brand kami sendiri.

Nah dengan demikian si konsumen ini bisa bebas memberikan order ke pabrik mana saja asalkan mampu membuat produk dengan kualiatas yang sama tetapi dengah harga dan delivery yang diinginkan.

Nah, saya berharap cerita dibalik brand ini dapat menambah wawasan kita, bahwa brand bukan segala-galanya. Ketahuilah cara mengenali kualiatas tekstil dari mengenali konstruksi dan bahan baku produknya. Bukan sekedar nama merk.

***

Tinggalkan komentar

Penelusuran Asal Mula Batik Part 1

PENELUSURAN ASAL BATIK DENGAN MENGHUBUNGKAN BENANG MERAH ANTARA CATATAN SEJARAH, DONGENG PANJI DAN LEGENDA DAERAH – catatan 1

Mengenal Kosa kata Batik

oleh

Adi Kusrianto

(Pengamat/ kurator batik/ penulis buku batik/bukan perajin batik/Bukan anggota Asosiasi Batik)

Dimulai dengan memahami kata batik, apakah kosa kata ini adalah kata yang khas dari suku Jawa yang berlaku dalam bahasa Jawa. G.P. Rouffaer dan Dr. H.H. Juynboll mencoba melakukan studi untuk mencari kata batik ini pada suku-suku di sekitar pulau Jawa, hingga suku Dayak, Toraja hingga ke Filipina, Pulau Fiji, kemudian ke Malaya.

Kesimpulannya kosa kata batik dan ambatik adalah berasal dari bahasa Jawa Ngoko, dimana batik (sebagai kata benda) dan ambatik (sebagai kata kerja).

Sedangkan dalam bahasa Jawa Kromo, batik disebut serat, dan ambatik nyerat.

Serat artinya tulisan, sedangkan nyerat artinya menulis.

Dengan demikian batik (serat atau seratan) maksudnya adalah sebuah pola diatas kain yang pembuatannya dengan dituliskan (nyerat).

Kata Batik dan Ambatik diperoleh dua orang penulis diatas dari BABAD SENGKALA Codex 665 dari Legaat-Van der Tuuk di Perpustakaan Universitas Leiden, Legatum Warnerianum, hal. 16. (Kronologis Jawa dari paruh ke-2 abad ke-18, (1673 – 1748[1]). Demikian disimpulkan pada laporannya paling awal.

Catatan Adi Kusrianto, Babad Sengkala juga terdapat di Perpustakaan Universitas Indonesia, Jakarta.

Informasi tersebut jika kita kaitkan dengan manuscrip Jawa Babad Sangkala (1673) dan serat Panji Jayalengkara (1770), pada kedua naskah tersebut diketemukan kata ambatik (Indonesia – membatik) sebagai kata kerja dari Batik. Maka dari riset G.P Rouffear yang menyebutkan temuan Grinsing pada abad ke-12 di Kediri dan manuscrip naskah Panji Jayalengkara (dongeng Panji) pada masa kejayaan Kediri terjalin kecocokan.

Dalam penulisan pada aksara latin, kata Ambatik kadang ditulis Hambatik, karena dalam aksara Jawa tidak ada huruf “A”, yang ada “Ho” menjadi “Ha”, oleh karenanya secara transliterasi bisa saja terjadi kerancuan antara AMBATIK menjadi HAMBATIK. (Adi Kusrianto – WA 0816 545 7187).

***


[1] Dimaksudkan bahwa Babad Sengkala diperkirakan ditulis pada era 1673 – 1748. Sedangkan isi yang diceritakan bisa jadi pada abad-abad sebelumnya.

(Bersambung)

1 Komentar

Saya dan Tipografi

Saya Dan Tipografi/ Adi Kusrianto

Saya bukanlah seorang ahli tipografi. Sungguhpun saya sudah pernah menulis tiga buah buku tentang tipografi (2004, 2006, 2010), masing-masing diterbitkan oleh penerbit berskala nasional. Buku-buku itu dijual di toko-toko buku Gramedia dan toko buku besar lain di kota-kota besar Indonesia[1]. Beberapa kutipan dari buku tipografi itu sempat menarik pembaca untuk dimuat di blog-blog, tulisan ilmiah (skripsi) bahkan dijadikan bahan kuliah oleh beberapa dosen yang mengajar tentang desain grafis (mereka yang cerita sendiri lewat email dan comment di Facebook). Juga saya merasa bangga ketika seorang mahasiswi sebuah perguruan tinggi bergengsi mengangkat naskah saya menjadi bahan praktek pembuatan layout naskah bertopik Tipografi pada skripsinya (rupanya ia bercita-cita ingin menjadi ahli desain layout).

Tunggu dulu, saya bukannya hendak sekedar pamer dan menyombongkan pencapaian itu.

Saya ulangi lagi, bahwa saya merasa bukan seorang ahli tipografi. Tetapi saya sangat menyenangi menggambar huruf. Saya tertarik pada poster-poster dengan huruf yang indah dan keren. Dimasa muda sejak SMA hingga mahasiswa saya tergabung dalam kelompok dekorator, dan saya selalu kebagian tugas membuat huruf-huruf. Setelah dewasa, saya menjadi pengurus sebuah yayasan, ketuanya bilang saya adalah spesialis pembuat undangan (sialan!, ini sungguh penghinaan, padahal saya bisa berbuat lebih dari itu). Mengapa? Karena saya sangat menikmati ketika harus membuat sebuah dokumen yang menarik perhatian orang lain, tidak norak, tetapi merangsang orang untuk membacanya.

Entahlah, saya tidak tahu ilmunya. Tidak tahu teorinya, tetapi saya tertarik. Terlepas dari itu orang bilang tulisan (huruf-huruf) buatan saya bagus. Bisa saja menurut orang-orang itu saja yang memuji sebagai basa-basi, yang lalu lain kali ia minta tolong saya untuk dibuatkan, apa kek… mendesain undangan, sertifikat, dan yang paling sering membuat backdrop panggung. Oh ya, saya pernah dipercaya menulis ijazah akhir sebuah sekolah dengan tulisan tangan saya. Jumlahnya lebih dari 100 ijazah.

Kemudian saya tahu, bahwa ilmu tentang huruf ini namanya tipografi. Itu adik ipar saya yang bilang, kebetulan dia kuliah disebuah fakultas Publisistik (nama waktu itu) dan mendapat pelajaran tentang ilmu grafis dan percetakan. Disitulah istilah tipografi terselip.

Buku tentang tipografi pertama yang saya baca adalah Seri Penunjang Desktop Publishing, Pengantar Tipografi Prinsip Penyusunan Huruf tulisan Erry A Permana, Benny A; Hanafi terbitan Dinastindo Jakarta 1993. Secara tidak langsung buku inilah guru tipografi saya yang pertama.

Kesukaan saya pada tipografi dan tata layout sempat tertuang ketika saya mendapat kesempatan menyusun buku ajar tentang pelajaran Desktop Publishing menggunakan software bernama Ventura untuk bahan mengajar di Scomptec (School of Computer Technology di Jl. Kayun Surabaya). Itu terjadi tahun 1993, lalu disusul buku ajar Adobe PageMaker. Saya juga menjadi pemburu koleksi font. Sumber saya tentu saja High Tech Mall – THR Surabaya. Tahun 90an media penyimpan disket yang berkapasitas sangat kecil itu lah yang ada, dan harganya masih lumayan mahal. Saya harus beli hingga berpuluh-puluh keping sehingga membuat uang jajan saya terkuras. Bayangkan, kalau CorelDRAW versi 6 di tahun 1996an saja harus disimpan dalam 16 keping disket.

Saya masih merasa penasaran pada istilah-istilah pada tipografi, seperti apa arti Garamond, apa arti huruf Gothic itu?. Hal itu membuat saya menggali informasi dari buku-buku tipografi bikinan luar negeri yang saya beli dari Jakarta.

Tahun 2003 akhir setelah saya memutuskan keluar dari profesi sebagai ahli tekstil (kalau ini saya tidak sungkan dibilang ahli, karena saya memang kuliah di bidang tertekstilan dan pengalaman kerja total 26 tahun di bidang tekstil). Lalu total saya mengembangkan kebisaan saya menulis. Disitulah minat saya untuk menulis buku tentang Tipografi bisa saya realisir.

Ha, gara-garanya sederhana sekali. Saat itu buku saya tentang CorelDRAW 9 yang diterbitkan Andi Offset sampulnya menggunakan huruf-huruf yang norak banget..banget..nget, pol (mungkin istilahnya Marissa Haque “kamseupay”). Bagaimana buku saya bisa laku kalau buku tentang desain grafis tetapi perwajahannya tidak menggambarkan image tentang estetika grafis.

Kejengkelan saya saya sampaikan pada Mas Edi S. Mulyanta, yang saat itu menjadi editor saya di Penerbit Andi. Dan akibatnya sungguh diluar dugaan, saya malah diminta datang ke Yogya untuk memberikan pelatihan pada desainer pembuat sampul (dan bahkan sekitar 20an orang staff lain yang diikut sertakan dalam ruang training di lantai 2). Sehari sebelumnya saya bahkan diminta bicara di panggung terbuka di Gedung Wanita Yogya dimana saat itu sedang berlangsung Pameran Buku. Dibuatkan poster yang mempublikasikan event itu dan disebar luas-luas dikalangan pecinta buku dan mahasiswa Yogya.

Mati aku. Inikah hukuman buat orang yang sok tahu. Untung masih cukup waktu untuk mempersiapkan diri. Inilah ilmunya orang kepepet. Jurus langkah seribu. Bukan untuk menghindar, tetapi untuk menghadapi tantangan itu.

Hanya dengan waktu sekitar 2 minggu, saya mempersiapkan materi presentasi saya di Yogya. (Sampai sekarang masih tetap saya simpan karya presentasi bersejarah saya ini).

Penampilan di Gedung Wanita yang didampingi Mas Edi S. Mulyanta berlangsung sukses. Beberapa pertanyaan audience yang terdiri dari para mahasiswa yang kritis berhasil terjawab dengan baik dan memuaskan. Ada satu pertanyaan yang saya tidak bisa menjawab saat itu, apa nama font pada logo American Idol?. Saya bilang saya tidak tahu, karena itu font khusus yang dipesan untuk acara tersebut. Nama fontnya ya American Idol kalee. Hehh..ternyata jawaban ngawur itu benar. Font itu memang namanya “American Idol”.

Dan bisa ditebak, acara di ruang training Andi Offset juga berlangsung lancar. Dari situlah materi dan kumpulan informasi yang saya pelajari untuk menyampaikan presentasi di Yogya saya bukukan. Buku tipografi saya yang pertama berjudul “Tipografi Komputer untuk Desainer Grafis” diterbitkan Penerbit Andi bertahun pembuatan 2004. Buku ini bukan tergolong buku sukses, karena saya bukan dari kalangan kampus yang memiliki mahasiswa yang bisa disuruh membeli. Juga memiliki kesulitan tersendiri saat di display di toko buku. Masalahnya buku ini genre apa? Buku komputer bukan, buku ilmiah bukan. Jadi suka-suka penjaga toko buku mau didisplay di rak bagaian mana. Jadi kalau seseorang yang telah mendengar judulnya, lalu mencari di toko buku (tanpa bantuan komputer lho), dijamin susah. Disamping itu masih jarang orang yang interes pada topik tipografi (panganan opo kuwi…).

Buku ini mulai sampul hingga isi saya desain sendiri.

Tapi okelah, selama hampir 5 tahun buku yang dicetak 4000 eksemplar ini pada laporan penjualan tahun 2012 masih tersisa beberapa puluh eksemplar digudang Yogya. Jelas tidak mungkin cetak ulang. Itulah sebabnya saya menulis kembali informasi yang lebih uptodate berdasarkan ide buku pertama ini. Kali ini judulnya menjadi Pengantar Tipografi, diterbitkan Elex media Komputindo. Agar genrenya jelas, pada sub judul saya menambahkan “untuk pemakai CorelDRAW, InDesign, Illustrator dan Photoshop”. Tujuannya sudah jelas, agar penjaga toko buku mudah mengelompokkan buku ini di bagian rak buku komputer.

Pada buku ini saya turut membahas tentang 100 Font Terbaik sepanjang masa, disertai contoh typeface dan type familynya. Sungguh edisi yang semakin mengesankan bahwa penulisnya ngerti tipografi. Ini ibarat desertasi saya dibidang tipografi.

Syukurlah, buku ini lebih bisa diterima pembaca. Ukurannya memang bukan best seller, karena pemakai buku tipografi bukan masyarakat umum. Tetapi segmen tertentu saja. Buku inilah yang banyak dikutip, digunakan sebagai acuan materi kuliah. Saya pun bangga bahwa ternyata di perpustakaan kampus tempat saya mengajar (oh ya, sejak 2010 saya sudah jadi dosen lho. Bukan dosen biasa malah, tapi dosen luuaaar biasa dan berkuasa penuh he he he) ternyata buku ini juga ada, dan setelah saya buka di sampul belakang ternyata menurut catatan, buku ini sudah dipinjam beberapa kali. Not bad  lah.

Gambar : Buku saya Pengantar Tipografi dibuat layout untuk bahan Tugas Akhir oleh seorang mahasiswi UPH Jakarta. (hay.. ada apa dengan pak Leonardo Widya, begitu saya sebut namanya kok mahasiswi ini terus ngacir…)

Kembali ke tahun 2006. Buku tipografi saya yang kedua terbit, Judulnya “Huruf Display dengan Komputer dan Manual”, dengan sub judul: “pengenalan dan pemahaman terhadap citarasa bentuk dan penggunaan huruf pada desain grafis”. Buku ini lebih bersifat aplikatif, banyak memuat contoh-contoh komposisi huruf display. Buku ini menuangkan imajinasi saya dimasa muda ketika masih bergabung dalam kelompok dekorator, membuat huruf-huruf yang menonjol, menarik perhatian, yang artistik, elegan, memiliki kontras yang harmonis dan sebagainya.

Saya mendapatkan landasan teori dari banyak buku, tetapi yang paling berpengaruh adalah Robin Wiliam “Non Designer Design Book”, lalu juga ke-“nyenehan” desain-desain dari “Breaking the rules in Graphic Design” karya Supon Phornirunlit (orang Thailand yang tinggal di Amerika). Melalui buku ini saya sempat mengobral kekaguman saya pada desainer huruf favorit saya Roger Dean yang membuat logo group rock Inggris “Yess”. Karya-karyanya sangat mengilhami banyak orang. Termasuk James Cameron ketika membuat film Avatar, ia meminta Roger Dean menggambarkan bentuk hutan khayalan dan mengadopsi “floating jungle” karya Dean kedalam visualisasi film dahsyat tersebut.

Beberapa pembaca menulis e-mail kepada saya menyatakan bahwa buku saya ini membantu dia dalam berkarya dan mengilhami dalam merangkai huruf display. Tahun 2007 ada seorang dosen muda sebuah perguruan tinggi negeri, secara terus terang meminta konsultasi saat akan menyusun SAP untuk mata kuliah tipografi yang diampunya. Subhanallah, jadi saya ini dianggap orang pinter. Dosennya dosen dong (huss,..ngayal, jelas saja bukan, orang hanya nanya karena saya nulis buku, that’s all, itu konsekwensi logis).

Saya menulis lagi tentang tipografi dalam suatu bab di buku Pengantar Desain Komunikasi Visual yang diterbitkan Penerbit Andi. Bab ini saya ini mengangkat kebanggan saya pada sobat saya (teman kost waktu di Yasanpraja, belakang penjara Koblen). Donny Harimurti, saat itu berhasil mengkodingkan huruf Bali sehingga mendapat kode ANSII. (Sekarang Donny bahkan sudah mengkodingkan huruf Ha Na Ca Ra Ka Jawa).

Desain sampul Buku Desain Komunikasi Visual yang di rancangkan oleh Pak Indarsyah Prawiradirjo, kaprodi DKV ITB mbandung. Sampul ini menggunakan foto penyanyi country rock terkenal dari Bandung yang di foto oleh dosen fotografi ITB pak Andika. Wah bangga sekali dapat dukungan penuh dari para akademisi perguruan tinggi terkenal. Apalagi sebagian dari materi ajar mereka diberikan kepada saya untuk melengkapi buku ini. Ada dateri dari pak Indarsjah, mas Leonardo Widya (kaprodi di Cybermedia, Dosen DKV di Mercu Buana, Pelita Harapan dan Trisakti). Kata sambutannya dari Pak Baroto Tavip Indrojarwo, kaprodi DKV, Design Produk Industri ITS Surabaya.

Pada cetakan kedua sampul buku diubah menjadi seperti berikut. Ini desain bikinan saya sendiri seperti halnya dua buku Tipografi yang terdahulu desain sampul dan isinya saya buat sendiri.

Selain itu saya juga menulis buku “Membuat Efek Teks menggunakan CorelDRAW dan Photoshop” (2003) dan “Photoshop Text Effect Next Generation” (2009). Keduanya diterbitkan Elex Media Komputindo, saya tulis bersama partner kerja saya Nurcahyo Bambang Widodo.

Dari segi komersial, topik tentang tipografi bukan tergolong tambang uang. Isteri saya selalu merengut kalau tahu saya menulis tipografi, karena dipastikan royaltinya nggak banyak. Tetapi saya tidak juga jera. Dengan memohon pengertian isteri saya, saya masih berniat menulis kembali topik tentang tipografi.

Biarin, walaupun bukan ahli tipografi, saya akan tetap membantu orang yang kepingin tahu tentang tipografi. Saya ingat betapa hausnya saya pada ilmu pengetahuan tentang huruf ini ketika saya masih muda dulu, dan sulitnya mencari guru yang bisa menginformasikan tentang ilmu tipografi. Sampaikanlah, walaupun hanya satu ayat.

***


[1] Dua buku tipografi saya di toko buku memiliki live cycle antara 2004 hingga 2009, sedang buku ketiga saya yang terbit tahun 2010 hingga tahun 2012 ini masih ada di beberapa toko buku besar. Setidaknya Gramedia online masih mendisplay sampul buku saya.