Tinggalkan komentar

The Heirloom of Indonesian Textile/ Kain yang di keramatkan sebagai Pusaka di Negeri kita

Adi Kusrianto

Pada tulisan Ruth Barnes yang berjudul “Five Centuries of Indonesian Textiles” ada satu alinea yang saya petik. Disitu Ruth yang seorang kurator museum dan tergila-gila mendalami tekstil Nusantara menuliskan begini.

“Pada pertengahan dasawarsa 1990an, telah dilakukan penyelidikan terhadap sampel-sampel kain Nusantara yang di pada masa lalu asalnya di beli dari pedagang Gujarat, India. Analisa itu dilakukan menggunakan radiocarbon (C-14). Seluruh kain yang dijadikan sampel percobaan itu adalah kain berbahan katun yang diasumsikan dan dipelihara dengan hati-hati sebagai barang pusaka (heirloom)

Diperoleh Fakta yang mengejutkan, bahwa ternyata dari usia kain berdasarkan penyelidikan itu telah berusia enam ratusan tahun. Kalau penyelidikan dilakukan tahun 1995, maka berarti kain itu dibuat pada tahun 1395 (Masyaallah). Selain itu yang lebih mengejutkan bahwa kebanyakan kain-kain itu adalah berupa kain yang dihasilkan dengan teknik wooden stamp alias kain yang di cetak menggunakan stempel kayu.

Kebetulan saya telah agak beberapa lama mempelajari dari sumber lain, bahwa apa yang dilaporkan dari riset tersebut adalah kain Chintz. Ketika masuk ke tanah Jawa, namanya diubah menjadi berbahasa Jawa, “Cinde”. Ya, kain cinde. Itulah yang rupanya dijadikan obyek Study Ruth barnes.

Mengapa masih banyak kain Chintz yang masih ditemukan pada dasawarsa 1990an? Pertama, kain itu terbuat dari serat kapas. Serat kapas yang disebut sebagai rajanya serat tekstil memang memiliki kekuatan yang paling baik (lebih kuat) dibanding serat tekstil alam lainnya. Yang kedua, sebagaimana tim yang diikuti Ruth Barnes ketika mengambil sampel kain lama itu, adalah kain-kain pusaka atau bahasa Inggrisnya heirloom. Kain pusaka adalah kain yang bukan dipakai sebagai busana sehari-hari atau sering dipakai (mungkin hanya jarang, sekali-sekali, misalnya kain yang dipakai saat pernikahan saja, habis itu disimpan sebagai memorabilia).

Bentuk pusaka yang lain yang disebutkan disini adalah kain-kain yang diskralkan, oleh karenanya dia dipelihara dengan cara yang sangat khusus. Inggat nggak, ada tradisi pusaka-pusaka kerajaan Nusantara sekali setahun pada bulan Suro itu di “sucikan”, “dimandikan”, yang dalam istilah lain kain itu di ratus, yaitu diasapi dengan dupa ratus. Kalau zaman sekarang sih Pak Prima yang ahli ngratus batik menyebutnya kain batik di Spa. Biar keren.

Kembali ke teknik menghias kain (mendisain kain) secara teknik dapat saya sebutkan ada dua cara, yang pertama dengan cara Struktural Design. Yaitu desain/hiasan kain itu dibuat saat menenun kain. Caranya mewarnai benang berbeda-beda selang seling sebagai contoh tenun lurik, atau membuat hiasan atau pola dengan cara mengikat benang agar diperoleh efek perintang warna. Yaitu yang dikenal dengan istilah tenun ikat. Di Gujarat tenun ikat ganda yang terkenal adalah PATOLA. Ada juga tenun ikat lain diluar jenis Patola. Nanti, saya akan bahas pada tulisan lain yaaa.

Nah teknik mendesain lainnya disebut Surface Design, yaitu kain yang didesain setelah kain itu selesai di tenun. Salah satu contohnya adalah kain Chint yang di stempel dengan pewarna tekstil. Contoh lain diantaranya adalah Batik.

Itulah yang hingga sekarang masih merupakan polemik. Apakah pakaian-pakaian yang dikenakan dewa-dewa/ raja-raja/ tokoh pada relief candi-candi itu adalah kain batik? Contohnya pada patung Prajdnaparamita, patung Durga dan tokoh lain di Candi Singosari itu adalah motif Batik?. Awalnya saya mengira itu batik, tetapi setelah belajar lebih lanjut saya berpikir saat itu pembatik belum ada yang secanggih itu dalam menggoreskan canting, membentuk motif-motif dengan bentuk dan repeat yang seperti itu. Besar kemungkinan para dewa itu mengenakan kain katun yang distempel alias kain Chitz yang memang tergolong kain sakral di zaman itu. Batik baru berkembang dizaman atau era setelah itu.

Saya akan membahas lebih lanjut kecenderungan itu pada tulisan yang lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: