Tinggalkan komentar

Asal Usul Batik Klasik di Jawa Timur

Adi Kusrianto
(kutipan dari buku “Memberantas Buta Batik di negeri Batik”)

Sebelum mengenal kain yang di era kita di sebut Batik, raja-raja di Jawa Timur menggunakan bahan busana dari kain impor yang diperoleh dari pedagang luar negeri (China dan India). Mereka tidak mensakralkan kain-kain impor tadi karena kain-kain tersebut tidak dibuat berdasarkan kemauan mereka. Atau setidaknya motif maupun proses pembuatannya tidak melibatkan mereka secara emosianal maupun menuangkan karsa mereka atas “isi” bahan busana itu.

Semenjak dikenalnya teknik membatik, yang dilakukan oleh para abdidalem, maka para raja memesankan apa yang menjadi “karsa” (selera, filsafat) itu ke dalam kain yang di disain itu. Dari proses itulah ter wakili idealisasi budaya raja atau kraton ke dalam motif batik. Dan semenjak itu pulalah kain batik mendapatkan cap sebagai busana aristokrat Jawa.

“Ornamen yang di bawa ke dalam motif kain di Jawa sesungguhnya bukan karya ciptaan baru sama sekali, melainkan memindahkan ornamen-ornamen yang diambil dari seni ukir maupun seni sungging (seni lukis seperti pada wayang) yang telah ada sebelumnya.”

Ketika dibawa ke dalam corak kain, ornamen-ornamen tadi dibuat dengan lebih teliti, detil serta dengan sentuhan tangan kaum bangsawan kraton. Apa yang diistilahkan sebagai Batik Kraton, Batik Aristokrat, Batik Raja sesungguhnya adalah karya seni batik yang halus yang di lukis menggunakan goresan canting. Istilah Batik (ambatik) itu baru muncul pada era kerjaan Mataram Islam, dimana disitu mulai digunakan bahasa Jawa modern. Pada tatanan bahasa jawa Modern dikenal boso Jawa ngoko dan basa Jawa Krama.

Sebagaimana seni yang lain pada jaman itu, para seniman, baik itu seniman yang menuangkan karyanya pada logam (keris, tombak, perhiasan) pada tembikar (perabot untuk rumah tangga keraton), kayu (ukir), kulit (wayang, mahkota, aksoseris ) hingga kain batik, seniman melakukan dengan (semacam) pressure yang datang dari dalam dirinya sendiri. “Tekanan” itu diantaranya berupa rasa hormat, ke seganan, kepatuhan yang sangat tinggi dihadapan raja. Merasa bahwa dirinya bukanlah apa-apa sedangkan raja adalah agung, tinggi, terhormat diatas segala-galanya (diluar konsep agama). Oleh karenanya pada diri seniman muncul suatu kekuatan atau spirit yang terjadi diluar kemampuan kehidupan normalnya. Oleh karenanya sebelum memulai karyanya para seniman sering melakukan ritual berpuasa yang bermacam-macam. Puasa pantang makan minum, puasa mutih (hanya makan nasi tanpa garam dan perasa lain), hingga puasa tidak berbicara (sebagai manifestasi dari konsentrasi yang dicurahkan pada proyek pekerjaan yang sedang dilakukan). Hasil dari produk budaya semacam itu adalah cerminan dari kehalusan budi dari kaum aristokrat. Anggapan bahwa raja berbudi halus, luhur, patut diteladani.

Bagi rakyat (diluar keluarga raja), seni batik kemudian dijadikan sebagai model budaya untuk mengagungkan rasa hormat kepada kaum aristokrat, sebagai simbol produk budaya yang prima, halus bahkan sebagai kultur “dewaraja”. Jika sebelumnya rakyat yang membuat batik sebagai perintang waktu, sebagai upaya pemenuhan kebutuhan sandang, kemudian bergeser pandangannya bahwa batik adalah produk budaya istana. Yang bagus adalah batik seperti yang dibuat untuk raja. Fungsinya tergeser dari kepentingan rakyat menjadi kepentingan raja, dengan tujuan untuk memperkuat kedudukan raja.  .

Motif-motif batik klasik mengandung beberapa arti dan dipandang cukup berarti bagi sebagian orang Jawa. Ornamen batik klasik mampu melahirkan citarasa keindahan. Indah dalam arti mampu memadukan tata warna serta susunan bentuk ornamennya sehingga harmonis. Didalamnya harus mampu memberikan keindahan jiwa, sehingga memberikan gambaran yang utuh sesuai paham kehidupan yang dianutnya.

Batik Klasik memuat pandangan falsafah orang Jawa yang memberi arti simbolik secara kosmologi tentang adanya dunia bawah dan dunia atas yang sering dipadukan menjadi dunia tengah atau dwitunggal. Sikap menggabungkan  dua menjadi satu seperti itu pada masyarakat Jawa disebut Sinkretisme.  (Geertz, 1976 (first published 1960))

Gambar No  12 : Di Candi Arimbi (Ngrimbi) terdapat Patung Raden Wijaya yang pakaiannya patut diduga itu adalah batik.

Mengutip thesisnya, Drs. Hasanuddin, MSn yang menulis bahwa, temuan arkeologi berupa arca di dalam Candi Arimbi (didukuh Ngrimbi desa Pulosari, kecamatan Bareng,Kabupaten Jombang) menggambarkan sosok Raden Wijaya, raja pertama Majapahit  yang memerintah antara 1294-1309, yang memakai kain dengan ragam hias berbentuk kawung (baca catatan dibawah) (Van der Hoop, 1949). Bisa saja ragam hias pada kain itu dibuaat dengan teknik lukis, prada, tenun songket, ataupun batik. Tetapi bila diamati secara lebih teliti, yaitu dengan membandingkan rincian pada bentuk perhiasan manik-manik dan urat daun teratai, maka bobot arca tersebut sangat rinci, halus dan teliti. Ketelitian dalam menggambarkan garis dan titik menjadi indikasi teknik yang dipakai saat membuat kain itu. Garis lembut sejajar sebagai batas bentuk elips kawung mengingatkan pada garis sejajar yang dihasilkan oleh canting carat loro (canting dengan dua buah cucuk) pada teknik membatik. Sedangkan susunan titik yang runtut hampir berdekatan hanya mungkin dihasilkan oleh canting cecek siji yang biasa digunakan untuk membuat isenisen cecek (titik). Jadi dapat disimpulkan bahwa teknik hias pada kain tersebut bukan tritik, plangi, ataupun dengan ikat. Dengan teknik tenun songket sulit menghasilkan garis lembut sejajar, apalagi titik yang hampir bersinggungan. Yang paling mungkin adalah teknik lukis, prada, atau batik. Sementara teknik lukis dan prada kurang lazim dipakai untuk pakaian, apalagi pakaian raja. Alasannya karena lukisan atau prada cepat rontok, akibat dari ramuan cat alam yang kurang bisa bertahan lama. Sedangkan teknik batik bisa bertahan lama. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kain yang dipakai Raden Wijaya seperti yang nampak pada arca di Candi Ngrimbi adalah batik.

Catatan : Aline terakhir ini pernah dimuat pada buku saya “Batik, Filosofi, Motif dan Kegunaannya”.

Penggunaan Istilah Kawung untuk menyebut Motif Simbol Mandala.

Motif Kawung, diciptakan oleh Sultan Agung Hanyokrokusuma yang masa hidupnya antara tahun antara tahun 1613 sampai 1645. Artinya sebelum periode itu belum ada sebutan Kawung. Hanya karena begitu populernya istilah Kawung, maka para pengamat batik, para penulis menggunakan istilah kawung untuk menyebut bentuk simbol mandala yang sebenarnya dalam istilah Jawa disebut Tapak Dara. Dari penyebutan ini akhirnya terbawa ketika bangsa asing mewawancarai para ahli batik sehingga sebutan istilah atau nama motif batik digunakan pada motif-motof kuno sebelum kelahiran istilah batik ada.

Pembahasan lain mengenai ini silahkan baca pada topik Batik Kediren.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: